Akhirnya, TPM Tarik Gugatan Kepada Radar Sulteng

Suasana pertemuan antara pihak TPM bersama Radar Sulteng dan AJI Palu di salah satu cafe kota Palu, Senin (12/10/2020). (Foto: Mohammad Arief/Kabarselebes.id)

PALU, Kabar Selebes – Setelah melewati tiga kali proses sidang di Pengadilan Negeri Palu, Mediasi antara Tim Pembela Muslim (TPM) selaku kuasa hukum ayah almarhum Qidam Alfariski Mowance, bersama dengan Radar Sulteng akhirnya berbuah perdamaian.

TPM yang semula menjadikan pihak Radar Sulteng dalam gugatan (plurium litis consortium) atau Gugatan kurang pihak, kini telah selesai.

Kuasa Hukum Radar Sulteng, Muh Fikri SH menyampaikan setelah melalui proses mediasi akhirnya pihak TPM dan Radar Sulteng menyepakati dua poin besar dalam perdamaian kedua belah pihak tersebut

Pertama, sesuai tawaran Radar Sulteng akan memberikan ruang pemberitaan bagi pihak keluarga almarhum maupun TPM dalam sidang gugatan melawan tergugat Polda Sulteng secara objektif.

Sebaliknya, TPM juga telah sepakat untuk mengeluarkan pihak Radar Sulteng dari segala tututan pada amar putusan hakim dalam sidang perdata dengan tergugat I (satu) Polda Sulteng Cq Kabid Humas Polda Sulteng.

“Kini pihak Radar Sulteng dengan keluarga almarhum yang diwakili TPM telah mencapai kata sepakat. Radar Sulteng yang semula menjadi tergugat II (dua) serta TPM selaku penggugat kini telah berdamai,” katanya Senin (12/10/2020).

Sementara itu, Andi Akbar Panguriseng selaku Kuasa Hukum keluarga almarhum (TPM) Sulteng menyampaikan bahwa kesepakatan damai ini berlangsung setelah 3 kali mediasi yang dilakukan, dipimpin Hakim Mediasi Yakobus Manu, SH.

Selain meminta agar Radar Sulteng ikut mengawal sidang gugatan perdata antara ayah almarhum melawan Polda Sulteng, TPM juga mengeluarkan Radar Sulteng dari segala tuntutan pada amar putusan nanti.

“Perdamaian kami ini nantinya akan ada akta perdamaiannya yang kami tandatangani di depan Hakim mediasi. Perdamaian ini tidak lagi mencari siapa salah dan siapa benar, dan tidak ada penggugat dan tergugat lagi, karena dalam mediasi kita mencari win-win solution,” ungkap Akbar.

Disampaikan Akbar sejak awal saat menggugat, pihaknya memang memasukan dua objek gugatan. Tergugat I Mabes Polri dalam hal ini Polda Sulteng Cq Kabid Humas serta Tergugat II Radar Sulteng.

Dimasukkannya Radar Sulteng sebagai tergugat kata dia hanya sebagai salah satu formalitas saja untuk memenuhi persyaratan gugatan.

“Kami sangat berterimakasih dengan teman-teman pers dan tidak punya niat untuk menggugat. Kita kawan sejati dan akhirnya sepakat dengan hasil mediasi ini,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kota Palu, Yardin Hasan mewakili Ketua AJI Palu menegaskan bahwa sejak kasus ini dilaporkan, pihaknya secara intens melakukan advokasi kepada Radar Sulteng.

AJI sangat mengapresiasi ketika kasus ini berakhir dengan perdamaian antara keluarga almarhum Qidam dan Radar Sulteng.

“Walaupun sebenarnya gugatan ini, tidak perlu ada. Tapi kita semua sebenarnya menginginkan kesepakatan ini dan tugas kami AJI kini sudah ringan, karena saat ini kami juga tengah melakukan advokasi terhadap 3 jurnalis korban penganiayaan dalam kasus berbeda,” papar Yardin.

Perdamaian ini lanjutnya juga akan dilaporkan ke AJI Indonesia pasalnya kasus digugatnya Radar Sulteng tanpa melalui mekanisme pelaporan ke Dewan Pers, juga menjadi catatan kepada AJI Indonesia.

 “Sebenarnya kami diminta AJI Indonesia untuk melaporkan progresnya sejauh mana untuk advokasinya, dan malam ini juga kami sampaikan bahwa kasusnya berakhir dengan damai. Dan saya selaku pengurus mewakili AJI dan seluruh anggota merespon baik perdamaian ini,” tutur Yardin.

Dia pun menegaskan, bahwa sudah menjadi kewajiban dan komitmen dari AJI diminta ataupun tidak diminta, jurnalis haruslah memberikan ruang kepada mereka yang tidak punya akses ke publik, seperti ayah Qidam untuk dibantu menyuarakan apa yang menjadi aspirasinya.

Namun, kata dia, bila kemudian terjadi kealpaan media maupun jurnalis dalam pemberitaan, maka mekanisme pers seperti klarifikasi dan hak jawab juga harus ditempuh.

“Kami diminta atau pun tidak diminta, tetap akan memberitakan orang-orang yang sulit bersuara untuk kita suarakan salah satunya seperti keluarga almarhum Qidam ini,” tandasnya. (maf/ap/fma)

Laporan : Mohammad Arief

Silakan komentar Anda Disini….