Mari Berkunjung di Bekas Lokasi Likuefaksi Sigi yang Disulap Jadi Objek Wisata Baru

Salah satu spot foto di Taman Likuefaksi yang ditanami bunga di antara pohon Jati yang mengering oleh para kelompok pemuda di Sigi. (Foto: Muhammad. Hajiji)

SIGI, Kabar Selebes – Jika ingin menjelajahi wisata di sore hari yang asik, sambil berburu foto sekedar mengisi akhir pekan dengan berjalan-jalan di wilayah Sigi rasanya sudah biasa bagi sebahagian masyarakat kota Palu dan sekitarnya.

Ya. Sebab, di wilayah Sigi menawarkan ragam pesona yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Seperti Bukit Cinta Satu Pohon yang terletak di desa Sibedi, Bendungan Misterius dan Spot Paralayang Matantimali.

Namun kini, untuk menciptakan suasana baru menikmati akhir petang sekelompok pemuda di Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah telah membuat kreatifitas baru dengan mengelola bekas Likuefaksi 28 September 2018 lalu, menjadi objek wisata.

“Sejak bencana gempa 28 September 2018 lalu, banyak sekali anak muda yang kehilangan pekerjaan. Bahkan sampai saat ini mereka yang petani juga belum bisa bekerja karena saluran irigasi masih rusak. Ini yang menjadi latar belakang sehingga kami berinisiatif mengelola dan memanfaatkan bekas likuefaksi sebagai objek wisata baru,” ujar Kiki Palurante, inisator kelompok pemuda Desa Lolu, di Sigi, Senin (26/10/2020).

Bekas lokasi likuefaksi di Desa Lolu yang berdekatan dengan lokasi serupa di Desa Jono Oge, Kecamatan Sigi Biromaru, kini telah diubah oleh pemuda menjadi objek wisata baru dengan nama “Taman Likuefaksi”.

Para pemuda di Desa Lolu melihat potensi pada bekas likuefaksi itu untuk dijadikan objek wisata baru, karena adanya pohon-pohon jati yang telah mengering sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Suasana akhir petang di lokasi wisata baru bekas Likuefaksi di Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. ( Foto: Muhammad Hajiji)

“Di kawasan itu kebetulan ada seratusan pohon Jati, yang ada saat bencana lalu ikut bergeser dan kini sebagian besarnya mati dan mengering. Menurut kami, ini adalah berkah tersendiri untuk bisa mengubahnya menjadi taman wisata,” jelas Kiki.

Kemudian, pemuda di desa itu menata objek tersebut dan menambah berbagai bunga, sehingga nampak indah untuk dinikmati berbagai kalangan pada waktu sore dan petang.

Berkaitan dengan itu, Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Sigi, Rahmat Saleh menuturkan, Pemkab Sigi harus menjadi bagian dalam upaya-upaya pembuatan dan pengembangan objek wisata taman Likuefaksi.

“Termasuk mempertimbangkan untuk mendorong replikasi gagasan dan karya-karya anak muda di Desa Lolu ini di tempat yang lain, karena di Sigi ada banyak bekas likuefaksi, yang bila dikembangkan bisa menjadi objek wisata dan tempat penelitian serta pendidikan,” sebut Rahmat Saleh.

Rahmat Saleh merasa sangat bangga dengan karya anak-anak muda di Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru yang telah mengembangkan geo wisata liquifaksi.

Menurutnya, karya itu mendemonstrasikan betapa kreatif anak-anak muda di Desa Lolu dan kabupaten Sigi. Dimana, mereka mampu mengubah sebuah nuansa dan suasana yang suram dan traumatik menjadi sebuah ruang yang menakjubkan dan menjadi bisa dinikmati.

Karya itu memberikan pembelajaran kepada seluruh masyarakat bahwa dengan itikad kuat dan gagasan, bisa mengubah tantangan menjadi peluang.

“Jika mengingat latar belakang anak-anak muda ini, maka kita harus mengagumi kegigihan dan sikap menolak menyerah pada keadaan. Ini harusnya menjadi inspirasi bagi kita semua. Ini menunjukan bahwa, bangkit atau terpuruk adalah pilihan terbaik kebanding berdiam diri,” tukasnya.

Rahmat menambahkan, adanya inovasi baru atas kreatifitas para anak muda ini dapat menciptakan pendapatan usaha mikro bagi para warga sekitar.

Setidaknya, seiring rencana perkembangan objek wisata di bekas Likuefaksi para warga dapat menjajakan makanan dan minuman instan, tradisional maupun buah-buahan hasil dari perkebunan sekitar wilayah Sigi.  (maf/ap/fma)

Laporan : Mohammad. Arief

Silakan komentar Anda Disini....