Peringatan Hari Sumpah Pemuda BEM Unsimar Poso, Gelar FGD Bahas UU Cipta Kerja

Kegiatan FGD yang dilaksanakan BEM Unsimar Poso, yang mengambil tema UU Cipta Kerja sebagai momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. (Foto : Istimewa)

POSO, Kabar Selebes – Dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sintuwu Maroso (Unsimar) Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Kamis (29/10/2020), menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang mengambail tema “UU Cipta Kerja, Antara Fakta dan Hoax”.

Dalam kegiatan FGD tersebut menghadirkan Fadli Husain, SH dari praktisi hukum dan Jen Kurnia Gembu, SH selaku Sekretaris Disnakertrans Kabupaten Poso sebagai pemateri.

Pelibatan Fadli Husain dan Jen Kurnia Gembu tersebut sebagai bentuk implementasi pendekatan intelektual mahasiswa dalam menyikapi situasi nasional.

Menurut Ketua BEM Unsimar Poso, Rey Metusala, FGD tersebut sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi bangsa dan negara.

Sehingga, UU Cipta Kerja yang telah disahkan pada 5 Oktober 2020 lalu, oleh DPR RI yang menimbulkan perdebatan panjang dan aksi unjuk rasa karena dianggap menyulitkan masyarakat dalam membedakan antara fakta dan hoax diangkat sebagai tema dalam kegiatan tersebut.

Dalam materinya, Fadli Husain menyoroti 11 klaster yang dimaksud dalam UU Cipta Kerja seperti penyederhanaan perizinan, persyaratan investasi, ketenagakerjaan, kemudahan dan perlindungan UMKM, kemudahan berusaha, dukungan riset dan inovasi, administrasi pemerintahan, pengenaan sanksi, pengendaliaan lahan, kemudahan proyek pemerintah dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Sedangkan Jen Kurnia Gembu dalam materinya menyampaikan, urgensi UU Cipta Kerja yaitu, fokus untuk menaikan kemudahan berusaha dari peringkat 73 pada 2020 ke posisi 40 di 2025, tumpang tindih kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Tingginya kebutuhan lapangan pekerjaan dan adanya jaminan kepastian hukum, kata dia, untuk memperbaiki iklim investasi serta mewujudkan kepastian hukum.

“Jika UU Cipta kerja tidak dilakukan, maka akan terjadi, lapangan kerja akan pindah ke negara lain yang lebih kompetitif, daya saing pencari kerja relatif rendah, Indonesia bisa terjebak dalam Middle Income Trap,” ucapnya.

Sementara itu, David Bangguna yang menjabat sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan mengapresiasi FGD yang dilaksanakan BEM Unsimar.

Dibandingkan turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi yang rentan dengan penyakit di masa pandemi, kata dia, lebih baik melakukan kegiatan yang lebih bersifat ilmiah, sehingga bisa menyaring, mana informasi aktual dan mana yang hoax. (rdn/rlm/fma)

Laporan : Ryan Darmawan

Silakan komentar Anda Disini….