Cerita Peserta MTQ Nasional Asal Parigi Moutong Nekat Kendarai Sepeda Motor untuk Sampai ke Padang

oleh -
Pasangan Suami istri asal Parigi Moutong, Sulawesi Tengah mengendarai sepeda motor mengikuti MTQ Nasional ke-28 di Padang. (Screenshot Via Youtube Jurnalis TKP)

PALU, Kabar Selebes – Wujud semangat dan menghindari Covid-19, Pasangan Suami istri asal Parigi Moutong, Sulawesi Tengah rela mengendarai sepeda motor untuk mengikuti Kafilah Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-28 di Padang.

Pasangan itu yakni Hasan L Bunyu (43 tahun) dan Nining R Rusdin (29  tahun) warga yang tepatnya tinggal di Desa Taopa, Parigi Moutong. Pada MTQ kali ini, Nining istri Hassan merupakan kafilah perwakilan Provinsi Kalimantan Utara untuk lomba bidang kaligrafi.

Aksi nekad Hasan L Bunyu dan bersama istrinya, ditempuh selama 16 hari perjalanan memulai keberangkatan siang hari bertepatan dengan hari sumpah pemuda.

Hassan ketika diwawancara sejumlah wartawan menjelaskan, ada 15 Provinsi yang dilalui dengan 6 kali menumpang kapal. Rute yang dilalui antara lain Kalimantan utara, selanjutnya menyisir Kalimantan Selatan, kemudian menyeberang ke Jawa Timur, hingga akhirnya sampai ke Kota Padang.

“Spirit MTQ cinta quran ini kan sudah memudar di kalangan anak-anak muda, kami memberikan contoh bahwa kami yang sudah hampir tua masih punya spirit gitu untuk Al-quran,” kata dia menjelaskan lewat halaman youtube Jurnalis TKP.

Selama perjalanan, Hassan bercerita pengalaman menarik yang ia dapatkan. Salah satunya banyak masyarakat mulai taat mematuhi Protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19.

“Hampir seluruh daerah kita lalui masker itu tetap ada, biarpun mereka ke kebun ada maskernya,” ujarnya.

Selain itu, selama menemuh hampir 13.000 Km perjalanan, Hassan bersama istrinya banyak mengenal adat istiadat masyarakat daerah lain. Misalnya ketika melewati Rembang. Dia bilang di tempat itu masyarakat senantiasa menjaga Adat istiadatnya yang menganggap setiap warga yang lewat adalah tamu. “Kita disambut di sana orang-orang luar yang lewat itu dikasi bingkisan makanan,” tuturnya.

Hal serupa juga didapatkan setiba di Pulau Sumatera. Banyak pemilik warung makan yang bermurah hati tidak mengizinkan dirinya untuk membayar makanan yang telah disantap. 

“Kita beli bensin isi BBM mereka sudah mau bayarkan, yang bayarkan itu sudah pergi duluan,” katanya.

Dari beberapa pengalaman itu, yang paling penting kata dia adalah saran dari masyarakat sekitar agar bisa sampai ke Padang dengan aman dan selamat. Terlebih ini pengalaman pertama kali baginya berkendara sepeda motor untuk tiba di salah satu ujung Pulau di Indonesia. 

“Mereka juga banyak menyarankan jangan memaksakan diri ketika mengantuk dan jangan laju-laju,” ujarnya. (*/ap/fma)

Laporan: Adi Pranata

Silakan komentar Anda Disini....