Mengenalkan Batik Lokal Melalui Alat Pelindung Diri

oleh -
Nurdin, sedang membuat masker batik (17/11/2020). (Foto: Indrawati/KabarSelebes.ID)

PALU, Kabar Selebes –  Pandemi Covid-19 membuat pelaku usaha di Palu Sulawesi Tengah, terpuruk. Salah satunya pelaku usaha di bidang jahit.

Nurdin Hadade (60) misalnya. Penjahit dan pemilik lapak Agung Tailor di Jalan Manimbaya itu mengaku sejak Februari lalu tokonya telah tutup. “Tidak ada orang datang bajahit baju. Karena sepi jadi saya tutup,” kata Nurdin, Jumat (18/11/2020).

Menurutnya, saat pandemi semuanya serba susah. Padahal dulu sebelum pandemi omset perbulannya mencapai hingga RP. 5 juta per bulan bahkan lebih.

Beruntung awal Oktober 2020 lalu, ia kemudian diajak kerjasama dengan Duta Batik Palu, untuk membuat alat pelindung diri, berupa masker dengan motif batik.

Akhirnya kurang lebih 9 bulan tempat jahit yang tadinya tutup kini kembali dibuka. “Alhamdulillah, saat ini lapak jahitan saya sudah kembali dibuka,” katanya.

Dalam kerjasama ini, ia dibayar RP. 5.000 per masker. Dia bilang menjahit masker tidaklah sulit. Butuh waktu satu hari untuk menjahit 200 masker

Ia berharap pesanan untuk membuat masker ini terus mengalir. Ia bersyukur bisa bekerjasma dengan Duta Batik Palu.

Mengenalkan batik Palu lewat Masker

Sepak terjang dari Komunitas Batik Palu patut diacungi jempol. Pasalnya mereka berusaha memperkenalkan batik lokal Sulawesi Tengah lewat masker. Apalagi bisa membantu para penjahit bangkit dari keterpurukan di masa pandemi.

Ketua Duta Batik Palu, Zakiyah Ramayanih (28) mengatakan, ide pembuatan masker batik ini terinspirasi dari daerah di wilayah Jawa. Di mana mereka membuat masker dengan motif batik.

Atas dasar itulah ia kemudian berpikir bagaimana caranya mengenalkan batik lokal lewat masker.

“Nah, akhirnya saya dan kawan komunitas lain membahas ide pembuatan masker ini. Bertepatan dengan  Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2020 lalu, akhirnya dibuatlah masker batik khas Palu  dan bekerjasama dengan Agung Tailor,” jelas Zakiyah.

Karena baru awal, Zakiyah mengatakan saat ini baru diproduksi sebanyak 200 lembar masker batik. Harganya dibanderol Rp 20.000 saja per lembarnya.

Untuk mengerjakan pembuatan masker batik ini,  Ia melibatkan  2 UMKM di Palu, yakni pengrajin kain batik lokal dan penjahit pembuat masker. Untuk motif batik, Zakiyah memilih menggunakan batik cap karena harganya jauh lebih murah dibanding batik tulis.

Untuk pemasarannya sendiri baru sebatas dalam Kota Palu. Namun begitu ia berharap masker batik berikutnya bisa merambah daerah di luar Palu. (iz/ap/fma)

Laporan: Indrawati Zainuddin

Silakan komentar Anda Disini....