Ketergantungan Gedget Anak di Palu Capai Level Mengkhawatirkan

oleh -

PALU, Kabar Selebes – Kasus anak kecanduan gadget kini dinilai semakin parah. Tidak hanya membuat anak tidak lepas dari perangkat elektronik tersebut, namun juga menunjukkan perilaku agresif jika tidak diberikan izin memegang gadget.

Hal tersebut disampaikan Ahli Psikologi Anak Mohammad Basir, dalam seminarnya bersama Yayasan Khalifa, Sabtu (5/10) di Kota Palu. Menurut Basir, saat ini ketergantungan gadget bagi anak-anak di Kota Palu secara umumnya sudah mencapai level mengkhawatirkan.

Menurut dia, hal tersebut akibat dari ketidaktauan para orang tua dalam melihat tanda-tanda yang ada pada individu anaknya masing-masing.

“Jadi ada tiga poin sehubungan gadget dan anak-anak kita mengapa sudah mencapai level demikian mengkhawatirkan, pertama karena si orang tua kebanyakan memang tidak ingin tau aplikasi-aplikasi yang ada didalam gadget tersebut, padahal harusnya orang tua terlebih smart dulu sebelum memberikan gadget pada anak,” Ujar Basir kepada MAL usai memberikan seminar di Gedung Aisyiyah, Palu.

Selain itu, dia juga menyebut jika orang tua harus memahami anaknya secara lebih sebelum memberikan gadget. Mislanya, orang tua harus tegas memberikan batasan-batasan pada anak ketika sudah mulai berinteraksi dengan gadget, terlebih para orang tua dituntut agar memahami tumbuh kembang psikologi anaknya.

Sebab tidak jarang saat ini, kata Basir, kebanyakan para orang tua secara bebas memberikan gadget pada anaknya tanpa pengawasan sedikitpun.

Dalam skala Kota Palu, Basir menyebut level keteragantungan gadget yang sudah mengkhawatirkan itu diperparah dengan minimnya edukasi para orang tua dalam menangani hal tersebut.

“Menariknya, nanti anaknya sudah kenapa kenapa baru orang tua ini khawatir luar biasa, tapi tetap mereka tidak tau batasan bermasalah anak itu seperti apa karena belum teredukasi,” Katanya.

Basir menyebutkan, sejumlah tanda-tanda yang harus dilihat para orang tua ketika anaknya sudah mulai keteragntungan pada gadget, yaitu anak-anak akan berpikir aktivitasnya harus memegang gadget terus-menerus.

Selanjutnya, merasa tertekan kalau tidak memegang smartphone/gadget, penggunaan waktu lebih lama bersama gadget ketimbang aktivitas lainnya, kehilangan kendali atau sering marah marah bahkan hingga menarik diri dari lingkungan socialnya.

Meski begitu, ahli psikolog Kota Palu itu menyebutkan besarnya kemungkinan bagi orang tua dapat mencegah ketergantungan gadget pada anak sedini mungkin.

“masih sangat bisa, yaitu pertama orang tua harus kenal dulu tanda-tandanya sampai dimana ketergantungan si anak pada gadget. Memang tidak ada salahnya kalau si orang tua baca digoogle sah-sah aja namun tetap saja itu hanya konseptual atau teoritikal tidak ada interaktif langsung,” Sebut Basir.

Ditempat yang sama, Ketua Yayasan SDI Khalifa Eka Putra, menyebutkan seminar semacam itu rutin dilakukannya setahun sekali dan dibuka untuk umum.

Kata Eka orang tua harus mengetahui jika sekolah bukan sekedar tempat penetipan anak, tapi sekolah sebagai patner orang tua untuk menumbuh kembangkan kecerdasan maupun keterampilan pada diri anak.

“Jadi memang sekarang kita tidak bisa pungkiri atau sampai melarang jangan ini jangan ini, namun kita harus berkawan dengan anak dan apa yang digunakannya seperti gadget,” Ungkap Eka.

Eka menjelaskan, pada umumnya gadget akan memicu banyak hal terutama pada sikap social anak, yang secara jangka pendek tidak terasa namun pada jangka panjang itu akan sangat terasa.

“Untuk Yayasan Khalifa sendiri, khusus pada Sekolah Dasarnya, kita memang semaksimal mungkin untuk menyesuaikan dengan era kini yang sudah 4.0, malah dijepang sudah 5.0 jadi kita tidak bisa lagi menolak, namun secara spiritual kita bisa bekali untuk anak mengimbangi itu tapi ada aspek psikologi ada stimulasi tertentu anak ini bisa kita negosiasikan, apakah itu kebutuhan atau keinginan bagi anak, secara spiritual kita kenalkan juga ini boleh itu tidak boleh,” Katanya.

Olehnya itu, menurutnya apabila anak dikenalkan pada gadget harus ada pendampingan dari orang tua tidak serta merta dibiarkan, terlebih harus ada pembtasan-pembatasan yang tegas dari orang tua.

Silakan komentar Anda Disini....
(Visited 140 times, 1 visits today)