Ekonomi

TW I 2018, Ekonomi Sulteng Tumbuh 6,62 Persen

BPS-1

Foto Humas BPS Sulteng

PALU, Kabar Selebes – Perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah triwulan I-2018 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp34,92 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp24,63 triliun.

“Ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah triwulan I-2018 tumbuh 6,62 persen lebih cepat dibanding triwulan I-2017 (y-on-y) sebesar 3,97 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 15,43 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen Impor sebesar 342,86 persen,” kata Kepala BPS Provinsi Sulawesi Tengah Faizal Anwar pada konferensi pers, Senin, 7 Mei 2018 di Kantor BPS Sulteng.

Ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah triwulan I-2018 mengalami pertumbuhan negatif (kontraksi) 2,30 persen bila dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q). Dari sisi produksi, kontraksi terbesar terjadi pada lapangan usaha Konstruksi sebesar 5,44 persen. Sedangkan, dari sisi pengeluaran, kontraksi terbesar terjadi pada komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 13,63 persen.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) triwulan I-2018 tumbuh sebesar 10,16 persen (y-on-y) dengan pertumbuhan tertinggi di Provinsi Papua yang tumbuh 28,93 persen.

BACA JUGA :  Membanggakan, Film Anak Poso Diputar di Australia

ITK Sulawesi Tengah pada triwulan I – 2018 tercatat sebesar 100,83. Artinya, kinerja ekonomi Sulawesi Tengah menurut persepsi konsumen pada triwulan I – 2018 mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan IV – 2017.

Peningkatan ekonomi konsumen pada triwulan I – 2018 ini terutama didorong oleh komponen indeks pengaruh inflasi terhadap konsumsi yang sebesar 107,78 dan indeks volume konsumsi yang sebesar 101,00. Sementara itu, dari sisi pendapatan rumah tangga justru mengalami penurunan dengan nilai indeks yang sebesar 97,06.

Perekonomian konsumen Sulawesi Tengah pada triwulan II – 2018 diperkirakan akan tetap optimis dengan perkiraan nilai ITK sebesar 113,25.

Seluruh provinsi di kawasan Sulampua pada triwulan II – 2018 juga diperkirakan akan memiliki nilai ITK di atas 100 yang berarti perekonomian konsumen di Sulampua diperkirakan akan meningkat dibandingkan triwulan I – 2018.

Pembangunan manusia di Sulawesi Tengah terus mengalami kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada tahun 2017, IPM Sulawesi Tengah mencapai 68,11. Angka ini meningkat sebesar 0,64 poin dari tahun 2016 yang sebesar 67,47.

BACA JUGA :  Selundupkan Sabu 1,46 Ons ke Tolitoli, Dua Wanita Asal Tarakan Ditangkap Polisi 

Pada tahun 2017, pembangunan manusia di Sulawesi Tengah berstatus “sedang”, masih sama dengan status pada tahun 2016. Nilai IPM Sulawesi Tengah pada tahun 2017 ini tumbuh sebesar 0,95 persen dibandingkan tahun 2016.

Peningkatan IPM tahun 2017 didukung oleh seluruh komponen pembentuk IPM yang mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2016. Bayi yang baru lahir memiliki peluang untuk hidup hingga usia 67,32 tahun, meningkat 0,01 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Anak-anak usia 7 tahun memiliki peluang untuk bersekolah selama 13,04 tahun, meningkat 0,12 tahun dibandingkan pada tahun 2016. Sementara itu, penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 8,29 tahun, meningkat 0,17 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Pengeluaran per kapita disesuaikan telah mencapai Rp9,31 juta pada tahun 2017, meningkat Rp277 ribu rupiah dibandingkan tahun sebelumnya.

Angkatan kerja pada Februari 2018 sebanyak 1.570.386 orang, bertambah 141.083 orang dibanding angkatan kerja Agustus 2017 sebanyak 1.428.583 dan bertambah sebanyak 13.287 orang dibanding keadaan Februari 2017. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2018 sebesar 3,19 persen.

BACA JUGA :  3 ABK Kapal Tenggelam di Morowali Ditemukan Selamat

Pada Februari 2018, sebesar 67,87 persen penduduk bekerja pada sektor informal, dan persentase pekerja informal naik 7,28 persen poin dibanding Februari 2017.

Selama setahun terakhir, Tiga sektor terbesar yang mengalami peningkatan persentase penduduk bekerja adalah Industri pengolahan (2,75 persen poin), Jasa lainnya (0,66 persen poin) dan Admiistrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib (0,49 persen poin).

Pada Februari 2018, terdapat 36,42 persen penduduk bekerja tidak penuh (jam kerja kurang dari 35 jam seminggu) mencakup 8,92 persen setengah penganggur dan 27,50 persen pekerja paruh waktu.

Pada Februari 2018, penduduk bekerja pada jenjang pendidikan SD ke bawah masih tetap mendominasi yaitu sebanyak 672.332 orang (44,22 persen). Sedangkan terendah adalah pekerja dengan pendidikan Diploma yaitu sebesar 2,20 persen.(*/ptr)

Silakan komentar Anda Disini....

Most Popular

To Top
%d blogger menyukai ini:
Read previous post:
Hendrik Lyanto Sambangi Pasar Sentral Poso

PALU,...

Prof Zainal :  Manfaatkan Ramadhan Untuk Silaturahim

JAKARTA, ...

NasDem Tolitoli Laporkan Tindakan Sepihak Panwas

TOLITOLI,...

Close