Merdeka Meraih Mimpi Tanpa Belenggu Buku Nikah

Penandatanganan kelompok kerja Perlindungan, Pencegahan Perkawinan Usia Anak di Desa Padende, Kabupaten Sigi, setelah dicanangkan sebagai desa layak anak, Jumat (11/9/2020). (Foto: Istimewa)

SIGI, Kabar Selebes – Pernikahan usia anak seringkali menjadi belenggu di pelbagai wilayah Provinsi Sulawesi Tengah, tidak terkecuali Kabupaten Sigi. Banyak faktor mendasarinya, diantaranya ketidak pahaman akan pentingnya pendidikan, ruang mengekspresikan diri bagi anak serta faktor lingkungan.

Permasalah mendasar yang kian mempersempit ruang anak untuk meraih mimpi, perlahan mulai ditangani. Pencanangan desa layak anak di desa Padende, Kecamatan Marawola salah satunya. Langkah awal memerdekakan anak dalam berekspresi mulai digagas, pemenuhan hak dan pengembangan edukasi mengenai pentingnya pencegahan pernikahan usia dini terus digalakan.

Upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi, bekerja sama dengan Karampuang-UNICEF Indonesia sejak awal 2020 mulai menuai buah manis. Orang tua, tokoh masyarakat, agama dan pemerintah desa mulai ambil andil dalam pemenangan kasus tersebut.

Ketua Pokja Perlindungan, Pencegahan Perkawinan Usia Anak Kabupaten Sigi, Hj Haziza, mengaku saat ini masih banyak faktor kekerasan yang terjadi terhadap perempuan dan anak antara lain, faktor dalam persepsi mendidik mereka dengan cara kekerasan akibat faktor ekonomi dan budaya, yang mana sebagai disebabkan karena pernikahan usia anak.

“Saya berharap pencanangan desa layak anak ini benar-benar diseriusi. Sehingga Pokja dan satuan tugas yang dibentuk betul-betul berkomitmen, berintegritas serta memiliki loyalitas dalam menjalankan tugasnya,” harapnya saat memberikan sambutan dalam pencanangan desa padende sebagi desa layak anak, Jum’at (11/09/2020).

Azizah yang juga merupakan anggota DPRD Sigi mengaku, Pemkab memiliki program jemput bola dalam memenuhi hak keperdataan warganya dibawah naungan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.

“Semua ibu hamil yang melahirkan di rumah sakit mana saja, asal warga Sigi maka akan langsung dibuatkan Akta kelahiran anaknya. Program ini merupakan upaya pemerintah dalam memenuhi hak keperdataan warganya,” imbuhnya.

Sementara, Amriadi Muhdar,  Program Officer Yayasan Karampuang – UNICEF Indonesia mengaku, indikator menjadikan Desa Padende layak anak adalah pencetakan akta kelahiran yang hampir mencapai 100% dan adanya forum anak lingkar remaja desa.

Sebagian indikator itu menurutnya mampu meningkatkan wawasan dengan pelbagai kegiatan, sehingga mereka tidak perlu lagi memikirkan pernikahan dan fokus untuk belajar.

“Deklarasi desa layak anak, ini baru langkah awal. Kita harus meraih, menjaga dan komitmen dari semua pihak kami butuhkan. Alhamdulillah, tadi setelah berdiskusi sedikit, telah disepakati pembentukan peraturan desa yang akan menjadi dasar untuk melakukan kegiatan secara berkesinambungan,” paparnya.

Selain itu, ruang-ruang yang disediakan, juga diharapkan benar-benar menjadi suatu wadah penyampai aspirasi anak, sehingga mereka tidak lagi terbelenggu oleh buku nikah dalam meraih mimpi.

“Semoga desa lain dapat mencontoh langkah ini. Pihak kami juga membentuk ruang yang sama di Kota Palu dan Donggala,” pungkasnya. (sob/ap/fma)

Laporan : Mohammad Sobirin.

Silakan komentar Anda Disini….