Melihat Dari Dekat Masyarakat Lembantongoa yang Menjunjung Tinggi Keharmonisan Umat Beragama

oleh -
Sejumlah warga bersama Kepolisian Resor Sigi bergotong royong membersihkan puing- puing bangunan rumah yang dibakar kelompok MIT di desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. (Foto: Mohammad Arief/KabarSelebes.ID)

SIGI, Kabar Selebes – Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah merupakan suatu daerah yang memiliki keberagaman antar umat beragama, suku, dan budaya.

Untuk sampai ke daerah yang indah akan kelestarian alamnya dan dipenuhi udara segar itu, kita harus menempuh jarak kurang lebih 69 Kilometer dari kota Palu, dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam perjalanan.

Jarak itu terhitung tiba di persimpangan Desa Tongoa. Jika dilanjutkan menuju Desa Lembantongoa harus melewati perbukitan yang berbatuan yang sebahagian jalannya telah di cor semen dengan jarak tempuh kurang lebih 8 Kilometer.

Di Desa Lembantongoa ada 5 dusun yang bergandengan dengan dua lokasi Satuan Pemukiman (SP). Di wilayah tersebut terdapat 699 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah kurang lebih 3.050 jiwa.

Di Desa itu terdapat beraga, suku. Mulai suku Bugis, Kaili, Toraja, Manado, Luwuk Banggai dan suku asli Da’a serta lokalan Kulawi yang mayoritas menganut agama Kristen sebanyak 70 persen dibanding umat Muslim 30 persen.

Meski demikian, kehidupan warga di daerah yang sejuk dan alamnya masih sangat asri itu sangat menjunjung tinggi keharmonisan antar umat beragama.

Bagaimana tidak, pada setiap kegiatan kerohanian maupun perayaan hari besar masing- masing agama, masyarakat saling membantu untuk pelayanan. Untuk membersihkan Masjid umat Kristiani turut bergotong royong membantu umat muslim, begitu sebaliknya.

“Jika ada kegiatan Halal bihalal, Maulid Nabi maupun Idul Fitri bahkan acara pesta perkawinan hingga duka. Kami umat Kristen sangat dijamu dengan baik dan diberikan posisi duduk paling depan,” ungkap Agustina Tadu (58 )ibu dari seorang pendeta bernama Witson, yang merupakan salah satu tokoh perempuan generasi pertama yang bermukim di Lembantongoa sejak tahun 1982.

Ia mengatakan, sejak dahulu di Desanya sangat menjaga dan menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Hal ini karena banyaknya warga sekitaran yang menikah silang dengan penduduk trasmigrasi lokal maupun yang baru berdatangan.

Sehingga antara satu dan lainnya, memiliki hubungan kekeluargaan dan hubungan darah. Yang terpenting kata Agustina suasana toleransi ini sudah tertanam bagi setiap warga sejak dahulu, karena menganggap tetangga adalah keluarga terdekat dibanding keluarga yang sedarah dan sesungguhnya nan jauh di kampung halaman.

“Kita disni semua saling sayang, seperti layaknya satu mama satu bapak, meskipun beda agama,” tuturnya.

Dirbinmas Polda Sulteng Kombes Pol.Mahedi Surindra, saat melakukan kunjungan ke salah satu rumah yang dibakar oleh kelompok MIT. (Foto: Mohammad Arief/KabarSelebes.ID)

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat yang juga sekaligus sebagai Imam pertama di Desa Lembantongoa yakni Sarman (64) kelahiran desa Kalukubula Kabupaten Sigi menjelaskan, dirinya masuk di Lembantongoa sejak tahun 1986. Sejak masuk di kampung itu suasana kehidupannya tidak pernah terjadi konflik warga, suku dan Agama.

“Sehingga jika adanya kejadian seperti belum lama ini, kami tokoh masyarakat, agama dan perangkat desa bersama seluruh warga hanya saling memperingati untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak mudah terprovokasi,” terangnya.

Ia mengakui, jika ada perayaan pesta maupun duka umat Kristiani di Lembantongoa, umat Muslim diberikan tempat spesial layaknya seorang raja dan duduk dibagian depan bersama keluarga inti dan tokoh umat Kristiani lainnya.

Sarman menuturkan empat warga Lembantongoa yang menjadi korban belum lama ini pihak Muslim diberikan kepercayaan keluarga dan Kepala desa untuk menggali dan mengukur luas dan panjang lokasi yang akan dijadikan liang kubur.

“Ukuran kubur ke empat korban itu 2×4, tidak sama pada umumnya. Karena mereka dimasukan dalam satu liang kubur. Bagaimana saya tidak tahu, Kamilah umat Muslim yang diberikan tanggung jawab untuk mengurus pemakaman yang saling bantu dengan keluarga dan umat Kristiani lainnya,” ujar pria paruh baya ini.

Meskipun belum lama ini warga Lembantongoa diselimuti rasa duka yang mendalam akibat kematian empat warganya di bantai kelompok bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) secara sadis dan tidak berprikemanusiaan, namun pantaun media ini Selasa (1/12/2020) kehidupan di Lembantongoa masih terlihat harmonis dan menjaga dengan erat hubungan Intoleransi umat beragama.

Di setiap sudut desa terlihat pula sifat keramahan warga sekitar yang terus memberikan senyuman manis kepada pendatang ataupun orang baru yang melintas sekedar menikmati keindahan alamnya.

Sejumlah areal persawahan yang dikelola masyarakat untuk di produksi memenuhi kebutuhan pertanian Kabupaten Sigi. (Foto: Mohammad Arief/KabarSelebes.ID)

Kekurangan Akses Internet 

Di wilayah Desa Lembantongo, Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi memiliki tiga bagunan sekolah dasar (SD) dan dua bangunan sekolah menengah pertama(SMP).

Untuk jumlah keseluruhan siswa siswi yang masih duduk di bangku SD di desa Lembantongoa berkisar hingga 200 lebih.

Menurut kepala Desa Lembantongoa, Deki Basalulu, masyarakat di wilayahnya untuk dapat berkomunikasi lewat Handphone masih sangat terbatas karena hanya ada satu Tower sebagai penghubung jaringan

“Itupun hanya untuk Tower pembuang jaringan Signal telfon saja dari Tower Induk yang mungkin berada di jalur jalan Poros Palu- Sigi, ini mestinya harus menjadi perhatian pemerintah setempat,” ujarnya.

Kata Deki selama masa Pandemi Covid -19 kita ketahui bersama pendidikan mengalami perubahan dan akses Internet sangat dibutuhkan bagi para pelajar.

Pembelajaran tatap muka antara guru dan murid diganti dengan pembelajaran secara daring.

Pembelajaran, jarak jauh  antara  guru dan siswa dengan memanfaatkan jaringan internet terkadang memunculkan masalah tersendiri bagi tenaga pengajar dan muridnya yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan jaringan internet ini.

“Jaringan internet yang minim ini menjadi kendala untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar di desa kami, apalagi siswa diharuskan mengirimkan laporan tugas rumahnya secara daring,” tuturnya.

Jadi kata Deki, setiap pelajar yang hendak mengirimkan laporan rumahnya harus berkumpul disuatu tempat di desa dulu selanjutnya secara bergerombol menuju pegunungan.

“Karena tidak ada anak- anak yang berani sendiri-sendiri makanya terpaksa harus saling menunggu, dan berkelompok jika ingin mengirim laporannya dengan guru- guru mata pelajaran,” katanya.

Bukan hanya jaringan komunikasi bagi masyarakat sekitar. Ironisnya lagi, untuk mendapatkan akses jaringan Internet, siswa siswi SD maupun SMP harus menempuh jarak 2 kilometer berjalan kaki dari desa menuju sebuah tempat di pegunungan baru bisa mendapatkan jaringan Internet.

“Siapa yang bisa beri jaminan keamanan bagi anak- anak kita, yang ternyata kami telah mengatahui bahwa tempat mendapatkan jaringan Internet itu merupakan jalur utama lintasan kelompok Teroris, cuman apa daya hanya di titik itulah anak sekolah bisa mendapatkan jaringan. Akses Internet ini sangat penting,cobalah pemerintah juga memperhatikan kami warga Lembantongoa,” ungkap Deki dengan mata berkaca-kaca dan nada bicara begitu tegas dan lantang.

Ia juga mengeluhkan bagaimana bisa anak-anak sekolah di wilayah Lembantongoa ini mau berkembang berpikir maju serta mengembangkan kreatifitasnya dalam segala aspek jika akses Internet saja tidak ada.

Sehingga kata dia, jaringan Internet saat ini sangat dibutuhkan pelajar Lembantongoa karena sebagai sarana utama media pembelajaran ditengah Pandemi Covid-19. Bagi Deki, internet juga berdampak positif untuk mendapatkan informasi, terutama bagi bisnis dan kemajuan ekonomi Desa Lembantongoa dari hasil pertanian Kakao seperti Cokelat, Kopi, Vanili dan buah Kemiri.

Satu Regu TNI Angkatan Darat dari pasukan Indak 502 Batalyon Infanteri Para Raider Kostrad tengah melakukan pengejaran terhadap kelompok MIT. (Foto: Mohammad Arief/KabarSelebes.ID)

Butuh Perbaikan Jalur Transportasi Darat

Kepala Desa Lembantongoa menyebutkan untuk setiap Desa mendapat pembagian dana Desa sebesar 800 Juta pertahun. Selama ini dana itu lebih banyak diperuntukan untuk drainase, karena memang letak dan kondisi desa Lembantongoa sangat memerlukan jalur keluar masuknya air, baik itu dari depan rumah warga hingga untuk keperluan para petani di daerah persawahan.

Wilayahnya ini juga merupakan daerah yang membayar pajak bumi bagunan(PBB) tertinggi se Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi.

“Pembayaran PBB selama ini, khusus desa Lembantongoa sebesar Rp. 20 Juta. Jika dibanding daerah lainnya di kecamatan Palolo hanya berkisar 15-16 juta, tetapi dengan pembayaran pajak begitu tinggi kami merasa di anak tirikan karena kurangnya perhatian pemerintah untuk memberikan akses layanan perbaikan transportasi darat yang hingga kini masih sangat miris,” keluh Deki saat ditemui media ini di rumahnya, Selasa(1/12/2020).

Padahal kata Deki, jika akses transportasi darat diperbaiki tentunya bisa meningkatkan ekonomi mandiri khusus bagi warga desa Lembantongoa, tanpa terkecuali bisa membantu pemerintah kabupaten Sigi dalam meningkatkan pendapatan daerah( PAD) dari hasil pertanian yang telah di olah masyarakat sekitar.

Seperti Cokelat dan yang menjadi hasil favorit utama di desa ini yakni Kopi dan Vanili. Adapula yang kini mulai dikembangkan yakni buah Kemiri.

Kopi Jember jenis Robusta hasil dari pertanian warga Desa Lembantongoa (Foto: Mohammad Arief/KabarSelebes.ID)

Pentingnya Sektor Pertanian Bagi Masyarakat

Kita ketahui bersama, pertanian memiliki peran penting dalam transformasi ekonomi perdesaan. Namun, pertumbuhan ekonomi di Indonesia saat ini tidak bisa dipungkiri,di segala aspek tanpa terkecuali dari sektor pertanian sangat merosot sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Padahal selain untuk pemenuhan kebutuhan pokok, sektor pertanian berperan sebagai penopang stabilitas makroekonomi, penciptaan nilai dalam perekonomian dan lapangan kerja.

Namun demikian, sebagian besar masyarakat Lembantongoa yang bergantung pada hasil pertanian Cokelat, Vanili, Kopi, buah Kemiri dan beberapa di antaranya mengelola persawahan untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari tidak terlalu merasakan dampak dari adanya wabah Covid-19.

Menurut Deki Basalulu yang mempengaruhi sirkulasi perekonomian desa yang bersumber dari sektor pertanian desa yakni akses jalur transportasi yang tidak memadai dan kurangnya perhatian pemerintah untuk membenahi jalan menuju desa.

Hal itu diperparah lagi akibat adanya kejadian sadis yang menimpa empat warga yang dibunuh secara sadis oleh kelompok MIT pekan lalu.

“Bulan ini sebenarnya sudah musim panen Kopi, tetapi apa daya kejadian yang begitu sadis ini membuat warga sekitar tidak berani untuk memanen , apalagi jika warga punya kebun Kopi di bagian pegunungan,”tuturnya.

Ia menyebutkan, untuk desa Lembantongoa pada tahun 2017 dan 2018 sudah pernah melakukan ekspor Kopi sebanyak 100 Ton. Di mana Kopi yang dikelola masyarakat sekitar berbagai variabel antaranya Kopi Jember dan Kopi Lampung jenis Robusta.

“Namun saat ini perputaran ekonomi dari hasil pertanian sudah beberapa tahun ini mati harga karena kurangnya pembeli dari Jakarya yang masuk membeli akibat akses jalan rusak serta keterbatasan informasi lantaran jaringan internet. Ditambah lagi aksi teroris ini, bagaimana mau maju dan berkembang jika hal ini terus terjadi dan menyelimuti desa Lembatongoa,” jelasnya.

Sementara itu, warga Dusun 2 Desa Lembantongoa ibu Wosten (34) menyebutkan harga Kopi saat ini 20 ribu perkilo. “Tidak seperti biasanya hingga 25 ribu perkilo, ditambah dengan kejadian ini tentunya pasti akan berdampak buruk bagi petani Kopi karena harganya turun,” ujarnya.

Deki melanjutkan, rumah tangga di perdesaan Lembantongoa relatif heterogen dalam aspek aktivitas yang dilakukan. Sumber pendapatan rumah tangga perdesaan berasal dari pertanian, dan tenaga kerja upahan di desa, ataupun dari migrasi.

“Hampir rata-rata rumah tangga di Lembantongoa memiliki kebun Kopi, dan Cokelat dan sebahagian juga mulai memperluas areal persawahan,” tambahnya.

Lantaran kontruksi tanah yang subur di Desa itu kini kian berkembang aktivitas-aktivitas di bagian hilir yaitu dengan mulai mencoba melakukan penanaman Kemiri untuk diproses ataupun didistribusikan.

Meningkatnya pendapatan menyebabkan konsumsi rumah tangga tani meningkat. Hal ini berarti permintaan barang ataupun jasa yang dihasilkan sektor pertanian meningkat.

Deki berharap, pemerintah setempat dapat lebih memperhatikan akses jalur trasportasi darat untuk diperbaiki dan akses Internet agar masyarakat sekitar dapat melakukan pengembangan dan peningkatan ekonomi melalui sektor pertanian.

“Utamanya akses Internet, karena para pelajar SD maupun SMP sangat membutuhkan hal tersebut demi kepentingan pendidikan,” pungkasnya.

Salah satu warga Dusun 2, Desa Lembantongoa, Kabupaten Sigi sedang memanen hasil pertanian Kopi Jember. (Foto: Mohammad Arief/KabarSelebes.ID)

Kembali Kondusif Pasca Perstiwa Pembunuhan

Sementara, hingga saat ini situasi keamanan di wilayah Lembantongoa pasca kejadian pembantain empat warga sipil, sudah berangsur kondusif aman. Berdasara pantauan, aparat gabungan TNI / Polri telah bersiaga di sekitar lokasi.

Pemerintah setempat bersama aparat Kepolisian Sulawesi Tengah, juga telah memberikan bantuan sembako terhadap keluarga korban pembantaian.

Aktifitas Trauma Healing juga sudah dilakukan pihak Polda Sulteng, untuk meredam dan menghilangkan rasa kecemasan dan trauma yang timbul di masing- masing warga desa Lembantongoa.

Akfitas pertanian juga masih terus berjalan seperti biasa, namun warga yang memiliki kebun di pinggiran desa dan harus melewati pengunungan untuk sementara dihentikan.

Lantaran rasa ketakutan dan dibawah trauma yang mendalam, sehingga beberapa warga masih ada yang mengungsi mengamankan diri di rumah keluarga mereka yang ramai akan aktifitas penduduk.

Sedangkan, saat ini beberapa rumah yang dibakar oleh kelompok MIT pihak Polda Sulteng melalui Kepolisian Resor Sigi telah bergotong royong membersihkan puing- puing sisa bangunan.

Pembersihan itu dilakukan menindaklanjuti rencana pemerintah melakukan pembangunan kembali terhadap sejumlah rumah yang dibakar agar bisa difungsikan kembali oleh keluarga korban yang tersisa dan masih berhasil menyelamatkan diri.

Aparat berwenang juga diharapakan agar segera menuntaskan dan menumpas habis gerombolan kelompok MIT ini yang terus mengancam keselamatan warga Sulteng, khususnya daerah Lembantongoa yang diketahui notabenenya sebagai jalur aktif lintasan para kelompok Mujahidin Indonesia Timur sejak tahun 2017. (maf/ap/fma)

Laporan : Mohammad. Arief

Silakan komentar Anda Disini....