ACT –Peace Winds Japan Serahkan 160 Unit ICS

  • Bagikan

PALU, Kabar Selebes – Memasuki bulan ke Tujuh pascabencana gempa, tsunami dan likuefaksi 28 September 2018 Aksi Cepat Tanggap (ACT) masih tetap konsen membantu korban terdampak bencana Kota Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala).

Kali ini ACT kembali membagikan Integrated Community Shelter (ICS) kepada 160 kepala keluarga di Kelurahan Tondo. Pembangunan ICS ini disponsori oleh Peace Winds Japan salah satu lembaga kemanusiaan berasal dari Jepang.

Huntara yang dibangun di Jalan Vatutela ini diresmikan langsung oleh Staf Ahli Gubernur Sulteng Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik, Siti Norma Mardjanu, dan dihadiri oleh Direktur Overseases Program Peace Winds Japan, Rika Yamamoto dan Kepala Cabang ACT Sulteng Nurmarjani Loulembah, Kamis, (25/4/2019).

Sejak bencana terjadi di Pasigala, ACT bersama mitra telah membangun ICS di 11 titik. Untuk lokasi ICS berada di Kelurahan Duyu, Wani, Lolu, Buluri, Sibalaya, Solove, Kabonena, Langgaleso, Sidera, Sumari, Tondo dan progress berikutnya akan dibangun di Mpanau.

“Jika ditotal semua unit shelter yang sudah kami bangun bekerjasama dengan para donor seluruh Indonesia sudah terbangun sekitar 1218 unit shelter,” kata Bambang Triyono, Direktur Eksekutif Humanity Network Departemen kepada awak media di lokasi ICS Tondo.

Ditempat yang sama Nurmarjani Loulembah menambahkan, dalam setiap kompleks ICS, dilengkapi dengan fasilitas masjid darurat, aula kelas belajar, dapur umum, sarana sanitasi, taman, taman bermain klinik kesehatan serta kantor layanan oleh pengurus ICS.

“Untuk sumber air bersih kami membangun sumur dalam yang saat ini sudah mengalir dan sudah digunakan oleh warga,” jelasnya.

Sementara itu, Rika Yamamoto, menyampaikan pihaknya berharap dapat melakukan hal yang terbaik untuk membantu masyarakat Sulteng yang terdampak bencana.

Menurutnya bantuan yang diberikan Peace Winds Japan untuk membangun ICS Vatutela ini didukung langsung oleh masyarakat Jepang.

“Masyarakat Jepang sangat senang membantu masyarakat Sulteng yang terdampak bencana. Karena warga di Jepang juga pernah merasakan bencana gempa berkekuatan 9,0 magnitudo yang memicu tsunami dengan ketinggian mencapai 40 meter pada 11 Maret 2011 silam. Dari peristiwa itu sekitar 15000 orang meninggal dunia dan 2500 orang sampai saat ini masih dinyatakan hilang,” ucapnya.

Untuk itu, ia berharap penghuni huntara Vatutela ini dapat digunakan masyarakat sebaik mungkin, selalu menjaga lingkungannya agar tetap bersih, indah, dan selalu peduli sesama penghuni.

“Sesama penghuni harus saling peduli, yang muda menghormati yang lebih tua begitupun sebaliknya. Jika terjadi bencana prioritaskan menyelamatkan diri sendiri dahulu sehingga jika anda selamat maka dapat menyelamatkan orang lain.” tandasnya. (Sarifah Latowa)

Silakan komentar Anda Disini….
  • Bagikan