‘Social Distancing’ Masih Diabaikan, Sosiolog: Kita akan Lebih Menderita

oleh -135 views
Foto: BBC News

JAKARTA, Kabar Selebes – Sosiolog sekaligus Dosen Universitas Indonesia (UI) Imam B. Prasodjo menyoroti sebagian masyarakat yang tidak menerapkan social distancing dalam aktivitas sehari-hari.

Imam mengatakan, dalam kondisi saat ini, masyarakat seharusnya menyadari bahwa penularan virus akan jauh lebih tinggi apabila masing-masing orang tidak menerapkan social distancing.

“Apakah harus terjadi dulu agar orang bisa sadar bahayanya?” ujar Imam dalam konferensi pers di Kantor BNPB, Jakarta, Jumat (20/3/2020) seperti dikabarkan Kompas.com.

“Negara lain sudah pernah. Dengan kasat mata memperlihatkan kepada kita kalau ini (social distancing) diabaikan, negeri ini kekuatannya tidak sebaik Korea Selatan atau Italia, maka kita akan menderitanya jauh lebih berat,” lanjut dia.

Oleh sebab itu, ia pun mengimbau masyarakat tidak ada salahnya untuk mulai mendisiplinkan diri menerapkan social distancing dalam aktivitas sehari-hari. Mulai dari bekerja dari rumah, belajar dari rumah, beribadah dari rumah serta menghindari acara yang melibatkan orang banyak. Apalagi bagi mereka yang mengalami sakit flu, batuk dan demam. Mereka juga harus memiliki pemahaman bahwa jangan sampai orang lain tertular oleh sakitnya.

“Pada saat yang sama, orang pilek, batuk, bersin itu juga harus menjaga teman-teman di lingkungannya. Dia harus bertanggung jawab. Jaraknya kira-kira 1,8 hingga 2 meter. Coba ya bayangkan kalau kita berada di kerumunan, dempet=dempetan, ada yang batuk langsung hujan lokal,” ujar Imam.

BACA JUGA :  Paskibraka Kota Palu Batal Tunaikan Tugasnya Dalam HUT RI Tahun Ini Akibat Covid-19

“Kalau diri kita tidak melakukan juga (social distancing) dan mewabah ke semua orang, apa yang terjadi jika pasar terjangkit banyak orang yang tidak mau melakukannya? Itu fatal,” lanjut dia.

Idealnya, setiap orang harus menjaga diri. Sebab, kita tidak mengetahui bagaimana kondisi sebenarnya dari orang-orang yang berada di sekitar kita.

Imam sekaligus mengingatkan bahwa social distancing bukan berarti tidak melakukan tindakan pertolongan apabila ada seseorang yang mengalami kecelakaan. Dalam kasus tersebut, Imam mengatakan, orang yang mengalami kecelakaan tetap harus mendapatkan pertolongan. Hanya saja, cara pertolongannya harus tepat agar meminimalisasi penularan penyakit.

“Bukan berarti dia tidak bisa kemendekat pada orang-orang sakit. Tetapi, jangan sembarang kita melakukan dekat tanpa mempertahankan diri. Kalau itu dilakukan juga kemungkinan dia bisa tertular,” kata dia.

Diketahui, Presiden Joko Widodo sudah menginstruksikan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk melakukan gerakan social distancing. Beberapa hal yang dilakukan adalah dengan menerapkan bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah untuk mencegah penyebaran virus corona lebih masif lagi. “Saatnya kita bekerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah,” ujar Jokowi dalam konferensi pers di Istana Bogor, Minggu (15/3/2020).

“Agar penyebarannya bisa kita hambat dan stop,” ujar Kepala Negara. Kasus pasien positif terjangkit virus corona di Indonesia sendiri per Jumat ini dilaporkan mencapai 369 orang. Sehari sebelumnya, jumlah pasien Covid-19 berjumlah 308 orang. Dari total jumlah pasien Covid-19 itu, sebanyak 17 dinyatakan sembuh. Semenyata, 32 orang meninggal dunia.

Sumber: Kompas.com

.

.


Silakan komentar Anda Disini....
(Visited 126 times, 1 visits today)