Sapa Kasih, Gerakan Moral Mitigasi Bencana Gagasan Polres Banggai dan GAM

LUWUK, Kabar Selebes – Polres Banggai bersama LSM Gabungan Aktivis Mantailobo (GAM) punya gebrakan baru untuk kelestarian alam. Sebuah gerakan moral dari ide brilian Kapolres Banggai AKBP Budi Priyanto itu mampu merangsang masyarakat untuk meningkatkan budaya bersih dan menjaga kelestarian lingkungan.

Gerakan ini diberi nama Sapa Kasih, yang artinya Sabtu Pagi Kota Bersih. Aktivitas rutin setiap Sabtu pagi ini melibatkan prajurit TNI, pemuda, ASN maupun aktivis lingkungan di Kabupaten Banggai.

Sapa Kasih mirip program pemda Banggai yang diberi nama Pinasa (Pia Na Sampah Ala)—dalam bahasa Saluan (salah satu suku di Banggai) artinya lihat sampah ambil. Namun yang berbeda adalah gerakan moral Sapa Kasih ini tidak hanya memungut sampah, tetapi ditingkatkan dengan menanam pohon. “Pinasa hanya pungut sampah. Kalau Sapa Kasih itu pungut sampah dan tanam pohon,” kata Budi Priyanto.

Gerakan sosial ini mulai menjalar ke kecamatan. Dimotori Kapolsek dan anggotanya dengan melibatkan pemuda, serta aparat desa dan kecamatan bergotong royong membersihkan lingkungan masing-masing dan menanam pohon.

BACA JUGA :  FAO Bikin Ribuan Nelayan di Palu dan Donggala Kembali Melaut

“Bukan hanya di kota Luwuk saja, seluruh Polsek jajaran Polres Banggai juga melakukan Sapa Kasih. Serentak setiap Sabtu pagi,” tutur mantan Kapolres Buol ini.

Budi menyatakan, Sapa Kasih adalah program turunan dari Kapolri Jenderal Idham Asiz, yakni Polri Peduli Penghijauan. Program ini bentuk kepedulian Polri terhadap lingkungan dan sebagai upaya mengantisipasi bencana banjir dan mengurangi dampak pemanasan global.

Melalui gerakan moral Sapa Kasih, jebolan Akpol 1998 ini berharap kepada seluruh lapisan masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan serta menjaga kelestarian lingkungan dengan cara menanam pohon.

“Semoga pohon yang kita tanam dengan ikhlas ini akan bermanfaat bagi banyak orang,” tutur perwira dua melati yang pernah bertugas di Ambon, Maluku saat konflik horizontal 1999 itu.

BACA JUGA :  Legislator Soroti Jaminan Hidup dan Keselamatan Kerja di PT IMIP

Sekretaris LSM GAM, Moh Akli Suong, menjelaskan, Sapa Kasih adalah bentuk kepedulian kepada daerah. Sebab, lingkungan saat ini menjadi problem di setiap Negara. Termasuk di Indonesia. Seperti diketahui, beberapa tahun terakhir, Indonesia dilanda musibah dari banjir hingga tanah longsor.

“Ini yang harus kita pikirkan 5 sampai 10 tahun ke depan untuk Kabupaten Banggai. Jangan sudah ada bencana baru dipikir mitigasi, tetapi mulai saat ini bagaimana meminimalisir bencana. Salah satunya dengan gerakan Sapa Kasih. Nah, Sapa Kasih bagian dari mitigasi bencana,” papar dia.

Sapa Kasih satu kelas di atas Pinasa, karena tidak hanya sebatas memungut sampah, tetapi juga ditingkatkan dengan menanam pohon. Selain itu, ada motivasi dan eduksi dalam program Sapa Kasih ini yang diberikan kepada masyarakat agar selalu menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Melalui program Sapa Kasih, Akli sangat berharap kepada investasi agar ramah lingkungan. Misalnya, pertambangan nikel. “Harus reboisasi bila sudah selesaoi eksplorasi. Sedangkan investasi lain, jangan membuang limbah sembarangan,” tandas Akli.

BACA JUGA :  IAIN Palu tanamkan moderasi beragama bagi 1.600 mahasiswa baru topang nilai kebangsaan

Dia menambahkan, Sapa Kasih ini adalah gagasan Polres Banggai bersama GAM. Tetapi program ini juga diharapkan melibatkan semua pihak baik TNI, unsur Forkopimda, OPD, mahasiswa, pemuda dan lainnya.

Bahkan, Sapa Kasih ini juga diharapkan merambah hingga ke kecamatan, kelurahan maupun desa. Apalagi korps berbaju cokelat itu, memiliki Bhabinkamtibmas.

Sementara itu, seorang mahasiswa pecinta alam Universitas Tompotika Luwuk, Muh Dzikri Noor sangat mengapresiasi dan mendukung gerakan moral Sapa Kasih yang digagas Polres Banggai bersama LSM GAM..“Ini sangat baik dan harus didukung. Kenapa? Karena ini menyangkut lingkungan,” kata dia.

Ia menyatakan, peran semua pihak memang sangat diharapkan, secara kolektif untuk melihat masa depan lingkungan di Kabupaten Banggai. “Nah, Sapa Kasih ini bagian dari aksi kepedulian terhadap lingkungan,” kata aktivis berambut gondrong ini.

Dzikri mengharapkan, Sapa Kasih jangan hanya dilaksanakan di Kota Luwuk saja, tetapi harus merambah hingga ke desa. Agar kesadaran masyarakat tentang kelestarian lingkungan tumbuh secara massal. (Emay)

Silakan komentar Anda Disini....