Wamen PUPR: Jaringan Gumbasa Selesai 2022

oleh -
Wamen PUPR John Wempi Wetipo bersama Kepala Balai Wilayah Sungai dan Bupati Sigi Moh Irwan Lapatta melihat air sudah mengalir di jaringan utama Bendung Irigasi Gumbasa, Senin, 25 November 2019. (Foto Patar)

PALU, Kabar Selebes – Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemukiman Rakyat (PUPR) menegaskan pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi jaringan Bendung Irigasi Gumbasa harus selesai di 2022. Proyek pascabencana ini dikerjakan tiga tahap.

Hal itu ditegaskan Wamen PUPR John Wempi Wetipo usai melakukan pembukaan pintu air pertama di Bendung Irigasi Gumbasa, Kabupaten Sigi, Senin, 25 November 2019.

Menurut John, untuk tahap pertama akan mengaliri sawah seluas 1.070 hektar di Desa Pandere dan Kalawara di tahun 2020. Tahap kedua tahun 2021 akan mengaliri persawahan 7.000 hektar dan sisanya di tahun Desember 2022.

Proses pembukaan pertama pintu dilakukan Wamen John Wempi Wetipo bersama Kasatgas PUPR Arie Setiadi, para Kepala Balai/kasatker PUPR, Bupati Sigi Moh Irwan Lapatta.

John berharap semua pekerjaan fisik ini dapat berjalan sesuai rencan. “Sata ditugasi oleh Menteri PUPR untuk penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi dan akan selalu datang untuk melihat progres pekerjaan,” katanya.

Wamen John Wempi Wetipo dan rombongan juga melihat langsung kondisi terdampak likuifaksi di Desa Jono Oge dan Sibalaya Utara serta banjir lumpur di Desa Bangga.

Petani di Desa Pandere, Aswad (52), sangat bersyukur air sudah bisa mengaliri areal persawahannya meskipun secara maksimal nanti di Januari 2020. Saat itu bertepatan dengan awal musim tanam.

“Saya punya lahan 0,5 hektar persawahan dan bersyukur sudah mengalir,” kata Aswad.

Sementara itu, Ashar (53), Sekreraris Gapoktan Sumber Rezeki Desa Pandere dan anggota kelompok tani Idaman Jaya
Padi mengatakan di kelompoknya ada tujuh kelompok petani sawah di Desa Pandere.

“Selama tidak air dari Gumbasa kami menanam palawija, jagung dan kacang-kacangan,” kata Ashar.

Menurutnya, dari 226 hektar sawah yang di Gapoktan Sumber Rezeki masih 20 persen yang tidak diolah. “Kami mengolah menggunakan sumur pompa bantuan namun hasilnya kurang maksimal,” kata Ashar.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Satuan Tugas Penanganan Bencana PUPR Arie Setiadi Moerwanto mengatakan selain penanganan jalan Teluk Palu mulai dari Silae, Lere, Besusu Tengah dan Talise (Silebeta) dan jembatan Palu IV. Sejumlah pekerjaan infrastruktur berupa jalan dan jembatan juga turut dikerjakan.

“Pekerjaan meliputi rehabilitasi dan rekonstruksi ruas jalan nasional yaitu Tompe–Dalam Kota Palu–Surumana dan Jalan Non Nasional yaitu Palupi–Simoro, Kalukubula–Kalawara, Biromaru–Palopo dan akses hunian tetap,” kata Arie di depan Wakil Menteri PUPR John Wempi Wetipo, Minggu, 24 November 2019 di Jalan Cumi-Cumi, Kota Palu.

Selain itu, lanjut Arie, pembangunan tanggul pantai Silebeta yang akan membentang mulai dari ujung Jalan Cumi-Cumi hingga Kawasan Penggaraman sepanjang lebih kurang 7 km. Ini merupakan bagian dari pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sulawesi Tengah.

“Saat ini Kementerian PUPR sedang melakukan pengolahan lahan dan penyiapan prasarana permukiman di Duyu, Pombewe, Tondo dan Talise; Rehabilitasi Daerah Irigasi Gumbasa Tahap 1 seluas 1.070 Ha, Penyusunan Desain RR Kampus Universitas Tadulako, Kampus IAIN dan RSUD Anutapura, Desain Jembatan Palu IV, Jalan Logistik di Wisata Pantai Silebeta dan Ruas Jalan Kalawara-Kulawi, serta pembangunan Flyover Pantoloan,” beber Arie.

Lanjut Arie, proyek RR yang masih dalam tahap pelelangan yaitu pembangunan bangunan pengendali debris Sungai Miu dan Sungai Bangga, pengadaan hunian tetap, RR Prasarana Pendidikan dan Kesehatan. (Patar)

Silakan komentar Anda Disini....
(Visited 73 times, 1 visits today)