Optimisme Pegiat Seni Tari di Tengah Pandemi

Andi Rini Oktaviani salah satu pegiat seni tari tradisional di Kota Palu ketika melatih tari secara virtual. (Foto: Adi pranata/KabarSelebes.id)

PALU, Kabar Selebes – Pada sebuah ruangan berukuran sekira 4×3 meter itu, nampak seorang perempuan berdiri tegak lurus menghadap sepasang layar yang berbeda ukuran. Sesekali ia berteriak memberi komando kepada beberapa orang yang terpampang pada layar ponsel di depannya.

Dihadapan layar perempuan itu nampak lihai. Tubuhnya lentur meregangkan badan, mengatur nafas, sesekali memainkan lembut jari-jemarinya. Bergantian tangan kiri dan kanan digerakannya ke atas dan ke bawah.

10 menit berselang, layar yang telah ditatapnya selama 30 menit itu kosong. Tatapan perempuan itu kini buyar. Beberapa perempuan yang terpampang pada layar kecil itu hilang meninggalkan layar putih kosong.

“Yah biasalah, kendala kita latihan-latihan online terus,” resah Andi Rini Oktaviani kehilangan koneksi saat melatih pola dasar tari tradisional via aplikasi Zoom, saat ditemui KabarSelebes.id Kamis, (29/10/2020).

Perempuan yang akrab disapa Rini, salah satu pegiat seni tari yang juga ketua kelompok seni AvooBulava di Kota Palu mau tak mau setiap 30 menit harus mengatur koneksi agar latihan menari secara virtual bisa berjalan dengan baik.

“Berharap ini (pandemi Covid-19) cepat berakhir karena banyak sekali gangguan kalau kita latihan secara online,” katanya. 

Nampak tangan Rini ketika melatih gerakan dasar tari tradisional secara virtual. (Foto: Adi pranata/KabarSelebes.id)

Rini bilang ruangan yang penuh dengan berbagai busana dan alat musik itu bukannlah tempatnya melatih tari. Ia sebelumnya punya tempat yang cukup luas untuk berlatih. Akan tetapi, selepas gempa pada 28 september 2018, tempatnya belatih kini telah rata dengan tanah.

Kali ini bencana lain datang menghambatnya melatih tari tradisional. Pandemi Covid-19 yang mulai merebak pada bulan maret mengakibatkan ia harus latihan secara online.

Rini masih ingat betul terakhir berkumpul bersama berlatih menari pada akhir Maret. Memasuki bulan Juni, ia tak lagi latihan tari secara tatap muka. Wanita kelahiran 26 tahun yang lalu itu bahkan harus menunda beberapa agenda besar dari kelompok seni.

Beberapa event besar harus ditunda. Termasuk “Gerak Makna”, agenda tahunan kelompok seni binaanya yang kini telah berusia 4 tahun itu.

Ia bersama anggotanya bahkan kini jarang tampil pada acara kegiatan. Padahal sebelum pandemi corona, dalam waktu 1 bulan, ia biasa menampilkan tarian tradisional di khalayak ramai 3 sampai 5 kali.

Memang sejak pandemi Covid-19 merebak di Kota Palu, pementasan seni termasuk seni tari mati suri. Pemerintah kota melarang segala jenis pertunjukan. Sebab, event tersebut bisa memicu kerumunan. Pemkot tidak mau mengambil risiko.

Meski situasi pandemi, tak jarang kelompok seni diundang untuk pentas, tapi tak seintens sebelumnya. Sebagai pengambil keputusan di kelompok seni, Rini tak mengikuti anggotanya untuk pentas selama pandemi dalam jumlah yang banyak.

“Covid-19 kan kita tidak bisa lihat, jadi lebih baik menghindarinya, kalau misalnya ada undangan satu sampai tiga orang boleh pergi tapi dengan waktu tidak perlu lama,” kata dia.

Kecintaannya terhadap seni tari sama halnya dengan kecintaannya kepada kota Palu. Ia lebih baik tidak berkumpul ramai-ramai semasa pandemi utamanya berlama-lama menghadiri acara pesta. “Kalau kita ikut beramai-ramai sama saja kita tidak sayang dengan kotanya kita,” ujarnya.

Jarang ikut pentas selama pandemi Covid-19, hari-harinya sebagai pelatih tari kemudian diisi untuk menambah wawasan berlatih gerak bersama anggota lainnya. “Seperti Workshop, pembinaan yang kita ikut melalui online,” kata dia.

Pandemi nyatanya tak menyurutkan semangat Rini bersama anggota binaanya untuk berlatih menari. Apalagi untuk suatu pekerjaan yang mengutamakan kelenturan persendian.

Rini biasa melatih orang dari berbagai kalangan, sampai dari siswa sekolah dasar  (SD) hingga mahasiswa. Seminggu 2 kali ia melatih tari secara online atau dalam jaringan. Kadang juga tidak latihan mengingat rata-rata anggota masih bersekolah. “Yang penting teman-teman penari tidak meninggalkan sekolah dan kuliahnya,” katanya.

Selain itu, ia juga sempat mengikuti beberapa kali perlombaan online dan video lainnya secara Virtual.

Rini ketika ditanya bayaran sekali pentas mengakui paling rendah dibayar paling murah 300 ribu. Sedangkan untuk bayaran paling tinggi hingga 2,5 juta untuk satu jenis tarian dalam sekali pentas.

Meski menghasilkan pundi-pundi rupiah dari menari, bagi Rini menari ataupun bergerak di bidang kesenian di Kota Palu tidak bisa dijadikan patokan untuk pekerjaan tetap. “Sebenarnya karya-karya seniman itu mahal, itu sekarang mirisnya di wilayah kita sendiri,” kata dia.

Rini pun meresahkan banyak pekerja seni tari terdahulu yang karyanya jarang dihargai masyarakat. Hasan M baswan misalnya, beberapa karya tarian yang diciptakan digunakan begitu saja oleh orang lain tanpa adanya klaim hak cipta.

Perlunya perhatian masyarakat utamanya pemerintah bagi Rini memang tak bisa dinafikan di bidang kesenian.

Kurangnya penghargaan terhadap karya seni lantas membuat Rini tidak menjadi patokan bergerak di bidang seni untuk dijadikan pekerjaan.

Meski begitu, bagi dia menari bukan sekedar pekerjaan ataupun Hobi. Ia yang sudah jago menari sejak di bangku taman kanak-kanak dapat menyelami setiap makna dalam setiap gerakan tarian. Apalagi dengan tarian tradisional khas kota Palu yang tidak terlepas dari aktivitas sehari masyarakat.

“Untuk menari itu adalah hobi saya yang juga menghasilkan, kalau untuk jadi pekerjaan utama sepertinya saya masih ragu,” katanya.

Ia beruntung masih memiliki pemasukan lain sebagai wiraswasta. Mulai mendekorasi panggung kegiatan serta menjadi event organizer acara besar. Tak heran ruangannya berlatih penuh dengan pernak-pernik penghias panggung.

Berkat kecakapan tangannya ia mampu menghias panggung menjadi indah. Bahkan belasan tari tradisional telah ia lahirkan bersama kelompok seni binaannya. Spirit AvooBulava yang berarti “Bambu Emas” ia yakini dapat menghasilkan penari tradisional yang memiliki banyak manfaat layaknya pohon bambu.

“Kita juga pengen nama kelompok ini sangat berharga layaknya emas,” tuturnya. (ap/fma)

Laporan: Adi Pranata

“Tulisan ini merupakan bagian dari program fellowship Ubah Laku antara dewan pers bersama Satgas Covid-19”

Silakan komentar Anda Disini….