Gunakan Alat Musik Tradisional, Komunitas Mombekekeni Ciptakan Lagu Budaya Poso

Komunitas Mombekekeni saat performance di cafe Tasiraya Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Sabtu (10/10/2020) (Foto: Istimewa)

POSO, Kabar Selebes – Mombekekeni, komunitas gerakan kerelawanan di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) yang berfokus dibidang sosial kemanusiaan (social humanity) baru-baru ini merilis single lagu berjudul “Mombekekeni”.

Single Mombekekeni tercipta pada bulan Juli 2020. Instrumen lagu, aransemen/komposisi musiknya digarap oleh Syahrial Pakamundi atau sapaan akrabnya Rial, yang kemudian lirik dikerjakan secara kolektif.

Instrumen lagu yang kental bergaya musik tradisional dengan lirik berbahasa Pamona dan Napu, menambah kesan lagu ini sebagai sebuah karya yang lekat dengan kultur atau budaya Poso dengan harapan menjadi motivasi bersama untuk dapat melahirkan karya-karya selanjutnya. Itulah spirit mombekekeni.

Komunitas mombekekeni diprakarsai oleh Yurnaningsih Rambe biasa di panggil Chymenk merupakan perempuan asli Suku Pamona di wilayah Kabupaten Poso. Kepada Kabarselebes.id Chymenk menyampaikan, Mombekekeni adalah sebuah komunitas gerakan kerelawanan yang berfokus dibidang sosial kemanusiaan sejak akhir tahun 2018.

Kata Mombekekeni berasal dari bahasa Pamona yang berarti “berpegangan tangan” juga memiliki pengertian atau filosofi jika dijelaskan menggunakan dialek lokal Poso “baku pegang tangan, saling menguatkan atau saling baku-baku bantu.

“Di masa seperti ini lebih baik diisi dengan berkarya dari pada tidak berbuat apa-apa,” ucap Chymenk yang juga Founder Mombekekeni, Senin (12/10/2020).

Dikatakannya pada pertengahan tahun 2020, tim Mombekekeni bertemu seorang pengrajin lokal asal Desa Tindoli yang memiliki kreatifitas menciptakan alat-alat musik tradisional berupa gitar, ukulele, geso-geso, gendang dll dengan menggunakan bahan lokal yang berbasis bambu dan kayu. Pengrajin tersebut bernama Bernard, ia juga adalah seniman musik yang memainkan instrumen geso-geso.

Dari perjumpaan itu bersama beberapa teman lainnya yang memiliki passion serupa, lahirlah gagasan untuk membentuk kelompok musik dengan konsep etnik yang ingin menyuarakan pesan-pesan moral sebagai motivasi bersama dalam gerakan sosial kemanusiaan, dengan harapan bahwa musik dapat menjadi salah satu media kampanye atau penyampaian pesan yang diinginkan.

“Tentunya harapan kami alat musik etnik ini lebih dicintai anak muda Poso, karena yang menjadi ciri khas kami alat musiknya yang dibuat anak daerah menggunakan hasil alam,” ujarnya.

Sementara event launching single Mombekekeni digelar di Cafe Tasiraya pada 10 Oktober 2020, dengan menghadirkan Guritan Kabudul sebagai opener yang menyajikan musik berbeda dengan membawakan lagu daerah Poso yang dikemas dalam warna lain (cover version) seperti “Waya Masapi” dan menyanyikan single-single mereka sendiri.

Kemudian setelah perform Mombekekeni Project, dilanjutkan dengan pembacaan puisi berjudul “Mombekekeni” oleh seniman Poso Art yang kerap disapa Aba Judin.

Selain itu Juni tahun 2020, showcase perdana oleh komunitas Mombekekeni menghadirkan sebuah project dengan mengcover lagu-lagu daerah dan lagu lainnya yang sudah familier dihelat secara daring di media sosial Tana Poso.

“Walaupun karya ini masih jauh dari kata sempurna, berharap dapat menjadi trigger motivasi untuk berkembang, maju bersama, saling support untuk melahirkan karya-karya selanjutnya,” ungkap Syahrial Pakamundi. (rdn/ap/fma)

Laporan : Ryan Darmawan

Silakan komentar Anda Disini….