Banjir Disertai Lumpur di Kayuboko dan Air Panas Imbas dari PETI, Jefri Cs Disebut Paling Bertanggungjawab

Rahman Badja saat memperlihatkan kondisi tanaman di kebun milik warga yang mati kekeringan akibat lumpur hasil PETI yang terbawa banjir. (Foto : Istimewa)

PARIMO, Kabar Selebes – Banjir disertai lumpur yang kerap melanda Desa Kayuboko dan Air Panas, Kecamatan Parigi Barat, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah (Sulteng) yang mengakibat rumah-rumah warga terendam merupakan imbas dari Pertambangan Tanpa Izin atau PETI.

Banjir yang kerap terjadi di sungai antara Desa Kayuboko dan Air Panas itu, juga mengakibat tanaman kelapa, pisang, durian, kakao, dan pala milik warga mati akibat digenangi lumpur.

Parahnya lagi, kondisi tersebut sudah semakin mengancam pemukiman warga di Desa Kayuboko yang tinggal disekitar jalur sungai dan air panas, tepatnya di Dusun I.

Akibat kondisi itu, Jefri Cs yang merupakan pengelola PETI di Desa Kayuboko disebut-sebut paling bertanggungjawab.

Hal itu diungkapkan tokoh masyarakat Desa Kayuboko yang juga penginisiatif pemekaran Air Panas, Rahman Badja kepada sejumlah awak media saat memperlihatkan kondisi pemukiman serta perkebunan milik warga yang menjadi imbas dari PETI pada Sabtu (10/10/2020).

Rahman mengaku kerap kali didatangi warga dari dua Desa tersebut untuk menyampaikan keluhannya serta meminta perhatian dari Pemerintah Desa (Pemdes) setempat maupun pertanggungjawaban dari Jefri Cs.

Menurut warga, kata dia, kehidupan mereka sudah semakin sulit akibat imbas dari aktifitas PETI tersebut.

Pasalnya, selain mengancam rumah-rumah mereka, mata pencaharian yang hanya mengandalkan hasil dari bercocok tanam justru lambat laun hilang akibat lumpur  pertambangan, yang terbawa banjir.

Tampak luapan lumpur dari hasil PETI yang terbawa banjir menutupi lahan milik warga setempat. (Foto : Istimewa)

“Mereka yang tinggal di hilir sungai ini, di Desa Kayuboko dan Dusun I Air Panas bukan meminta bagian dari hasil pertambangan liar atau ganti rugi. Tetapi bagaimana kehidupan mereka yang notabene hanya bercocok tanam atau berkebun bisa dicarikan solusinya. Mereka hanya menuntut, bagaimana agar mereka bisa kembali menghidupi istri dan anak-anaknya. Bahkan nyawa mereka ini juga terancam akibat kondisi ini,” tegasnya.

Ia menambahkan, permintaan warga hanya dibuatkan bronjong, agar terhindar dari banjir yang disertai lumpur.

Ia berharap, agar kondisi tersebut dapat menjadi perhatian, baik Pemdes setempat maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parimo.

“Memang sungai ini setiap saat dinormalisasi sejak warga mulai mengkeluhkan kondisi itu. Tetapi, apa kekuatannya kalau hanya dinormalisasi saja, tanpa dibronjong. Itu saja yang menjadi tuntutan warga,” ujar Rahman yang juga selaku Camat Parigi Utara itu.

Ia menambahkan, pihak yang paling bertanggungjawab terhadap kondisi itu, adalah Jefri bersama kroni-kroninya.

Menurutnya, sudah sangat banyak keuntungan yang diraup oleh Jefri bersama kroni-kroninya dari hasil mengolah PETI.

Sementara, sangat banyak warga yang menderita dan ketakutan setiap malam hari, apalagi ketika terjadi hujan.

“Pemerintah Kecamatan Parigi Barat juga harus memperhatikan kondisi yang dirasakan warga. Setiap malam mereka hidup dengan ketakutan, apalagi kalau hujan pasti mereka lebih takut lagi karena pasti akan terjadi banjir. Sudah dua tahun lebih warga disini menjerit dengan persoalan ini. Mereka hanya minta keadilan,” tandasnya.

Dikonfirmasi terkait hal itu, Gunawan yang merupakan orang kepercayaan Jefri menangani PETI di Desa Kayuboko mengaku akan melakukan pemasangan bronjong ketika sudah memasuki musim kemarau.

Bahkan, hal tersebut sudah disampaikannya pada saat dipertemukan dengan warga di kediaman Rahman Badja.

“Saya sudah dipertemukan oleh pak Rahman Badja dengan masyarakat yang mengkeluhkan persoalan itu. Pada waktu itu, saya juga sudah menyampaikan kepada masyarakat akan membangun bronjong disekitar hilir sungai dimusim kemarau. Makanya, untuk mengantisipasi luapan air dan lumpur saat banjir, kami turunkan alat berat untuk melakukan normalisasi sungai,” akunya. (rlm/fma)

Laporan : Roy L. Mardani

Silakan komentar Anda Disini….