Cerita Pengemudi Ojol di Palu yang Rela Mengais Rezeki Ditengah Resiko Terpapar Covid-19

Foto: Bantuan Buat Ojol (Tim Infografis: Andhika Akbarayansyah)

PALU, Kabar Selebes – Menjadi seorang pengemudi ojek online atau ojol ditengah pademi Covid-19 bukanlah hal yang mudah.

Bagi mereka yang berprofesi sebagai pengemudi ojol, mau tak mau pekerjaan tersebut harus tetap dilakoninya demi menghidupi keluarganya.

Meskipun, menjadi seorang pengemudi ojol rentan dengan resiko terpapar Covid-19, karena harus bertemu dengan orang yang berbeda-beda dan tidak diektahui asal usulnya.

Semakin hari, kasus terpapar Covid-19 di Kota Palu terus bertambah dan membuat pihak pemerintah harus bertindak tegas dengan memberlakukan protokol kesehatan yang disertai sanksi bagi, yang melanggar.

Disamping itu, pemerintah juga terus mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat tentang bahaya wabah virus corona.

Namun, imbauan pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, mau tak mau terpaksa dilanggar para pengemudi ojol untuk mengais rezeki.

Hal itu, bukan berarti tidak beralasan, namun karena tuntutan ekonomi yang semakin hari, semakin terasa menghimpit.

Para pengemudi ojol justru khawatir jika pemerintah menerapkan kebijakan Lock Down atau penutupan akses wilayah terdampak.

Penyebaran virus ini sangat begitu cepat hingga membuat semua orang harus benar-benar menjaga diri dengan hidup bersih dan dianjurkan untuk tetap berada di rumah agar penularannya dapat berakhir.

Situasi ini sangat berdampak terhadap stabilitas sosial dan ekonomi, terutama terhadap pekerja yang mengandalkan penghasilan hariannya untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Ojek online adalah salah satu profesi yang sangat dirugikan dan berisiko ditengah wabah virus corona karena harus berhadapan dengan pelanggan yang belum jelas kondisinya.

Apalagi, wabah tersebut menyebabkan turunnya pendapatan mitra ojek online secara signifikan.

Seperti yang diungkapkan Rizal, salah seorang pengemudi ojol di Palu, bahwa semenjak adanya  virus corona sangat berdampak pada penghasilannya.

Selain itu, beberapa pengemudi ojol juga menambah jam operasional mulai 10-12 jam per harinya.

“Tidak seperti waktu belum ada corona, pendapatan 8 jam kerja kami cukup dibilang lumayan bisa diantara Rp150-Rp200 ribu dalam sehari. Tapi sekarang sudah sepi penumpang dan orderan,” keluhnya.

Ia menyadari yang harus lebih ditingkatkan lagi adalah pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan ditengah pandemi virus corona.

Ia pun mengaku selalu mencuci tangan setelah mengantarkan pesanan, memakai masker, dan membawa hand sanitizer ke manapun.

Ia mengungkapkan, pengemudi ojol saat ini kebanyakan hanya mendapatkan pesan antar dari layanan food dan barang.

“Masyarakat sangat was-was jika melakukan aktivitas diluar rumah. Sebagian pekerja kantor juga sudah jarang memakai jasa layanan ojol. Alasan mereka otomatis menghindari penyebaran Covid-19,” akunya.

Rizal sendiri hanya dapat berharap agar pemerintah segera melakukan pencegahan dan penanganan terhadap penyebaran virus corona.

Sedangkan, para pengemudi ojol sendiri tidak dapat berbuat apa-apa, melainkan berharap orderan tetap lancar.

“Harapan kami semoga wabah ini bisa secepatnya berlalu dan aktivitas transaksi kembali normal seperti sediakala. Intinya tetap waspada serta mentaati protokol kesehatan,” tandasnya. (rkb/rlm/fma)

Laporan : Rifaldi Kalbadjang

Silakan komentar Anda Disini....