Sekilas Cerita Suasana Malam Takbiran Idul Adha di Posko Pengungsian Korban Banjir Luwu Utara

oleh -
Tampak anak-anak pengungsi korban banjir bandang di Desa Meli, Kecamatan Baebunta terlihat antusias saat mengikuti pawai obor pada malam takbiran menyambut Idul Adha 1441 Hijriyah. (Foto : Ist)

LUWU UTARA, Kabar Selebes – Gemuruh takbir terdengar mengggema dari kejauhan. Tampak pula deretan cahaya lampu obor yang memanjang, yang menerangi setiap sudut-sudut lokasi pengungsian korban banjir bandang di Desa Meli, Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan dalam menyambut datangnya Idul Adha 1441 Hijriyah.

Semakin dekat, semakin terdengar jelas gemuruh lantunan takbir dan cahaya obor yang seakan tak bisa padam itu.

Tampak terdengar lantunan takbir dari salah seorang ustad yang kemudian dilanjutkan dengan lantunan takbir dari anak-anak pengungsi korban banjir bandang Luwu Utara.

Arak-arakan pawai obor dalam menyambut datangnya Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriyah yang dilaksanakan khusus di lokasi pengungsian korban banjir di Desa Meli seakan tak kalah menarik dengan perayaan malam takbiran di tempat lainnya.

Selain didominasi anak-anak, pawai obor malam takbiran itu, juga diikuti para relawan gabungan yang memilih untuk tidak kembali ke kampung halamannya merayakan Idul Adha.

Keterlibatan para relawan gabungan itu, justru menambah semangat para anak-anak maupun remaja pengungsi korban banjir bandang di Desa Meli dalam merayakan Hari Raya Qurban. Meskipun dalam kondisi yang sangat jauh berbeda dari warga Muslim lainnya, karena tengah berada di tenda-tenda pengungsian.

Namun, kondisi itu tidak menyulutkan niat warga bersama anak-anak serta para relawan gabungan untuk melaksanakan pawai obor di malam takbiran.

Menurut Abd. Farid selaku koordinator tim relawan gabungan pecinta alam Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), dirinya mengaku merasa sedih melihat semangat dan antusias anak-anak, remaja dan seluruh warga pengungsi korban banjir bandang dalam menyambut Idul Adha.

Hal itu kata dia, justru membuat dirinya bersama rekan-rekannya yang lain untuk memilih bertahan, meskipun harus merayakan lebaran Idul Adha di Posko Relawan Gabungan Pecinta Alam.

Apalagi, masih banyak hal yang harus dibantu bagi para pengungsi di Desa Meli dan Radda.

Ia juga mengaku, yang membuat dirinya lebih bersedih lagi, suasana pada saat lebaran, meskipun tidak memiliki ikatan keluarga, namun warga pengungsi di Desa Meli maupun Radda menganggap para relawan gabungan pecinta alam seakan keluarga mereka.

Tak ada sungkan, antara para relawan gabungan pecinta alam maupun warga pengungsi korban banjir bandang.

“Alhamdulillah, warga pengungsi tidak sungkan terhadap kami sebagawai relawan. Makanya kami merasa seakan berlebaran di kampung halaman sendiri. Ini merupakan pengalaman terbaru saya, menjadi seorang relawan hingga pada perayaan Idul Adha. Di hari ketiga Idul Adha, kami pun kembali melaksanakan tugas seperti biasa, membantu warga pengungsi,” beber Aid sapaan akrabnya. (*/rlm/fma)

Laporan : Roy L. Mardani

Silakan komentar Anda Disini....
(Visited 48 times, 1 visits today)