#LawanResah .. Kerja Bareng Musisi Sulawesi Tengah Lintas Generasi, Lintas Kota di Tengah Pandemi Covid-19

oleh -80 views

JAKARTA, Kabar Selebes – Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan New Normal (nantinya) akibat Pandemi Covid 19 adalah fakta dan keharusan yang dialami masyarakat Indonesia dan dunia, termasuk warga Sulawesi Tengah.


Kejadian ini tentu saja membuat segala kebiasaan dan apa yang direncanakan harus tertunda sesaat. Khusus bagi warga Sulawesi Tengah, terlebih khusus warga Palu yang berdiam di Lembah Palu dan mereka yang punya keluarga di Lembah Palu yang baru mulai bangkit dari dampak bencana 2018, harus mengurungkan mimpinya. Sebut saja bagaimana rencana silaturahmi pada saat Idul Fitri pada 1441 Hijriah / tahun 2020 harus tertunda, setelah pada Idul Fitri 1440 Hijriah / tahun 2019 silaturahmi masih dalam suasana pengungsian. Serupa dengan itu yang juga dirasakan oleh warga Sulawesi Tengah di luar daerah yang sudah jauh hari berencana merayakan Idul Fitri di kampung halaman bersama sanak keluarga.

Belum lagi bagi pekerja non formal seperti para pelaku seni yang harus kehilangan pendapatan regular karena tempat kerja mereka harus tutup sementara akibat aturan yang berlaku. Semuanya harus bertahan hidup, namun kreatifitas tidak boleh berhenti.

Minggu kedua April ketika Pemerintah DKI Jakarta mengumumkan pemberlakuan PSBB, sejumlah pekerja seni Sulawesi Tengah di Jakarta bertemu, tukar cerita dan mencari cara agar bisa tetap beraktifitas serta tidak terbelenggu. Diskusi kreatif Palu Community (demikian nama yang disepakati untuk wadah berkumpulnya para pekerja seni asal Sulteng) disalah satu sudut Kota Jakarta akhirnya menghasilkan kesepakatan menggarap lagu #Lawan Resah. Garapan ini melibatkan para pekerja seni yang bukan saja berada di Jakarta, namun juga dari berbagai tempat di Sulawesi Tengah dan kota kota lainnya di Jakarta.

Intisari diskusi :
#LawanResah, sebuah pernyataan dari rangkaian peristiwa yang dimaknai positif atas sejumlah peristiwa yang membuat sesuatu harusnya bisa dilakukan, tak bisa terwujud.

BACA JUGA :  Neneknya Sembuh, Bocah 10 Tahun Malah Positif COVID-19

LawanResah adalah bentuk perasaan yang diwujudkan lewat kerja keroyokan; memaknai peristiwa dengan optimisme tanpa menyalahkan, karena kesadaran bahwa diatas semua ini Sang Pencipta telah menentukan alur perjalanan kehidupan.

LawanResah adalah ungkapan perasaan yang dicurahkan lewat kreativitas para pekerja seni Sulawesi Tengah yang berada di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Palu dan Dolo karena rentetan peristiwa yang dialami saat ini, sementara pemulihan akibat gempa 2018 belum berakhir..

Tidak kurang 40 pekerja seni asal Sulteng merespon hasil diskusi ini. Mereka adalah musisi yang malang melintang menggeluti dunia entertainer music (gitaris, bassist, keyboardis, drummer, vokalis), musisi etnik : peniup lalove (suling Kaili), Kakula (gamelan Kaili) dan Gimba (gendang) serta para penari. Abdee Negara, Yoyo Bassman, Othe Abadi, Dhonny Bode, Pallo, Zarro, Topomore Band, Adi dan Inang Lawido, Adi Tangkilisan, Rizal PurwaC dan Marten Kandolia adalah sekian nama dari 40 pekerja seni yang terlibat secara emosional baik terjun langsung maupun menjaga agar ide ini bisa terwujud dalam diskusi.

Memanfaatkan tehnologi, partisipasi para pekerja seni dikirim melalui handphone memanfaatkan fitur video. Mengolah seluruh kiriman tentu saja bukan hal yang mudah. Membuatnya menjadi tontonan yang sesuai dengan kebutuhan musiknya, menjadi tantangan tersendiri. Itulah sebabnya, meski kerja keroyokan ini sudah dimulai sejak minggu ketiga April, namun butuh proses Panjang untuk kemudian menjadi tontonan yang layak.

Kerjaan ini digarap di studio Zhauroez Production (milik Dhonny Zhauroez), dibawah bendera Palu Community, serta melibatkan Jemmy Lobo sebagai tenaga expert IT.(*/abd/et)

Laporan : Abdee Mari

Silakan komentar Anda Disini....
(Visited 80 times, 1 visits today)