Sebut SMS Finance Luwuk Sita Kendaraan Tanpa Putusan Pengadilan, Aan Ackbar: Akan Tempuh Jalur Hukum

oleh -
Pengacara mewakili kepentingan hukum Ade Irma Aim (Kanan) Hendra SH di Luwuk (Kiri) Abd. Aan Achbar dari Palu, Sulawesi Tengah, saat memberikan keterangan peristiwa sita paksa. (Foto: Istimewa).

BANGGAI, Kabar Selebes – Ade Irma Aim menyayangkan kendaraan Toyota Agya tipe G. TRD 1,0 MT warna putih, plat kendaraan DB 1577 BH masih dicicilnya melalui perusahan leasing (kreditur)PT. Sinar Mitra Sipadan Finance (SMS) Cabang Luwuk, disita paksa di tengah jalan.

“Harusnya cara leasing memperlakukan konsumennya tidak dengan cara kasar,” tutur Ade Irma pada media ini, Senin (18/10/2020)

Diterangkan peristiwa sita paksa itu bermula ketika kendaraan yang digunakan untuk rental tiba-tiba dihentikan di tengah jalan oleh debt collector internal leasing dengan alasan belum melunasi cicilan kendaraan bulan Februari dan Maret 2020.

“Usai itu saya diberikan Berita Acara Serah Terima Kendaraan, diminta tanda tangan. Tapi saya, tidak tanda tangan,” tuturnya.

Lebih lanjut dijelaskan pokok masalahnya dengan PT. SMS Finance Cabang Luwuk, ketika membuat perjanjian pembiayaan pada 12 November 2019 silam.

Ia mengatakan pada bulan Februari dan Maret 2020 ada menunggak pembayaran sebab banyak mobil rental tidak beroperasi karena dampak pandemi Covid-19.

Meski begitu kata dia, cicilan pada bulan empat dan delapan telah dibayar. Akan tetapi ketika akan membayar angsuran bulan September ia ditolak perusahaan dan dimintakan pelunasan dengan rincian,  sisa pokok terutang pertanggal 12 Juni 2020 RP 75,220,784, Bunga Terutang 12 Juni 2020 Rp 1.199,673, Total Angsuran /Total/Installmen Rp  117,360,000, Angsuran Telah Dibayar Rp 22,820,000, Total Sisa Angsuran Rp 94,560,000, Total Prepaid/Contrack Prepaid Amount Rp 200.

Total Installmen To Be Paid,  Rp 94,539,800, Denda Keterlambatan Pertanggal 29 September 2020 Rp 9,960,600, Biaya Penanganan Rp 3,000,000 total Rp 106.700.400 juta.

“Selama ini mobil itu saya rentalkan. Jadi pembayaran cicilan memang tertunda diwaktu itu. Tapi usai dua bulan tersebut, cicilan setorannya lancar dibayar tanpa ada masalah. Mobil dikabarkan akan dilelang dan jika saya mau mengambilnya harus melunasi sebesar 107.700.400,” tuturnya.

Ia pun menjadi bingung sebab tak ada kendala selama melakukan pembayaran.

“Tapi memasuki pembayaran dibulan September justru ditolak dan dimintakan membayar lunas, padahal hanya menunggak dua bulan dan saya makin kebingungan, dikabarkan kalau kendaraan itu sekarang akan dilelang dianggap wanprestasi,” katanya.

Atas kejadian itu Irma mengaku akan menempuh jalur karena merasa dirugikan menyita mobil paksa tanpa izin. 

“Dan kalau inginkan mobil kembali harus dilunasi ini menurutku menipu,” pungkasnya

Senada, Aris saudara Ade Irma, menjelaskan harusnya leasing melakukan musyawarah dan tidak dengan cara merampas di jalan.

Padahal menurutnya, telah ada putusan Mahkamah Agung kaitan kasus sita paksa sebagai dasar namun, leasing tetap menggunakan debt collector merampas.

“Masyarakat sudah paham di media pemberitaan telah diterbitkan, aturan fidusia (kreditur) jadi masyarakat tidak boleh dibohongi,” pungkas Aris.

Ia pun mengutip pemberitaan Kompas.com Putusan MK: Leasing Tak Boleh Lakukan Penarikan Sepihak, Harus Lewat Pengadilan. Sabtu, 11 Januari 2020. Dalam perkara diputuskan kreditur (leasing) tidak bisa menarik atau mengeksekusi obyek jaminan fidusia seperti kendaraan atau rumah secara sepihak.

MK menyatakan, perusahaan kreditur harus meminta permohonan eksekusi kepada pengadilan negeri terlebih dahulu.

“Penerima hak fidusia (kreditur) tidak boleh melakukan eksekusi sendiri melainkan harus mengajukan permohonan pelaksanaan eksekusi kepada pengadilan negeri,” demikian bunyi Putusan MK Nomor 18/PUU-XVII/2019 tertanggal 6 Januari 2020.

“Sepanjang pemberi hak fidusia (debitur) telah mengakui adanya “cidera janji” (wanprestasi) dan secara sukarela menyerahkan benda yang menjadi obyek dalam perjanjian fidusia, maka menjadi kewenangan sepenuhnya bagi penerima fidusia (kreditur) untuk dapat melakukan eksekusi sendiri (parate eksekusi),” lanjut MK.

Adapun mengenai wanpretasi tersebut, MK menyatakan pihak debitur maupun kreditur harus bersepakat terlebih dahulu untuk menentukan kondisi seperti apa yang membuat wanpretasi terjadi.

“Ini sudah jelas, pegangan masyarakat ketika leasing menggunakan debt collector melakukan sita tanpa musyawarah.” tukas Aris mewakili pihak keluarga yang dirugikan.

Sejalan dengan hal itu Irma melalui keterangan kuasa hukumnya, Abd. Aan Achbar SH, menganggap yang dilakukan pihak leasing menggunakan debt collector mengambil secara paksa barang milik kliennya sudah sering menimpa debitur atau konsumen.

Ia menilai hal tersebut seharusnya tak terjadi kalau dilakukan melalui upaya musyawarah dengan debitur.

Ia pun menyebut ketika debitur tidak memberikan secara suka rela, tidak bisa melakukan pemaksaan karena akan dapat berkonsekuensi hukum.

“Itu tidak dibenarkan dalam hukum. Jadi perusahan jangan menggunakan aturan perusahan melebihi perundang undangan,” tukas Aan Acbar.

Adapun mengenai wanprestasi konsumen dimaksud, biasanya kalimat itu digunakan menjerat debitur. Hal itu sebatas opini dari pihal leasing, sebab sejauh ini belum ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yg menyatakan bahwa debitur telah wanprestasi.

Olehnya kata dia, pendapat menyesatkan bilamana pihak leasing berpendapat debitur telah wanprestasi.

“Harusnya pihak leasing melakukan upaya hukum melalui pengadilan. Jadi tak serta merta melakukan sita barang tanpa penetapan pengadilan,” jelasnya.

Sementara itu, kepala Cabang SMSFinance Cabang Luwuk Apriadi ketika dikonfirmasi KabarSelebes.id membantah apabila ada debcolector yang menarik paksa kendaraan.

Ia membenarkan adanya penarikan akan tetapi tidak secara paksa dan dilakukan oleh staf internal SMSFinance.

” Penarikan dilakukan bukan sita paksa dan yang melakukan penarikan adalah staf internal SMSFinance bukan atas nama Bai Haki. Informasi dikabarkan telah mencatut nama orang lain dalam masalah ini,” jelasnya. (irm/ap/fma)

Laporan: Irwan Merdeka.

Silakan komentar Anda Disini....
(Visited 207 times, 1 visits today)