Tiap Hari Kota Palu Hasilkan 480 Kubik Sampah, 30% Berbahan Plastik

  • Bagikan

PALU, Kabar Selebes – Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Palu Firman mengatakan, setiap hari ada 480 kubik sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kawatuna. Dari 480 kubik itu, 30 persen merupakan sampah berbahan plastik.

“Itu yang diangkut setiap hari dengan hitungan tiap truk sampah mengangkut tiga kali dalam sehari dan sampah-sampah yang diangkut itu yang memang sudah siap setiap kali pengangkutan,” kata Firman di sela-sela Peringatan Peduli Sampah Nasional 2019 di depan Mako Ditlantas Polda Sulawesi Tengah, Kamis pagi, 21 Februari 2019.

Menurut Firman, sampah-sanpah yang diangkut merupakan dari rumah tangga dan lain-lain. Pengelolaan sampah plastik belum maksimal dilakukan dan baru dua titik bank sampah di Kota Palu. Belum sampai 10 persen sampai plastik terserap oleh pengelola bank sampah.

Sebelum Ketua Umum Bhayangkari Ny Tri Tito Karnavian mengatakan saat ini Indonesia merupakan negara kedua produsen sampah plastik di dunia setelah China.

“Ini tentunya memprihatinkan bagi semua. Sampah-sampah plastik membutuhkan waktu 400 tahun untuk larut di dalam tanah. Itupun hanya berubah menjadi mikroplastik,” kata Ny Tri Tito Karnavian pada Peringatan Peduli Sampah Nasional, Kamis, 21 Februari 2019 di Kota Palu.

Ini menjadikan salah satu alasan Tri Tito Karnavian berkunjung ke Palu untuk peringatan Hari Sampah Nasional. “Tiga alasan saya ke Palu, salah satunya karena daerah ini baru saja dilanda bencana. Dua hari setelah bencana, saya dan suami (Jenderal Tito Karnavian), berkunjung ks Palu dan melihat situasi,” katanya.

Menurut Tri Tito Karnavian, sampah-sampah kini bisa memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat bila dikelola dengan baik.

“Kita tidak mungkin menghindari plastik. Tapi paling tidak bisa mengurangi penggunannya setiap hari,” pesan Tri Tito Karnavian.

Aksi Peduli Hari Sampah Nasional 2019 di Kota Palu, diikuti dua ribuan orang. Mereka adalah anggota Polri, TNI, pelajar dan petugas kebersihan Kota Palu serta pemulung.

Ketua Asosiasi Pemulung Indonesia, Sulawesi Tengah dr Ellen Mentang mengatakan kita semua harus peduli dengan sampah dan menjaga kebersihan lingkungan.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Jayadin Juhaepa mengatakan sudah hampir 2 tahun ia bersama 18 pekerja mengelola sampah organik menjadi pupuk kompos dan sampah non organik menjadi kerajinan tangan dan lain sebagainya.

Pengelolaan sampah dilakukan di Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) Kelurahan Silae Kecamatan Ulujadi, Kota Palu.

“Jadi kami mengumpulkan sampah-sampah rumah tangga dan dibawa kesiini lalu dipisah antara sampah organik dan non organik, setelah itu diproses melalui mesin penghancur sampah,” jelasnya.

Pengelolaan bank sampah ini pihaknya bekerjasama BLHD Kota Palu. Dalam sehari bank sampah ini mampu memproduksi dua ton sampah organik. Sedangkan sampah plastik masih tentatif tergantung pasokan dari pemulung maupun yang diambil langsung dari rumah-rumah. Bank sampah Silae membina 200 orang sekaligus sebagai nasabah untuk memasok sampah untuk dikelola. (patar)

Silakan komentar Anda Disini….
  • Bagikan