Pertanian Alami Wujudkan Kedaulatan Petani Kreatif

  • Bagikan

AWAN TEBAL yang menyembul dari permukaan laut Banggai 26 Agustus 2019 pukul 09.30 WITA, menggerakkan tangan Mama Nursia untuk menaikan resleting jaket miliknya yang berwarna hitam bermerk “Marshmello Alone”. Suhu saat itu, susah diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatolongi dan Geofisika (BMKG), namun terus berhembus dipijakan perempuan itu di lahan pertanian percobaan Kelompok Wanita Tani (KWT) Bilalang di Sisipan.

“Suhu disini memang sejuk, jadi kalau sudah rasa dingin kami bekerja menggunakan jaket,” kata perempuan itu.

Mama Nursia adalah seorang petani. Tapi dia memiliki mimpi besar. Perempuan 25 tahun ini, tak bisa diam melihat hasil panen di lahan pertaniannya yang tidak membuahkan hasil berbanding lurus dengan apa yang ia harapkan.

Kiprah perempuan beranak satu itu, ia lakoni sejak tahun 2015 silam di Sisipan, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Hasil pertaniannya dengan menanam ubi kayu tidak sesuai dengan permintaan di Pasar Tradisional. Sementara suaminya sebut saja Rahmat sudah tidak lagi tinggal bersama sejak anaknya memasuki umur 5 tahun.

Rambut yang sedikit terurai, menutupi kepalanya dengan topi milik yang bergambarkan buah pisang terkupas. Begitulah penampilannya ketika beranjak dari rumah untuk pergi berkebun.

Ia tampak memetik cabai yang kisaran berumur 3,5 – 4 bulan. Hasil petikan cabai ia masukan ke dalam bakul berbahan bambu yang atasnya berbentuk lingkaran sedangkan bagian bawah berbentuk segi empat. Bakul itu ia ikat di kepalanya agar bisa digendong di bagian punggung.

Perawatan tanaman jenis cabai Gorontalo itu, ia lakukan bersama anggota KWT Bilalang yang berjumlah 21 orang di lahan tani percobaan yang luasnya 15 hektar. Namun, untuk mengoptimalkan pengolahan komoditi cabai, emak – emak yang tergabung di KWT, dibantu oleh suaminya masing masing.

Dalam kesempatan itu, Mama Nursia sampaikan baru sekitar 5 bulan bergabung di KWT Bilalang, yang memiliki lahan tani percobaan tepat disamping lahan milik peninggalan orangtuanya yang memilki luas ¼ hektar. Di lahan itulah ia mengais rezeki untuk menopang biaya hidupnya bersama anaknya.

Konsep berkebunnya pun mengikuti jejak peninggalan orangtuanya, yaitu menggunakan pestisida dan obat perangsang seperti pupuk kimia atau non organik. Aktivitas itu ia lakukan sejak lama dan sudah mencoba dengan berbagai macam komoditi lainnya.

“Kemarin saya tanam ubi kayu dan tomat, waktu panen lumayan cukup lama. Saat panen pun, kita terpaksa harus memikul beban beratnya ubi menuju pasar dan tidak laku terjual. Yah, mau bagaimana lagi, namanya juga hidup,”ucap perempuan tangguh kelahiran Kota Berair itu.

Proses awal mula ia bergabung dengan KWT Bilalang terbilang sangat singkat. Mama Nursia melihat emak – emak di kelompok itu bisa melakukan penaganan hama penyakit tanaman dengan memproduksi pestisida organik bahkan membuat pupuk organik.

Hari hari terus berlalu, ia selalu mengintip cara kerja kelompok tani itu dari lahan pertanian miliknya.

Perbincangan setiap saat bersama Ketua KWT Bilalang Yurince Pangean sering dilakukan usai bekerja di lahan masing – masing sambil menunggu waktu senja tiba. Dan awal maret 2019, ia memutuskan untuk meninggalkan budaya tanam penggunaan pestisida dan pupuk kimia.

Proses cara bertani yang diterapkan oleh orangtuanya untuk membesarkan dia seperti sampai saat ini, ia tinggalkan setelah diberikan pemahaman temannya yang sudah mengikuti bimbingan di sekolah lapang pertanian.

“Saya tidak bisa bertahan dengan cara bertani seperti ini, sementara saya adalah punggung keluarga. Saya harus memilih gabung karena ingin perubahan dan bisa sejahtera,”tuturnya, sesekali ia tersenyum.

Merawat serta mengawali pekerjaan di lahan tani KWT Bilalang, ia menceritakan tampak sedikit bingung dengan petani lainnya yang juga sibuk mengumpul berbagai jenis tumbuhan di sekitaran lokasi tani yang kata temannya akan digunakan untuk memproduksi pupuk organik.

Bergabung mengikuti pembinaan sekolah lapang pertanian yang berada di Sisipan, ia beranggapan bahwa untuk mampu memberikan hasil keuntungan dari segi ekonomi, tidak mengharuskan berketergantungan dengan melakukan pemupukan berbahan kimia.

Olahan pepaya, gula merah, air beras, dan air kelapa, bisa menjadi salah satu jenis pupuk organik lokal. Sementara cara mengatasi hama ganas, petani meramu pestisida organik dan hanya membutuhkan kunyit goraka, lingkuas, daun serai, daun papaya, daun gamal dan daun pepaya. Bahkan biasanya dicampur dengan minyak kayu putih.

Resep itu disampaikan Yurince, dan ia peroleh ramuan itu setelah mengikuti pembinaan sekolah lapang pertanian.

“kita ini sudah berpuluh tahun menjalani profesi petani, tapi nanti mengikuti pembelajaran yang melibatkan petani. Kami sudah mandiri dalam penyediaan pangan yang beraneka ragam, aman, bermutu dan bergizi hingga meraih keuntungan yang berlimpah,”ucap Yurince sambil menggendong tas ransel miliknya.

Mengumpul bahan baku di lingkungan sekitar dan memproduksi pestisida dan pupuk organik terus dilakukan oleh kelompok itu, dan menggunakannya di lahan kelompok serta dipraktikan di lahan tani milik pribadi masing masing anggota.

Sekolah lapang merupakan tempat proses pembelajaran non formal bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan keterampilan dalam mengenali dan mengatasi permasalahan dalam melakukan bercocok tanam. Mentor dalam pembinaan sekolah lapang itu adalah tenaga ahli pertanian.

Sekolah lapang pertanian digagas oleh Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Donggi Senoro LNG, setelah melakukan riset terhadap rutinitas petani lokal yang tersebar di wilayah Kecamatan Batui, Kecamatan Nambo dan Kecamatan Kintom, Kabupaten Banggai.

CSR Manager PT. Donggi – Senoro LNG Pandit Pranggana menilai petani di tiga kecamatan itu harus lebih mengenali potensi, menyusun rencana usaha, mengatasi permasalahan dan bisa mengambil keputusan dalam menerapkan teknologi yang sesuai dengan sumberdaya setempat. Untuk bisa memanfaatkan lahan tani sebaik mungkin dan peroleh hasil panen dengan kualitas terbaik agar bisa memenuhi kebutuhan pasar.

Mengubah budaya tanam pupuk kimia kepada petani lokal,di anggap bukanlah hal yang terbilang mudah. Namun, setelah diberikan pemahaman yang berwawasan lingkungan dalam menciptakan usaha tani yang lebih efisien, petani yang ingin berkembang dalam perubahan langsung memutuskan memilih untuk gabung dalam pembinaan kelompok tani.

“Dan pasti hasilkan akan berproduktivitas tinggi,”kata Pandit.

Sebanyak 16 KWT telah terbentuk sejak 24 November 2018. Kelompok itu, tersebar pada 25 desa di tiga kecamatan. Jumlah anggota petani di masing – masing kelompok bervariasi, ada yang 20 dan ada juga yang berkisar 30an.

““kenapa harus ada sekolah lapang, karena kami melihat kebutuhan itu ada di lapangan. Sehingga kami merumuskan sekolah lapang pertanian untuk petani lokal. Tujuannya membuat petani mandiri, tangguh dan mengetahui proses produksi pupuk organik,” kata Pandit yang menggunakan baju lengan panjang berwana abu-abu di lahan tani KWT Bilalang pada waktu yang sama.

Sebanyak 20 materi telah disiapkan, kemudian dirangkum dalam 4 kurikulum, yaitu pengelolaan lahan berbasih lingkugan, pembuatan pupuk organik, pestisida nabati dan peningkatan produksi pertanian. Dan hasilnya masing masing anggota kelompok sudah mandiri untuk menciptakan pupuk organik dengan berbagai kreatifitas bahan olahan.

Masing – masing kelompok melakukan penanaman komoditi benih cabai Gorontalo yang telah disediakan oleh perusahaan. Memilih cabai Gorontalo, karena dapat dicapai dari Banggai untuk dipasarkan ke Gorontalo dan kebutuhan itu ada, melalui pengumpul hasil panen (stocking point) berbentuk kelembagaan koperasi pertanian “Momposaangu Tanga’ Nulipu” yang dibentuk oleh CSR.

Ia beranggapan, riset yang dilakukan juga menghasilkan pembentukan system kelembagaan koperasi atau tools yang seksi dari anggota untuk anggotanya, sehingga di bentuk koperasi pertanian untuk kelompok yang juga menyediakan stocking point.

Sistem atau proses kerjanya jauh berbeda dengan system perdagangan pada umumnya atau melalui tengkulak. Hasil pertanian dibeli langsung melalui stocking point dengan uang tunai dan dijual kembali ke pasar yang sudah menjalin kerjasama khususnya produksi cabai Gorontalo.

Menariknya, hasil penjualan akhir pasar ke konsumen sudah mencapai 19 ton dengan harga jual kurang lebih 500 juta rupiah sejak tahun 2018 – 2019. Saat ini, lahan pertanian yang sudah terkelola seluas 17 hektar, namun rata – rata penghasilannya 2,5 – 3 ton untuk perbulannya yang diterima oleh stocking point.

“Targetnya kita akan menyediakan lahan pengelolaan 30 hektar agar bisa mencapai 7,6 ton perbulannya. Itu minimal ya, agar koperasi bisa mandiri, dan saat ini kelompok kelompok tani telah menanam 5.000 bibit dilahan tani kelompok maupun dilahan sendiri,” kata Pandit, melalui pesan singkatnya pada 29 Agustus 2019.

Perubahan dalam memproduksi berbagai jenis pupuk organik dan pestisida dengan cara pengolahan yang kreatif oleh petani lokal, terbilang berhasil dan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Banggai.

Melihat dari aspek statistik terkait untuk peningkatan perekonomian bidang pertanian di Banggai Luwuk, Kabid Statistik dan Distribusi BPS Sulteng Gamal Abdul Nasser, mengatakan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) Sulteng, selama Agustus 2019 sebesar 95,92 persen, sangat naik 0,69 persen dibandingkan NTP bulan lalu. Hal ini disebabkan kenaikan NTP pada seluruh subsektor kecuali subsektor tanaman perkebunan rakyat yang turun sebesar 0,76 persen di Sulawesi Tengah.

“Penggunaan pupuk organik di Sulteng, salah satunya di wilayah Luwuk Banggai dapat meningkatkan indeks harga yang diterima petani (It), sehingga mengalami kenaikan sebesar 0,49 persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun sebesar 0,19 persen. NTP tertinggi terjadi pada subsektor hortikultura sebesar 109,64 persen, sedangkan NTP terendah terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 84,93 persen. Namun, kita belum peroleh data secara detail untuk wilayah Banggai dan penggunaan pupuk organik sangat mempengaruhi statistik,” kata Gamal.

BPS Sulteng beranggapan peningkatan pertumbuhan ekonomi di wilayah Banggai, khususnya di Kecamatan Kintom, Nambo dan Batui harus dipertahankan dengan pemanfaatan penggunaan pupuk organik.

Peran CSR Donggi Senoro dalam peningkatan perekonomian daerah melalui komoditi cabai di Banggai, menuai dukungan dari pihak Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah dan masyarkat. Pemerintah melihat adanya peluang besar dalam melalui program – program yang diterapkan oleh perusahaan melalui CSR, dengan penerapan pertanian organik secara baik kepada petani, dan bisa peroleh hasil yang relatif lebih bermutu.

Kala itu, di Rumah Tahanan Klas II A Palu, pada selasa 10 september 2019, Sekretaris Daerah Prov. Sulteng Hidayat Lamakarate melihat perubahan pada petani di Banggai harus diikuti oleh daerah lainnya, khususnya daerah yang menjadi lumbung padi wilayah Sulteng.

“Saya anggap ini adalah magic atau sulap yang dilakukan perusahaan Donggi Senoro yang dengan sangat cepat merubah kepercayaan petani yang sudah ditekuni pupuk kimia sejak lama, serta menganggap bahwa pupuk itu adalah kunci kesuksesan dalam bercocok tanam. Untuk mempercayakan satu orang saja itu sulit loh, apalagi ini dalam kurung waktu singkat mampu menggandeng petani di tiga desa,”tutur Hidayat.

Menurutnya, langkah dengan merangkul, mengajak petani untuk bergabung dalam kelompok yang sudah dibentuk bahkan memberikan ruang pembelajaran dalam sekolah lapang pertanian bisa mencerdaskan rakyat dan bisa berikan jaminan kepada pasar dalam tingkatan konsumen dari produksi dari suatu industri.

Bagi Hidayat, saat bicara yang dikelilingi oleh para narapidana bahwa keinginan untuk melakukan perubahan dan kesuksesan itu adalah kesadaran dari para petani dan komitmen dari CSR ke masyarakat. Bukan paksaan dan komitmen yang dimaksud adalah CSR harus mampu menjanjikan kepada para petani dengan penggunaan pupuk organik yang dihasilkan bisa bersetifikat dengan bahan produksi yang ditemukan di Banggai.

“Ini sangat menarik, tolong ingatkan saya kembali agar saya akan perintahkan Pemda Banggai untuk berkoordinasi dengan CSR guna mendorong pupuk organik hasil produksi petani lokal agar segera peroleh verifikasi Otoritas Kompoten Pangan Organik (OKPO) Kementrian Pertanian RI dan mendapatkan akreditas dari Komite Akreditas Nasional (KAN). Dan saya anggap, dorongan ini akan membantu pihak perusahaan untuk mencari pasar hasil panen,”kata pejabat yang baru saja raih gelar doktor di Universitas Tadulako.

Menurutnya, untuk menghasilkan panen bebas pestisida, akan mempermudah stocking point dalam usaha agribisnis, karena pemasaran menjadi harapan utama agar produk pertanian bisa sampai ke konsumen akhir.

Orang nomor tiga di Sulteng itupun meminta kepada petani bahwa yang harus kita jual kualitas dan kapasitas, sehingga akan termotivasi untuk mengembangkan pertanian organik. Dukungan pemerintah baik pusat maupun daerah sangat kuat dalam rangka pengembangan pertanian organik karena cara tersebut dapat mengatasi masalah lingkunganan dan bisa mencapai pengembangan yang cukup prospektif di masa depan.

“Sebenarnya untuk dorongan yang terlalu besar untuk pengalihan pupuk anorganik ke pupuk organik harus dipikirkan lebih mendalam lagi, ya dikhawatirkan nanti ketika hasil akhirnya produksinya meningkatkan dan pasar tidak mampu untuk menyerap. Kenapa saya sampaiakan begitu, ketika dijual hasil panen dengan harga yang cukup tinggi karena diklaim menggunakan pupuk organik bersertifikat daya beli pasti tidak akan mampu. Sehingga kerjasama antara Pemda Banggai dan perusahaan harus benar benar menyiapkan jalur jalur pasar yang memungkinkan hasil panen bisa terjual,”ucapnya.

Upaya seperti ini, bisa menjadi contoh bagi perusahaan di daerah lainnya di Sulteng melalui CSR, untuk melahirkan kemajuan masyarakat lokal dengan menciptakan sinergi antara perusahaan dan daerah. Itu harapan besarnya.

Dari pengelolaan, pendampingan hingga masuk dalam ruang promosi. Dan mampu menjelaskan dasar dasar tujuannya untuk mempertanggung jawabkan masing masing program yang akan dilakukan.

Fokus pada komoditi hortikultura, cabai adalah strategi sangat tepat karena sabai merupakan satu diantara tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia, karena buahnya selain dijadakan bahan resep atau olahan sayuran dan bumbu masak juga mempunyai kapasitas menaikkan pendapatan petani sebagai bahan baku industri, bahkan memiliki peluang eksport yang sangat baik.(*)

Silakan komentar Anda Disini….
  • Bagikan