2 Tahun Bencana Palu: RISHA Konvensional Jadi Harapan Baru Penyintas Pesisir

oleh -
Emilia (36 tahun), penyintas asal Kelurahan Mamboro Barat, berada di lokasi Rumah Instan Sederhana dan Aman (RISHA) konvensional yang dibangun bersama warga di lokasi Huntap Relokasi Mandiri, Sabtu (26/9/2020). (Foto: Istimewa)

PALU, Kabar Selebes – Hari ini, Senin (28/9/2020) tepat dua tahun yang lalu bencana gempa dan tsunami, meluluhlantakan Kota Palu dan daerah sekitarnya.

Dua tahun para penyintas terdampak bencana terus bangkit dari keterpurukan. Seperti yang ditunjukkan oleh para penyintas di Kelurahan Mamboro Barat, Kota Palu yang memilih relokasi mandiri.

Relokasi mandiri dipilih masyarakat untuk tetap dekat dengan sumber ekonomi mereka yakni laut.

Emilia (36 tahun), Sabtu (26/9/2020) bersama suaminya dan para pekerja dari Kelurahan Mamboro Ikan tengah berjibaku menyelesaikan hunian tetap (huntap) mereka di Kelurahan Mamboro Barat.

Menurut Emi, kegiatan itu sudah dilakukannya sejak awal Februari 2020, setelah pemerintah Kota Palu dan pihak Pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR) merestui skema relokasi mandiri yang digagas warga. 

Lokasi relokasi yang dipilihnya bersama warga lain berada sekitar 200 meter arah timur dari pantai Mamboro, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu.

Pada luas lahan 5.000 meter persegi itu, 39 kepala keluarga dari Kelurahan Mamboro Barat mendirikan hunian tetap.

Di lokasi itu telah berdiri 10 rumah panggung dan 29 rumah tapak dengan kombinasi panel Rumah Instan Sederhana dan Aman (RISHA) dan konvensional untuk memastikan bangunan-bangunan itu tahan gempa.

Meskipun pemerintah telah menyiapkan hunian tetap untuk masyarakat di Kelurahan Tondo sekitar 5 kilometer dari permukiman, Emilia bersama puluhan warga lainnya memilih relokasi mandiri lantaran tidak bisa jauh dari laut yang menjadi sumber ekonomi mereka.

“Mata pencarian warga di sini (Mamboro Barat: red) di antaranya nelayan, penjemur ikan. Makanya kami memilih relokasi mandiri supaya tidak jauh dari laut,” katanya Sabtu (26/9/2020).

Emilia mengaku lahan relokasi itu dibeli bersama warga secara berkelompok dengan cara patungan.

Ia bersama warga tidak sendiri, mulai dari perencanaan hingga pembangunan hunian mereka didampingi Yayasan Arsitek Komunitas (Arkom) Indonesia dengan pendekatan partisipatif.

Rumah-rumah yang dibangun pada  lokasi itu sebagian bergaya panggung khas hunian warga pesisir.

Dengan skema itu, warga dipercaya oleh Badan Penanggukangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu mengelola dana stimulan pembangunan rumah yang menjadi hak mereka

Kepala BPBD Kota Palu Singgih B Prasetyo menjelaskan, rumah dirancang oleh warga melalu relokasi mandiri itu menggunakan fasilitas yang diberi oleh Arkom Indonesia.

“Dengan skema itu warga di sana bisa menggunakan dana stimulan untuk pembangunan,” Katanya Senin (28/9/2020).

Direktur Yayasan Arkom Indonesia, Yuli Kusworo mengungkapkan, berdirinya Huntap bagi penyintas di Kelurahan Mamboro itu, adalah bukti berdayanya warga dalam upaya rehabilitasi dan rekontruksi pascabencana secara mandiri.

Dikatakannya pendampingan terhadap warga yang dilakukan sejak masa tanggap darurat hingga pemulihan itu untuk mendorong warga mencari solusi alternatif dari kebijakan pemerintah yang saat itu dinilainya belum memenuhi kebutuhan penyintas di pesisir.

Utamanya kata dia pasca terbitnya larangan membangun di kawasan pesisir Palu pasca tsunami sejauh 100 meter dari garis pantai.

Selain itu, menurutnya warga di kawasan pesisir juga mendapat pengetahuan mulai dari pengelolaan kawasan berbasis mitigasi bencana hingga membangun rumah tahan gempa dengan model RISHA yang sesuai dengan harapan warga.

Hal ini dibuktikan melalui panel-panel RISHA untuk hunian di lokasi huntap mandiri di Mamboro yang merupakan buatan warga sendiri setelah mendapat pelatihan dari Arkom Indonesia.

“Ini bukti masyarakat sebenarnya punya kemampuan untuk bangkit dan berpartisipasi. Kuncinya ada dipendampingan untuk peningkatan kapasitas penyintas,” kata Yuli Kusworo, Sabtu (26/9/2020).

Demikian, 2 tahun pasca bencana yang terjadi pada 28 September 2018, skema relokasi mandiri diharapkan bisa menjadi harapan baru bagi warga di Kawasan mamboro ikan untuk membangun kehidupannya tanpa menghilangkan kearifan lokal dan budayanya.

Model relokasi ini tentunya juga dapat jadi contoh bagi kawasan lain di pesisir yang terdampak bencana di Sulawesi Tengah.

“Model relokasi mandiri seperti ini juga sangat mungkin diterapkan di kawasan lainnya. Dan warga di Mamboro Barat yang sudah bangkit bisa menjadi pembimbing. Mereka sudah paham benar menjalankan skema relokasi mandiri,” tutup Yuli.(*/ap)

Laporan : Adi Pranata

Silakan komentar Anda Disini....
(Visited 61 times, 1 visits today)