Nasional

Kerap Jadi Korban Hoax, Jokowi Ingatkan Standar Moralitas

Simpatisan Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) menggelar poster kampanye anti Hoax dalam aksi deklarasi Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 Damai di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (25/3). Aksi ini dilakukan dengan tujuan untuk mendukung Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 yang damai dengan menolak segala kampanye hitam, ujaran kebencian serta informasi hoax yang dapat memperkeruh suasana dan menimbulkan perpecahan antar sesama warga masyarakat (AKURAT.CO/Sopian)

KabarSelebes.id – Presiden Joko Widodo menilai perkembangan teknologi informasi yang pesat belakangan ini tidak akan selalu bisa disikapi dengan regulasi. Oleh karena itu, standar moral yang tinggi, kata Presiden, harus dikedepankan.

Belakangan ini, persoalan hoax atau informasi bohong hingga ujaran kebencian menjadi masalah yang pelik di dunia sosial. Banyaknya bertebaran ujaran kebencian terutama di tahun politik menjadi sorotan, termasuk dari Presiden Jokowi.

Mantan Gubernur DKI itu juga tak ayal menjadi salah satu pihak yang sering menjadi sasaran hoax dan ujaran kebencian.

“Ya bersama-sama kita harus menyebarkan mengenai yang mestinya tanggung jawab kita dalam menggunakan medsos (media sosial). Jangan sampai karena adanya teknologi baru masuk, ada keterbukaan yang diperbolehkan, tapi karena moralitas kita yang tidak baik, digunakan untuk ujaran kebencian, fitnah, hoax yang marak sekarang ini,” kata Presiden Jokowi di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis, 1 November 2018.

Jokowi menyadari memang tidak hanya di Indonesia hal seperti ini terjadi. Di beberapa negara, fenomena hoax juga terjadi, bahkan marak pada tahun politik.

Sementara dalam banyak kesempatan, mantan Wali Kota Solo itu selalu memberi klarifikasi soal tuduhan-tuduhan mengenai dirinya yang beredar di media sosial. Seperti fitnah bahwa ia seorang kader PKI hingga dihubungkan dengan foto seseorang yang berada di dekat Ketua CC PKI DN Aidit saat berpidato tahun 1955.

Dalam kesempatan itu, Jokowi mengingatkan bahwa PKI dibubarkan tahun 1965-1966. Sementara dirinya baru lahir tahun 1961. Foto Aidit berpidato diambil tahun 1955 dan bahkan saat itu dia belum lahir.

“Oleh sebab itu, sekali lagi harus ada standar moralitas yang lebih tinggi dari sebelum zaman keterbukaan ini ada. Kalau dahulu katakanlah standarnya 6, ya sekarang harus 8,” kata Jokowi. (ase)

Sumber : viva.co.id

Silakan komentar Anda Disini....

Most Popular

To Top
%d blogger menyukai ini:
Read previous post:
Bencana Sulteng, Asuransi Wana Artha Menunggu Arahan Direksi

PALU,...

Black Box Lion Air Ditemukan, Pencarian Korban Berlanjut

KabarSelebes.id...

BPS Sulteng Kehilangan Banyak Responden

PALU,...

Close