Produksi Garam Talise Menurun, Kini Ketersedian Dipasok Dari Makassar

Hj. Ani (63 th) salah satu tengkulak garam tengah menjajakan jualannya di sekitaran Jalan. Yos Sudarso, Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Sabtu (10/10/2020). (Mohammad Arief/KabarSelebes.id)

PALU, Kabar Selebes – Produksi garam pesisir pantai kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore kota Palu saat ini sangat menurun drastis. Akibatnya, sebagian besar para tengkulak bertahan dengan pasokan dari Makassar dan Surabaya.

Banyaknya warga Talise yang tidak lagi menjadi petani garam menjadi salah satu penyebab berkurangnya pasokan. Hancurnya areal tambak garam masyarakat pasca tsunami 2018 menjadi permasalahan. Bahkan, hampir rata-rata lokasi tambak garam para warga kini telah dijual. 

Menurut Hj. Ani (63 th) salah satu pedagang garam Kelurahan Talise, selama tahun 2020 stok garam Talise sangat minim. Curah hujan yang tinggi dan tidak menentu menjadi faktor lain berkurangnya pasokan garam.

Kondisi tambak garam Talise yang sudah menurun produktifitasnya akibat bencana Tsunami 2018 silam, Sabtu (10/10/2020).(Foto: Mohammad Arief/KabarSelebes.id)

“Selama ini, lebih banyak garam dari wilayah Makassar yang dijual, terkadang juga dari  Surabaya. Harganya Rp.62.000/ karung,” akunya. 

Wanita paruh baya ini menyebutkan, stok garam yang tersedia ini biasanya diantar langsung oleh tangan kedua menggunakan mobil kontainer. Pengantaran yang tidak menentu mengakibatkan para tengkulak berebutan untuk memenuhi ketersedian jualannya.

Ani menuturkan modal yang dikeluarkan Rp.62.000 sudah termasuk ongkos buruh. Sedangkan untuk dijual kembali harganya dinaikkan hingga Rp.100.000 per karung dalam kondisi bersih atau layak konsumsi. Sementara untuk kebutuhan pupuk dan makanan hewan ternak dijual dengan harga Rp. 75.000-80.000 per satu karung.

“Harganya itu tidak merata jika dijual kembali, tergantung para tengkulaknya sendiri. Tetapi kalau diecer sama semua harganya, kalau yang dikonsumsi Rp. 10.000 per kilo, sedangkan untuk pupuk dan makanan ternak Rp. 5.000 per kilo”, terangnya.

“Sebelumnya untuk permintaan garam Talise, lebih banyak untuk kebutuhan pupuk, makanan hewan dan bahan campuran ikan asin, sedangkan untuk yang bersih dan layak konsumsi itu stabil laku 5 hingga 10 kilogram per hari,” tambahnya.

Ani menyatakan sebelum tsunami para tengkulak garam Talise tidak pernah mengambil garam dari luar kota. Harganya pun sangat menguntungkan hingga Rp.120.000 per satu karung.

Bahkan dikarenakan kualitas sangat baik, Garam Talise biasanya di kirim ke luar wilayah seperti Makassar, Kalimantan hingga Surabaya.

Sedangkan garam Talise yang digunakan untuk kebutuhan pupuk dan makan hewan ternak juga bahan pengeringan ikan asin stabil di harga Rp.150.000 per karung dan untuk layak konsumsi tembus hingga Rp. 250.000- 300.000 per karung.

Terpisah, Azira (40 th) yang juga salah satu pedagang eceran garam Talise menuturkan bahwa sejak bulan Juni 2019 hingga saat ini stok garam Talise sudah berkurang akibat intensitas curah hujan yang tinggi.

Sehingga, ketersediaan produksi khusus dari petani Garam Talise yang masuk di gudang yang terletak di sekitaran kampung Nelayan, Keluaran Talise, Kecamatan Mantikulore kota Palu sangat terbatas bahkan lebih sering kosong stoknya.

“Saya ini hanya pengecer, jadi kalau di gudang untuk mengambil garam yang bersih perlu modal Rp.100.000 per karung, sedangkan yang kotor atau untuk kebutuhan pupuk dan makanan hewan ternak seharga Rp.70.000- 80.000 per karung,” sebutnya.

Azira mengatakan harga jual garam yang bersih atau layak konsumsi sebenarnya bervariasi mulai harga Rp. 10.000 sampai 15.000 per kilogram. Sedangkan, yang pakan ternak dan kebutuhan pupuk hanya Rp. 5.000 per kilogram.

“Dalam sehari tidak menentu pembeli, biasanya garam yang terjual bersih dan kotor paling banyak hanya 5 kilogram, lumayanlah 50 ribu perhari untuk menyambung hidup daripada mengemis,” ujarnya sambil tertunduk berniang air mata.  (maf/ap)

Laporan: Mohammad Arief

Silakan komentar Anda Disini….