Komunitas Anak Muda Lemusa Lahirkan Buku Desa

Komunitas anak muda desa Lemusa kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong menyerahkan buku yang mereka tuliskan kepada warga setempat (Foto: Istimewa).

POSO, Kabar Selebes – Sekelompok anak muda di desa Lemusa kecamatan Parigi Selatan, kabupaten Parigi Moutong berinisiatif menerbitkan sebuah buku yang berisi catatan sejarah dan bencana yang pernah terjadi di desa mereka. Buku setebal 92 halaman ini mereka beri judul “Lemusa Sejarah dan Dinamika Masyarakat Menghadapi Bencana”.

Stevin Ntibu, salah seorang penggerak anak muda di desa Lemusa mengatakan, buku ini lahir dari refleksi mereka atas bencana yang sering melanda desa mereka.

Desa Lemusa hampir setiap tahun dilanda banjir. Bahkan tahun 2020 ini saja, pada bulan Mei lalu, banjir bandang akibat meluapnya sungai Olonjongi menyebabkan sekitar 26 kepala keluarga harus mengungsi dan puluhan rumah rusak.

Sebelumnya pada tahun 2012 silam, tepatnya pada bulan Agustus, desa Lemusa mengalami banjir bandang yang hebat. Hampir seluruh desa terendam. Puluhan rumah rusak, belasan hektar sawah tertimbun pasir hingga tidak bisa lagi diolah menjadi sawah hingga saat ini.

Belajar dari pengalaman bencana itu, Stevin dan anak-anak muda Lemusa yang bergabung dalam komunitas Rumah Sangga Lemusa kemudian mencatat sejarah peristiwa bencana di desa mereka. Bukan hanya banjir, namun juga gempa bumi dan bencana sosial. Salah satu yang mereka lakukan adalah memperkuat kelompok masyarakat khususnya anak muda yang bisa berperan penting ketika bencana terjadi.

Dalam buku ini digambarkan salah satu peran anak-anak muda desa Lemusa ketika pandemi Covid-19 terjadi. Anak-anak muda ini menginisiasi kampanye penggunaan masker, melakukan penyemprotan disinfektan hingga membagi-bagikan buklet atau selebaran berisi informasi penting untuk mengenal apa dan bagaimana Covid-19 itu menyebar dan upaya mencegahnya.

Buku ini juga menggambarkan bagaimana kekayaan alam desa Lemusa yang bisa dikelola dengan baik untuk mengurangi pengangguran. Setelah berhektar sawah tidak bisa diolah lagi akibat tertimbun pasir saat banjir bandang tahun 2012 lalu, kini banyak warga Lemusa memanfaatkan lahan mereka untuk ditanami sayuran. Sebagian menanam kakao dan pohon kelapa.

Selain itu potensi lain yang masih bisa dikembangkan adalah pembuatan minyak kelapa mengingat desa ini menghasilkan banyak buah kelapa. Saat ini buah kelapa sebagian besar masih diolah menjadi kopra. Baru sebagian kecil yang diolah menjadi minyak kelapa atau minyak kampung. Padahal pasaran minyak kampung sangat menjanjikan.

Stevin mengatakan, pengolahan kelapa menjadi minyak kampung memiliki potensi meningkatkan ekonomi dan mengurangi pengangguran apabila dikelola dengan baik.

Dari sisi Mitigasi, buku desa Lemusa menuliskan titik-titik potensi bahaya bila bencana terjadi dan dimana wilayah yang ideal menjadi tempat  berlindung atau mengungsi. Mereka menetapkannya melalui pemetaan geospasial dan berdasarkan cerita serta pengamatan atas wilayah mereka saat bencana terjadi beberapa waktu lalu. (rdn/ap/fma)

Laporan : Ryan Darmawan

Silakan komentar Anda Disini….