Hina Warga Duyu di Facebook, Pria Ini Disanksi Adat 5 Ekor Kambing

PALU, Kabar Selebes- Lembaga adat Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu menetapkan givu atau sanksi adat berupa lima ekor kambing kepada pemilik akun facebook Ahmad Azhari Mursalin, karena diduga telah menghina warga di wilayah itu melalui komentarnya di group facebook.

Keputusan givu itu ditetapkan melalui sidang adat yang digelar di bantaya atau rumah adat Kelurahan Duyu, Selasa (4/2/2020) dengan mengacu pada Peraturan Walikota (Perwali) mengenai Dewan Adat, Nomor 333 mengenai Sala Mpale atau salah tangan.

“Bahwa mereka dari Kelurahan Besusu Tengah sudah mengakui kesalahannya. Kami juga sudah memaafkan. Tetapi sesuai dengan adat Suku Kaili, Givu tetap diberlakukan karena sesuai dengan yang diatur dalam Perwali. Karena pelaku telah melakukan sala mpale atau salah tangan. Contohnya seperti orang mencuri, karena facebook ini diketik menggunakan tangan,” kata Ketua Lembaga Adat Kelurahan Duyu, Ramli Betalembah.

BACA JUGA :  Pasca Bom Bunuh Diri di Medan, Polres Palu Batasi Ojol yang Masuk Mako

Dari sanksi dua ekor kambing, pihaknya menaikan menjadi lima ekor. Pasalnya perbuatan pelaku tidak hanya melukai perasaan satu orang, tetapi seluruh masyarakat Kelurahan Duyu.

Untuk waktu pelaksanaannya, akan dilakukan 14 hari terhitung sejak ditetapkannya putusan Givu oleh lembaga adat.

“Kalau dalam Perwali itu sanksinya dua ekor kambing. Tetapi karena perbuatan pelaku sudah melukai seluruh perasaan warga Duyu, maka disepakati menjadi lima ekor kambing. Nantinya  kambing itu, satu ekor diberikan kepada tokoh adat  dan tokoh agama, satu kepada masyarakat dan duanya akan di konsumsi bersama di Bantaya ini,” paparnya.

BACA JUGA :  BNN Poso Tangkap Empat Pelaku Narkoba

Sementara kata Ahmad, dirinya meminta maaf atas perbuatannya. Diakuinya tidak ada niatan untuk menghina masyarakat Duyu.

Komentar di salah satu postingan grup facebook itu hanya sebuah kritik, namun dikarenakan pemahamannya mengenai bahasa kaili yang salah, sehingga menimbulkan kesalahpahamanan ini.

“Saya minta maaf. Dari lubuk hati saya yang paling dalam tidak ada niatan saya untuk menghina warga Duyu. Saya hanya geram melihat postingan orang yang mencoret dan membuang sampah sembarangan di fly over Pantoloan. Saya pikir bahasa kaili gunung itu Duyu, tapi ternyata Bulu,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Warga Poso Segera akan Punya Bioskop

Dirinya juga berpesan kepada masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Sehingga kasus serupa tidak kembali terulang.

“Ini pelajaran buat masyarakat khususnya saya pribadi. Saya harap ini yang terakhir, jangan lagi ada kasus serupa kembali terjadi,”harapnya.

Sebelumnya Ahmad menulis sebuah komentar yang bernada rasis di salah satu postingan group facebook, “Pantoloan itu masih daerah pinggiran. Belum tengah kota. Bisa saja daerah maju karena Kawasan Ekonomi Khusus  (KEK). Jangan lagi ada model patah pensil begini. Karena percuma saja daerah maju kalo SDM nya natolare eva to riduyu”sehinga memancing emosi warga di Kelurahan Duyu.(ifal)

Silakan komentar Anda Disini....