Peluang Investasi Dipermudah Pascabencana di Sulteng

oleh -

PALU, Kabar Selebes – Menjelang lima bulan pascabencana, sektor ekonomi Sulawesi Tengah, khususnya empat daerah terdampak, Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala dan Parigi Moutong, kondisi perekonomian mulai menggeliat. Usaha-usaha masyarakat maupun padat modal sudah bergerak. Laju inflasi Januari 2019 sudah membaik pada posisi 0,21 persen dibandingkan pada bulan-bulan sebelumnya.

Hal itu dikatakan Sekretaris Provinsi Daerah Sulawesi Tengah H Hidayat Lamakarate dalam Diskusi Publik: Strategi Pembangunan Ekonomi Sulawesi Tengah Pascabencana, Senin malam, 18 Februari 2019 di Kota Palu.

“Memang di awal-awal pascabencana, kita semua merasakan perekonomian kita begitu sulit. Usaha-usaha masyarakat, pasar-pasar, perhotelan tidak bergerak. Inflasi pun ikut naik. Tetapi hari ini kita sudah menyaksikan geliat ekonomi masyarakat sudah terasa. Dimana-mana toko, pasar, swalayan-swalayan sudah buka,” kata Hidayat Lamakarate.

Lanjut Hidayat, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah saat ini terus mendorong perbaikan sektor ekonomi dwngan mempermudah investasi bagi siapa saja yang ingin berusaha di Sulawesi Tengah.

“Kran investasi kita perluas dan perizinan serta administrasinya dipermudah,” kata Hidayat. Bahkan pemerintah akan mendampingi dan senantiasa mendukung investor dari gangguan yang timbul. Pemerintah bukan lagi di belakang tapi did depan untuk mendorong percepatan investasi,” kata Hidayat.

Seperti di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu, terus diupayakan agar investasi berkembang. Pemerintah akan menjamin keamanan berinvestasi sepenuhnya.

Begitupula sektor pertanian, misalnya jaringan irigasi Gumbasa yang rusak total akibat gempabumi dan likuifaksi di Kabupaten Sigi, terus didorong agar sesegera mungkin kembali berfungsi. Rusaknya jaringan irigasi Gumbasa memberi dampak terpuruknya pertanian dan perekonomian masyarakat di Sigi.

“Dalam rapat bersama PUPR kemarin, dijanjikan April 2019 ini, irigasi Gumbasa sudah mulai berfungsi dan bisa mengairi seribu hektar lahan pertanian masyarakat,” kata Hidayat.

Selain itu, pihaknya sudah meminta komitmen pelaku perbankan untuk memberikan keringanan bagi para debitur berupa penundaan pembayaran angsuran dan bunga, mulai tiga bulan sampai tiga tahun. Dan itu sudah berjalan. Hanya saja untuk penghapusan utang atau kredit tidak bisa diberikan.

“Dan itu sesuai arahan Wakil Presiden HM Jusuf Kalla beberapa waktu lalu, bahwa tidak ada pemutihan utang di daerah terdampak bencana,” kata Hidayat lagi.

Tokoh muda sekaligus pengusaha Firman Lapide dalam diskusi publik itu juga meminta dukungan pemerintah agar pemerintah memberikan kemudahan berinvestasi pascabencana.

Beberapa usaha yang dirintisnya dengan bekerjasama investor asing. Dia menjamin investasiinya akan mengutamakan masyarakat sekitar.

Pascabencana 28 September 2018 lalu, Firman bertekad tetap melanjutkan sejumlah usaha yang sudah dirintis sebelum bencana. Apalagi usaha yang dijalankan cukup besar menggunakan tenaga kerja, sampai 10 ribu orang.

“Kami berterima kasih kepada pemerintah daerah dengan berbagai kemudahan berinvestasi yang sudah diberikan selama ini. Dan, pascabencana ini, kami akan tetap akan melanjutkan usaha yang sudah terbangun serta akan terus mengembangkan usaha lain. Mohon dukungan pemerintah daerah,” ujar Firman Lapide.

Firman Lapide yang juga dipercayakan Partai Gerindra untuk bertarung menuju Senayan pada Pemilu 2019, mengaku tidak akan mengganggu investasi yang dikembangkannya.

“Ada manajemen yang menjalankan karena investasinya memang cukup besar dan bekerjasama dengan investor luar negeri. Jadi tidak akan mengganggu kerja-kerja politik saya,” kata Firman Lapide meyakinkan.

Mengutip laman www.sulteng.bps.go.id, Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah mencatat, perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2018 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp150,64 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp103,62 triliun.

Untuk pertumbuhan ekonomi, tahun 2018 (c-to-c) tumbuh 6,30 persen, melambat dibandingkan tahun 2017 sebesar 7,10 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 10,37 persen. Dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen impor barang dan jasa sebesar 125,41 persen.

BPS juga mencatat pada triwulan IV tahun 2018 bila dibandingkan triwulan IV tahun 2017 (y-on-y) tumbuh sebesar 5,37 persen lebih lambat bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 9,12 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 18,05 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen impor barang dan jasa sebesar 175,92 persen. (patar)

 

Tonton dan subscribe channel Kabar Selebes TV:

https://youtu.be/ckpL9ocEcPo

Silakan komentar Anda Disini....
(Visited 175 times, 1 visits today)