Palu

Tolak Bala, Ratusan Warga Palu Mandi Safar

Ratusan warga di Palu, Sulawesi Tengah melaksanakan mandi safar di pantai Jalan Malonda, Kelurahan Tipo Kecamatan Ulujadi, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (7/11/2018) siang. (KabarSelebes.id/Faiz Sengka

Palu, KabarSelebes.id – Sebanyak lima ratusan lebih warga melaksanakan “Mandi Safar” yang dipusatkan di pantai Jalan Malonda, Kelurahan Tipo Kecamatan Ulujadi, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (7/11/2018) siang. Mandi yang dilakukan rutin pada hari rabu terakhir di bulan Safar ini adalah untuk menolak bala atau menangkal segala bentuk kesialan yang akan menimpa kita.

Sebelum melakukan melakukan ritual “Mandi Safar”, ratusan warga yang dikomando oleh Majelis Dzikir Nurul Khairaat Pusat Palu melaksanakan dzikir, kemudian bersama-sama menuju pantai untuk melaksanakan mandi.

BACA JUGA :  Perbaiki Lampu Jalan, Warga Malala Tolitoli Tewas Tersengat Listrik

Mandi Safar merupakan tradisi budaya yang sudah ada sejak dulu. Tradisi ini yaitu mandi bercebur di Sungai Mentaya sebagai simbol membersihkan diri sekaligus harapan agar diri bersih dan terhindar dari hal-hal yang tidak baik.

Tradisi yang dilakukan oleh sebagian umat muslim ini, dipimpin oleh Al Habib Mohammad Sholeh Bin Abu Bakar AL Idrus. Ada 7 sampai delapan salamun atau doa yang dipanjatkan pada pelaksanaan mandi ini. Setelah berdoa bersama, warga kemudian beramai-ramai mandi bercebur di laut.

“Mandi safar ini, yaitu kita menghilangkan bala dan penyakit. Ini tradisi setiap hari rabu terakhir di bulan safar, kita mandi semuanya. Dari ujung gunung sebah selatan dan sebelah utara Kota Palu, bertemu di satu titik di Majelis Dzikir Al-Khairat Pusat Palu,” terang tokoh Agama Majelis Dzikir Al-Khairat, Ustad Husen Muhammad Saleh kepada wartawan.

BACA JUGA :  Bantu Korban Gempa Lombok, Konser Amal Musisi Palu Kumpul Lebih Rp2 Juta

Menurut Ustad Shaleh, Mandi yang rutin dilaksakan setiap tahun ini, bertujuan menghilangkan penyakit dan segala bentuk kesialan yang akan datang menimpa kita atas izin Allah Subhana Huwata Ala.

“Konon orang tua kita bilang, di hari rabu terakhir bulan safar ini, ada ribuan bala yang datang. Dan untuk menghilangkan bala itu kita mandi supaya tidak kena kita. Bala itu bukan cuman bala kena gempa, angin, tetapi juga tabrakan di jalan itu juga bala namanya. Kita keluar dari sini kita dilempar orang, itu juga bala,” tuturnya.

Mandi Safar ini, juga bisa dilakukan di rumah. Namun karena ingin mengumpulkan orang yang lebih banyak, Sehingga panitia pelaksana memusatkan kegiatan di laut.

BACA JUGA :  Tidak Kooperatif, Sepri Bupati Tolitoli diciduk Jaksa

“Yang paling bagus itu sebenarnya di laut, karena alami,” tandasnya.

Pantauan KabarSelebes.id, warga tampak antusias. Bukan hanya kalangan orang dewasa saja yang mengikuti tradisi mandi ini, namun para ibu-ibu juga membawa anak-anaknya.(Faiz)

Silakan komentar Anda Disini....

Most Popular

To Top
%d blogger menyukai ini:
Read previous post:
Diamankan Petugas Imigrasi Denpasar, Maria Ozawa: Saya Sangat Kecewa

DENPASAR,...

Maskapai Ryanair Pecat Awak Kabin yang Tidur di Lantai Bandara

KabarSelebes.id...

KPU Poso Minta Pemilih Pemula Tidak Golput pada Pemilu 2019

POSO,...

Close