Sulawesi Tengah

Memprihatinkan, Warga Desa Kuku Poso Belum Nikmati Listrik

POSO, Kabar Selebes – Seorang warga Desa Kuku, Kecamatan Pamona Utara, Karunia Pedawana (60) hingga saat ini hidup tanpa aliran lampu listrik.

Karunia Pedawana bersama keluarganya hidup tanpa listrik sudah lama sejak lima puluh tahun silam, kondisi ini pun sangat memprihatinkan dan tak wajar.

Ironisnya jika wilayah Desa Kuku yang ditempati Karunia sendiri diapit dengan dua perusahaan listrik yang besar yakni Pembangkit Listrik Tenaga Mikro (PLTM) PT Arkora Indonesia dan PLTA Poso yang sudah beroperasi sejak lama dengan memiliki kekuatan mega watt besar.

Kepada media, Karunia Pedawana menyampaikan, sejak berdiri rumahnya 50 tahun silam di desa Kuku hingga saat ini, belum ada bantuan listrik dari pihak manapun.

Padahal keluarga yang pekerjaan sebagai petani ini, sangat membutuhkan listrik untuk menerangi rumahnya, agar ketiga anaknya yang sekolah bisa dapat belajar dengan mendapat penerangan lampu yang baik.

BACA JUGA :  Lagi, Lombok Diguncang Gempa 7,0 SR

Menurut Karunia, dirinya beberapa kali di data oleh sejumlah orang, yang mengatakan akan menerima bantuan listrik, namun sampai saat ini tidak ada bantuan yang jelas.

Karunia mengaku sudah lama menginginkan memiliki listrik. Tapi dia tak punya cukup uang biaya pemasangannya. Walaupun terdaftar sebagai rakyat miskin, Karunia juga tak kunjung menerima bantuan listrik gratis dari pemerintah.

“Sudah beberapa kali saya di data untuk mendapatkan listrik gratis, namun sampai saat ini, belum ada terwujud. Yah saya terpaksa hanya menunggu saja,” ucapnya.

Untuk menerangi rumah agar kedua anaknya dapat belajar, Karunia hanya menggunakan lampu lentera berbahan bakar minyak tanah.

“Dulu saya pernah menyambung kabel listrik dari tetangga. Namun karena terkendala isi pulsa listrik Rp.25 ribu dalam sebulan, terpaksa saya putus lagi,” jelasnya.

BACA JUGA :  ForBes Indonesia Ajak Generasi Muda Bangkit Pasca Bencana

Karunia memutus aliran listrik dari tetangga karena demi untuk mengurangi beban biaya hidupnya.

“Saya pak kalau tidak punya minyak tanah, rumah saya gelap, sampai ada uang baru membeli minyak tanah,” tuturnya baru-baru ini.

Mirisnya lagi, jika melihat kondisi rumah Karunia, hanyalah rumah bantuan Program Bedah Rumah. Dimana rumah dengan tembok setengah dan beratap seng.

Tak hanya itu keluarga Karunia ini pun masih tergolong sangat miskin. Karena rumah masih berlantai tanah dan hanya mempunyai empat buah kursi plastik dan satu meja denan hanya satu ruang kamar tidur.

Karunia Pedawana yang disapa Papa Yani ini hidup menduda yang istrinya telah meninggal 3 tahun lalu. Selama hidup Karunia mengurusi empat anak empat.

BACA JUGA :  PLN Tambah Kapasitas Trafo di Sulut dan Gorontalo

Untuk menambah biaya makan dan sekolah anak, selain bertani dirinya harus bekerja apapun asalkan halal dan mendapatkan uang.

Salah satu warga Pamona, Josua Heri mengatakan, apa yang terjadi kepada keluarga Karunia Pedawana sungguh hal yang tidak masuk akal.

Menurutnya, kondisi zaman yang sudah serba bisa, namun masih ada saja warga Poso yang tidak bisa menikmati listrik.

Keluarga miskin ini pun berharap, agar suatu saat ada bantuan listrik dari pemerintah dan bisa mendapat pekerjaan yang layak guna membiayai hidup keluarganya. (Ryan Gode)

Silakan komentar Anda Disini....

Most Popular

To Top
%d blogger menyukai ini:
Read previous post:
Lima Hektar Hutan di Desa Sese Tolitoli Terbakar Berhasil Dipadamkan

TOLITOLI,...

Pilpres 2019, Hipmi di Antara Dua Pilihan

PALU,...

Dolar Naik, Peluang Bagi Eksportir Komoditi Unggulan

PALU,...

Close