Banyak Peminat, Buku “Pewarta Pemberani” Kisah Jurnalis Palu yang Selamat pada Gempa 7,4 SR Cetak Ulang

oleh -

MAKASSAR, Kabar Selebes – Banyaknya peminat buku “pewarta pemberani” kisah heroik sejumlah jurnalis Palu (Sulteng) dibalik bencana gempa 7,4 SR yang disusul tsunami dan likuefaksi, pihak penerbit buku yang terbit dua tahun lalu itu harus mencetak ulang edisi kedua untuk memenuhi permintaan pembaca.

Dari kiri : Rahman Ody (NET.), Jemmy Hendrik (Radar TV), Ary Al-Abassy (TVRI), Abdy Mari (tvOne), Rolis Muhlis (Kompas TV). Kelima jurnalis tv ini akan mendapat penghargaan pada acara Indonesian Television Jurnalist Award 2018 di Makassar. (Dok. Pribadi)

Buku yang ditulis Rusman Madjulekka dan Hasrul Hasan ini berisi testimoni beberapa Jurnalis saat meliput bencana itu. Kemampuan dan profesionalisme mereka diuji. Banyak cerita menarik. Dibalik bencana gempa dan tsunami yang kerap diibaratkan “kiamat kecil” di Palu, Sigi, dan Donggala (Sulawesi Tengah), terselip kisah heroik para jurnalis.

Sebut saja, Abdee Mari (tvOne), Ody Rahman (NET.), Rolis Muhlis (Kompas TV),Jemmy Hendrik (Radar TV), Ary Al-Abassy (TVRI), Yoanes Litha [VOA], Ruslan Sangadji [Jakarta Post], Nadila [reporter radio], Andrianto Gultom [IWO Sulteng], Alfred Lande [Surya], James Brian [Radar Sulteng], dan jurnalis lainnya.  

Saat bencana terjadi, mereka diliputi rasa kuatir dan panik karena tak bisa mengontak istri, anak dan keluarganya. Namun masih mengikuti suara nurani: menolong orang lain.

 “Tak ada lagi sambungan telepon. Kami bingung dan panik. Bagaimana nasib keluarga kami?” tutur Abdee. Dengan kondisi cemas, emosional, dan tak semua orang bisa berpikir jernih,mereka tetap menjalankan tugas secara profesional dan penuh dedikasi meski nyawa taruhannya. 

Para “pewarta pemberani” dari Bumi Tadulako (Sulawesi Tengah,red) telah  menunjukkan sifat humanis, pribadi yang humble dan sosok yang mencintai profesinya dengan tingkat profesionalisme diatas rata-rata.

“Kisah jurnalis Palu ini bisa menjadi inspirasi bagi jurnalis lain. Mereka tetap mengedepankan sisi kemanusiaan sembari menjalankan tugas dari kantornya. Mendengar ceritanya saya betul-betul mengapresiasi,” ujar Rudiantara, mantan  Menteri Komunikasi dan Informasi RI, yang memberi testimoni dalam buku ini.

Di bagian sampul belakang buku ada juga komentar pangamat media. “Para jurnalis menuangkan laporan untuk melayani kemanusiaan dengan profesionalisme yang terjaga. Tanpa lelah, lupa melihat jam, mereka menyajikan suara dan gambar melalui televisi yang amat berarti bagi masyarakat. Hanya ini yang kami punya (untuk mereka): setulusnya ucapan terima kasih,” kata Ichsan Loulembah, pekerja media nasional asal Palu.

Bagi yang berminat mendapatkan atau membeli buku tersebut dapat menghubungi Mohamad Rusman via WA 081355293857. (**)

Laporan : TIM

Silakan komentar Anda Disini....