Launching Buku “Menyemai Perubahan”, Lian Gogali Ajak Komunitas dan Pemuda Sulteng Membangun Desa

oleh -
Beberapa penulis buku saat launcing (Dari kiri) Ridwan Lapasere, Lian Gogali, Nurlaela Lamasitudju, Neni Muhidin, Rahmadiyan Tria Gayathri dan Mohamad Heriantho.(Foto:Adi Pranata/kabarSelebes.id)

PALU, Kabar Selebes – Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia (SKP-HAM) bersama 3 LSM lainnya melalui kegiatan launching  buku “Menyemai Perubahan”  mengajak pemuda dan komunitas desa untuk sama-sama membangun desa pasca bencana gempa 7,4 SR 28 September 2018.

Lian Gogali sebagai salah satu penulis buku dan juga salah satu pendamping komunitas anak muda penggerak rekonstruksi empat desa di Sulawesi Tengah (Lemusa, Labuan Toposo, Soulouwe dan Toaya) pasca bencana, menjadi salah satu pembicara pada launching itu.

“Anak muda bisa jadi harapan baru dan juga tentu bisa membayangkan bagaimana berpuluhan tahun ke depan nasib desa mereka,” ujarnya saat launcing buku di Kantor SKP-Ham Palu, pada Senin (16/03/2020).

Buku “Menyemai Perubahan” merupakan dedikasi empat tim pemakna dari masing-masing komunitas penggerak, dalam upaya merekontruksi masyarakat desa pasca terkena bencana alam tahun 2018 kemarin.

Empat orang pemakna dalam buku ini memiliki profesi dan keahlian  yang berbeda.

Pemakna dalam buku itu ialah  Neni Muhidin yang aktif di dunia kepenulisan, Mohamad Herianto selaku pegiat sejarah lokal, Moh. Ridwan Lapasere sebagai jurnalis dan juga Rahmadiyah Tria Gayatri sebagai seniman lintas media.

Neni Muhidin sebagai salah satu penulis buku yang merupakan pemakna dari  tim penggerak di desa Lemusa mengungkapkan, buku “Menyemai Perubahan” merupakan wujud untuk menuliskan dedikasi teman-teman komunitas penggerak  dari masing-masing desa, dalam upaya membangun desa bangkit dari bencana alam.

“Saat hari-hari terakhir menjelang pemulihan bencana, hadirnya komunitas menjadi wujud harapan baru dalam rangka upaya untuk pemulihan,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, perubahan pasca bencana tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat, terlebih keberhasilan itu sendiri selalu dinilai oleh masyarakat merupakan suatu yang kongkrit dan bukan sesuatu yang abstrak.

Menurutnya, jika kegelisahan itu adalah keberhasilan maka harus  disepakati bahwa itu sebagai sebuah keberhasilan. Pasalnya, sebelum bencana terjadi pada 28 September 2018 kemarin, tidak ada  pemuda yang gelisah tentang desanya. Tidak ada pemuda yang memimpikan tentang desannya, bahkan banyak pemuda yang ingin keluar desa dengan harapan bisa keluar untuk mencapai kesuksesan.

“Berhasil atau tidaknya kita tidak bisa lihat sekarang, karena teman-teman gelisah tidak hanya sekarang, tentunya kita senantiasa gelisah untuk membuat perubahan,” lanjut Neni yang juga aktif sebagai pegiat literasi kebencanaan di Sulawesi Tengah.

Dia akhir sesi kegiatan empat komunitas di bawah bimbingan SKP-HAM dan juga Instititut Mosintuvu bersama dengan Rukun Bestari dan juga Indonesia Untuk Kemanusiaan, menceritakan bagaimana pengalaman mereka melakukan rekontruksi di desa pasca bencana 28 September.

Pada kesempatan  itu Lian Gogali juga mengungkapkan terimakasih untuk segala pihak yang mendukung  dan menguatkan selama upaya rekontruksi pasca bencana.

Ia menutup kegiatan dengan menyampaikan bahwa launcing buku ini bukan akhir dari rekontruksi, tetapi sebagai upaya tahap awal memulai sesuatu untuk membangun desa agar bisa direkontruksi  sesuai dengan harapan atau mimpi yang dirajut.

“Mari anak muda, bersama belajar memulai dan menebar perubahan,” pungkasnya. (Adi Pranata)

Silakan komentar Anda Disini....
(Visited 122 times, 1 visits today)