Film “Kepada Bapak Dirumah” Mengisahkan Kehampaan dan Kerinduan Anak Kepada Keluarga

oleh -

KASIH sayang orang tua dan rasa nyaman anak tidak dapat digantikan oleh panti. Survey yang dilakukan oleh Save the Children tahun 2007 di Indonesia, menunjukan 90% anak yang tinggal di panti asuhan karena salah satu orangtuanya masih hidup dan 50% kedua orangtua masih ada.

Kondisi ini mendorong Save the Children di Indonesia menghidupkan program bernama Families First. Selain itu, Save the Children di Indonesia juga membiayai pembuatan sebuah film dokumenter yang berjudul “Kepada Bapak di Rumah”

Menurut Roy Rey, Info Communication Coordinator Humanitarian Response For Central Sulawesi Save The Children, film yang berdurasi 12 menit ini bercerita tentang betapa anak sangat merindukan kehidupan keluarga yang lengkap dan betapa anak merasakan kehampaan luar biasa dengan tidak tinggal bersama orangtuanya.

Berikut Gambaran Film “Kepada Bapak Dirumah”

Sejak berusia 2 tahun Patar Simatupang dititipkan ke nenek. Kemudian neneknya meninggal saat ia berusia 5 tahun, lalu dirinya dititipkan ke tante yang masih single.

Tante tersebut menikah, ia ditititipkan ke paman. Paman yang ini menikah, ia dititipkan ke paman yang lain. Sampai akhirnya dia diperkenalkan dengan kedua orangtuanya yang tadinya ia sebut Kakak dan Abang.

Hidup dengan kedua orang tuanya ternyata tidak seindah yang ia duga, lalu ia dan adiknya Patmos dititipkan ke panti asuhan.

Ibunya sendiri yang mengantar dan menitipkan mereka ke Panti. Saat mereka sudah berada didalam kamar Panti, mereka hanya bisa terdiam. Kehidupan mereka selama di Panti Asuhan berjalan normal, mereka bisa sekolah, tidur siang, menyapu dan mengepel gang-gang yang ada di Panti.

Bahkan bisa menonton TV bersama. Meski demikian dirinya merasa seolah tak punya harapan.

Hingga akhirnya ia memutuskan melarikan diri dari Panti, melewati rel kereta api dan kembali ke rumah. Namun, sesampainya dirumah ayahnya tidak bergeming seolah tidak terjadi apa-apa.

Ibunya terkejut, menangis dan memeluknya. Sejak saat itu ia hanya menyaksikan perkelahian kedua orang tuanya dan akhirnya ayahnya memisahkan diri. Merekapun tinggal bersama ibu, bekerja sama agar mempunyai penghasilan bisa makan dan meneruskan sekolah.

Mereka menjual eceran bensin di botol-botol, membungkus bumbu masak lalu menjualnya ke warung-warung. Ibunya begitu sabar merawat empat anak yang masih berusia remaja.

Kondisi itu tak membuat Patar berputus asa, dia menjadi anak berprestasi, juara sekolah, sehingga ia berhasil masuk dalam perguruan tinggi negeri, bekerja di kapal pesiar di Amerika, menjadi reporter sebuah televisi ternama, dan mendapat beasiswa keluar negeri.

Sesaat sebelum ayahnya meninggal dunia, Patar menuliskan sepucuk surat yang dikirimkan ke ayahnya. Surat itu bukanlah rangkaian kata-kata rindu seorang anak tetapi luapan kemarahan yang amat dalam.

“Kepada Bapak Dirumah, aku membencimu sampai ketulang-tulangku, tapi ketika aku membencimu aku juga membenci diriku, karena itu, hari ini aku ingin kau tau semua isi hatiku dan aku ingin memaafkanmu” demikian kutipan suratnya.

Patar Simatupang yang dihubungi via ponselnya Jumat, (10/1/2020) mengatakan, film ini menceritakan tentang kisah hidupnya. Awalnya, ia menulis kisahnya dalam skenario fiksi “Rindu Dendam” yang dilombakan di Philanthropy Pitching Forum.

“Ketika ceritaku diambil oleh Save the Children, lalu semua yang terlibat meminta agar proyek film dokumenter pendek saja karena, karakter anak dalam Rindu Dendam itu adalah aku, dan aku ada,” jelasnya.

Tujuan film documenter yang diberi judul “Kepada Bapak Dirumah” ini dibuat agar masyarakat tahu bahwa panti asuhan bukanlah rumah yang ideal untuk tumbuh kembang anak.

“Film ini tentang self reflection, dendam dan memaafkan. Memaafkan ayahku yang tak mudah itulah yang membuatku jadi menerima diriku sendiri,” terangnya.

Seluruh prestasi yang disebut dalam film kemudian jadi berarti. Ketika, anak yang dibuang akan mengalami banyak persoalan psikis.

Menurut Roy Rey, film ini diproduksi pada pertengahan tahun 2019 oleh Indocs dan disutradarai oleh Patar Simatupang sendiri. “Film ini sengaja dibuat berdurasi pendek untuk menggugah kesadaran akan pentingnya reunifikasi keluarga,” jelasnya.

“Nilai-nilai ini sangat didukung oleh Save the Children dan berharap gagasan ini semakin diterima orang banyak,” tambahnya.

Dukungan atas gagasan ini juga datang dari pendiri dan Direktur Clerry Cleffy Institute, (CCI) Dwi Peihandini. CCI sendiri adalah sebuah Yayasan yang bergerak dibidang psikologi dan kemanusiaan yang didirikan pada tanggal 27 Januari 2016 di Ambon.

CCI lahir dari mimpi Dwi Prihandini dan almarhum suami Clerry Cleffy, untuk pengembangan diri masyarakat Maluku, khususnya anak-anak remaja dan perempuan Maluku.

Menurut Dwi Prihandini, film ini patut mendapat dukungan, karena kisah dari film ini memberikan pesan yang sangat kuat betapa anak sangat membutuhkan kasih sayang dan kehangatan dari orang tua.

“Selain memberikan dukungan moril, saya juga memberi dukungan materi untuk membantu terlaksananya pemutaran film ini di Desa Anca. Terlebih sutradaranya adalah teman baik saya,” ujarnya melalui sambungan telepon genggam, Sabtu, (11/1/2020).

Selain mendapat dukungan dari CCI, gagasan ini juga didukung Bala Keselamatan dengan mengadakan pemutaran, diskusi film dan lokakarya percaya diri Verbal Communication – Total Repair oleh sutradara film, Patar Simatupang di Aula Gereja Bala Keselamatan Desa Anca, Lindu, Palu Sulawesi Tengah dan disaksikan pemuda dari 5 desa sekitar dan umum, sejak tanggal 10 – 11 Januari 2020. (Sarifah Latowa)

Berikut Profil Patar Simatupang

Filmmaker & lecturer
Leadership Experiences: Director of Academics SAE Indonesia, Training
Manager of School Broadcast Media, Festival Director of Erasmusindocs,

Festival Director of Golden Lens, Producer and Presenter e_PPMN, and
Youth and Leaderships Pioneer of Putra Sampoerna Foundation.

Lecturer: Business and film modules.

Seminars: Verbal communications and youth leadership programs.

Films:

  1. Director/Producer “An Extraordinary Mother” (IBU), 67’, 2017. This film was nominated for best feature documentary, Citra Award FFI 2017; official selection, in-competition for International Category, Nepal Human Rights International Film Festival 2018; and, official selection and nominated for Religion in the Eye of Women Award, Religion Today Film Festival, Italy, 2018.
  2. Producer “Discrimination is Stupid”, 9 PSA’s on Leprosy Awareness & Discrimination”, 2012.
  3. Director/Producer “Forgotten Voices”, 41’, 2010.

Up-coming films:
• 2019 finished: Director and producer “Catharina in a Country of Choirs” (Catharina dalam sebuah Negara Koor), feature documentary, 81’, officially selected for Akatara 2018 and Docs by the Sea 2019.

• 2019 finished: Director “Kepada Bapak di Rumah” (To Father at Home), short documentary, 15’.

• Director and producer “Numb” (Mati Rasa), feature documentary, 81’, story development, selected project for School of Seeing 2018, Asia Doc 2019, French Cinema 2019.

• Writer and producer “Mother I Miss You Badly” (Rindu Dendam), narrative, 90’, story development, selected project for Viu Asia 2019.

• Director and producer “Pasti Bisa”, feature documentary, 90’, story development.

• Director and producer “Semua Karena Cinta”, feature documentary, 63’, story development.

• Writer and producer “Second Chance” (Kesempatan Kedua), narrative, 90’, story development.

Education:

• Master of Arts, Creation – Film, the Jakarta Institute of the Arts, Indonesia.

• Bachelor of Commerce, General Business, the University of Northern British Columbia, PG, Canada.

• Diploma of Broadcast Performing Arts, VanArts – Vancouver Institute of Media Arts, Canada.

• Associate Degree of Language, English Education, The State University of Medan, Indonesia.

Training:

The Method’s Acting & Stage Direction, Independent Producer, Writing for Motion Pictures, BBC World’s Training for Trainers.

(Visited 175 times, 1 visits today)
Silakan komentar Anda Disini....