Federasi Serikat Guru: 55 Persen Sekolah Belum Siap Kenormalan Baru Pembelajaran

oleh -
Siswi sekolah mengikuti Penilaian Akhir Semester (PAS) di Sekolah Menengah Kejuruan Bina Karya Mandiri 2, Bekasi, Jawa Barat, Senin (8/6/2020). Menurut pihak sekolah, siswa yang mengikuti ujian di sekolah mempunyai kendala secara teknis untuk mengikuti ujian secara daring di rumahnya masing-masing.(ANTARA FOTO/FAKHRI HERMANSYAH) Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Federasi Serikat Guru: 55 Persen Sekolah Belum Siap Kenormalan Baru Pembelajaran", https://edukasi.kompas.com/read/2020/06/26/105820171/federasi-serikat-guru-55-persen-sekolah-belum-siap-kenormalan-baru?page=1. Penulis : Irfan Kamil Editor : Yohanes Enggar Harususilo

Jakarta, Kabar Selebes – Federasi Serikat Guru Indonesia ( FSGI) mengapresiasi keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) yang mengizinkan pembukaan sekolah dan kegiatan belajar tatap muka di wilayah zona hijau.

Namun, FSGI menilai pelaksanaan rencana itu tidak akan mudah.

Berdasarkan hasil survei dilakukan FSGI selama 6-8 Juni 2020, sebanyak 55,1 persen sekolah belum siap dengan kenormalan baru dalam pembelajaran.

Kendala sekolah

Ada sejumlah kendala yang dialami sekolah terkait kesiapan membuka aktivitas belajar mengajar tatap muka, di antaranya kesiapan sarana-prasarana sekolah dan anggaran.

“Ada 53 persen responden sekolah yang belum siap dari segi sarana prasarana penunjang pembelajaran untuk mendukung kenormalan baru, terutama di zona hijau,” kata Wakil Sekretaris Jenderal FSGI Satriwan Salim dalam paparannya secara daring, Selasa (16/6/2020).

Berikutnya, terkait protokol kesehatan dengan persentase 49,2 persen. Hal itu dinilai sangat logis karena Kemendikbud dan Kementerian Agama (Kemenag) belum membuat protokol kesehatan sekolah pada masa kenormalan baru.

Apabila disosialisasikan, maka membutuhkan waktu lebih lagi.

Faktor anggaran

Persoalan lainnya yaitu kesiapan anggaran yang mencapai 47 persen. Menurut Satriwan, masih banyak sekolah tidak tahu sumber uangnya untuk memenuhi semua kebutuhan sarana prasarana.

“Sampai sekarang pemerintah pusat dan daerah juga belum membuat realokasi anggaran khusus (misalnya) untuk penyiapan sarana tersebut. Jadi sekolah masih menunggu kebijakan anggaran yang bisa dipakai untuk menyiapkan semua kebutuhan sarana infrastruktur,” ujar Satriwan.

Apabila menggunakan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), belum sepenuhnya cukup untuk memenuhi segala kebutuhan sekolah.

Sebab, setiap sekolah memiliki persoalan sendiri dan pemanfaatan dana tersebut, seperti untuk gaji guru, perlengkapan belajar, penyediaan fasilitas protokol kesehatan, dan lainnya.

“Harus ada alokasi anggaran khusus di luar Dana BOS untuk memenuhi kebutuhan penyediaan sarana prasarana penunjang protokol kesehatan di masa kenormalan baru nanti,” kata Satriwan.

Survei kesiapan sekolah

Survei ini dilakukan FSGI dengan tujuan mengetahui bagaimana kesiapan sekolah dalam menghadapi kenormalan baru seandainya sekolah dibuka kembali.

Pengumpulan data mulai dari 6-8 Juni 2020 dengan melibatkan sebanyak 1.656 responden yang meliputi guru, kepala sekolah, manajemen sekolah, atau yayasan dari berbagai jenjang pendidikan dasar hingga menengah di 34 provinsi dan 245 kota/kabupaten seluruh wilayah Indonesia.

teknik pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner tertutup dan terbuka (mixed) berbasis web yang menggunakan aplikasi Google Form, yang disebarkan melalui aplikasi WhatsApp ke seluruh jaringan FSGI.

Sementara itu, teknik analisis datanya dilakukan dengan mengkaji kecenderungan jawaban atau pilihan guru terhadap setiap pertanyaan ataupun pernyataan yang diajukan pada kuesioner.

Sumber : Kompas.com

Silakan komentar Anda Disini....
(Visited 13 times, 1 visits today)