Kopi Poso, Emas Hitam Dari Bumi Poso

  • Bagikan

fb_img_15466073350933070996577055453527.jpgPOSO, Kabar Selebes – POSO memang istimewa. Negeri itu bukan hanya dikenal sebagai daerah bekas konflik horizontal. Jauh sebelum peristiwa kemanusiaan itu Poso dikenal sebagai daerah penghasil produk unggulan di Sulawesi Tengah. Selain Kakao dan eboni atau kayu hitam, Poso juga adalah penghasil biji kopi pilihan.

Dari 13 wilayah otonomi yang ada di Sulawesi Tengah, Kabupaten Poso merupakan salah satu daerah penghasil kopi paling produktif diantara 12 kabupaten dan 1 kota yang ada. Meskipun luas areal perkebunan kopi yang tersedia, berada di urutan kedua setelah Kabupaten Sigi.

Sayangnya, selama ini biji dari tanaman kopi yang ada di Poso hanya dipasarkan seadanya. Diolah dan dijual secara tradisional, dengan kemasan kantong plastik biasa tanpa merek. Padahal, berton-ton biji kopi dari Poso, di jual keluar. Diolah dan dipasarkan diluar Poso, sehingga menyebabkan identitas biji kopi Poso hilang.

Barulah pada tanggal 11 September 2017 silam, Rizal Musafir, salah seorang anak muda Poso mencoba memperkenalkan Kopi Poso. Menurut Rizal, awal memproduksi Kopi Poso, dirinya hanya berbekal semangat dan modal nekat.
“Niat pertamanya hanya ingin menunjukkan potensi yang ada di Poso. Selama ini, belum ada merek sendiri yang dihasilkan Poso, untuk barang konsumsi, sebagai produk lokal, khususnya kopi. Padahal Poso punya potensi kopi yang berlimpah,” ujar Rizal.
Menurutnya, merek Kopi Poso dipilih untuk memperkenalkan produk kopi yang dihasilkan dari Poso, tanpa perlu mencantumkan identitas pribadi.

“Dalam brand Kopi Poso tidak ada sedikit pun mencantumkan identitas pribadi saya. Hanya identitas Poso. Karena niat awal saya memang ingin mempromosikan juga potensi di Poso. Liat saja gambar yang ada dalam kemasannya. Cagar budaya yang ada di Poso, yaitu Patung Palindo. Nama diproduksinya juga Palindo Coffee. Bukan Rizal Kopi,” akunya dengan nada bercanda.

Kopi Poso sendiri diolah dari biji kopi Robusta, dengan tiga varians rasa dan aroma yang berbeda. Yakni Kopi Murni tanpa campuran dengan warna kemasan hitam. Kopi Rempah yang dicampur jahe merah, kayu manis dan cengkeh dengan warna kemasan merah, dan Kopi Walet yang dicampur dengan sarang burung Walet, dengan kemasan yang berwarna putih.

“Robusta menjadi pilihan karena warga masih kurang yang menanam bibit Kopi Arabika. Katanya banyak bibit dari Lampung atau Robusta. Warga juga lebih senang menanam bibit Robusta, karena pohonnya pendek dan cepat berbuah,” ujar Rizal.

Kopi Poso sudah diakui berdasarkan izin kesehatan, yang dikeluarkan melalui Dinkes P-IRT No:2127204010216-22. Karena itu, Kopi Poso saat ini sudah mulai dipasarkan keluar dari Kabupaten Poso.

Andy F Noya, host dari salah satu program talk show Kick Andy yang ditayangkan Metro TV, bahkan menyebut kopi sebagai Emas Hitam. Dan menurutnya, keberadaan Kopi Poso sebagai produk lokal, turut membuatnya bangga, sebagai kekuatan baru yang lahir dari Poso.

Agar orang-orang diluar Poso bisa tau kalau di Kabupaten Poso memiliki kopi yang berkualitas, Kopi Poso diharapkan bisa berkembang lebih maju, setara dengan 5 daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia, yakni Aceh dengan Kopi Gayo, Sulawesi Selatan dengan Kopi Toraja, Nusa Tenggara Timur dengan Kopi Flores, Jawa Timur dengan Kopi Jawa, dan Bali dengan Kopi Kintamani.

Kopi Poso sebagai produk lokal khas Poso, di produksi secara sederhana dari Jalan Mawar Blok B II No. 3 Kompleks BTN Gebangrejo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

(Mitha Meinansi)

Silakan komentar Anda Disini….
  • Bagikan