Berkah di Tengah Pandemi, Pendapatan Nelayan Talise Kota Palu Meningkat Pesat

oleh -
Arham, Nelayan Talise Kota Palu

PALU, Kabar Selebes – Musim pagebluk meluluhlantakan perekonomian sebagian masyarakat. Meski begitu, hal sebaliknya justru dirasakan oleh nelayan di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan walau pandemi Covid-19 selalu ludes diborong oleh pembeli.

Hal demikian dialami salah satunya oleh Arham (51), nelayan asal Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu. Pria paruh baya yang juga Ketua Kelompok Nelayan Kelurahan Talise mengaku ikan dari hasil melaut dalam sehari selalu habis dibeli oleh masyarakat setempat.

“Malah kami yang biasa kekurangan ikan,” ujar bapak dari 3 orang anak ini ketika ditemui KabarSelebes.ID, Kamis (17/12/2020).

Varietas ikan yang didapat dari melaut beragam jenis. Mulai dari ikan Katombo, Layur, Rubi Snapper (Ikan emas), hingga ikan Bayaba. Ikan-ikan itu Arham dapatkan dari hasil tangkapan di sekitaran teluk Palu hingga ke daerah lautan Wani, Donggala, bahkan tembus ke Pasang Kayu, Sulawesi Barat.

Dari berbagai jenis ikan tangkapan itu yang paling doyan dicari oleh pembeli kata dia ialah Katombo atau biasa disebutnya dengan ikan kembung. Dia bilang belakangan dalam satu hari bahkan para nelayan di Talise bisa meraup keuntungan mulai dari 300 ribu –400 ribu rupiah.

Belum lagi jika durasi waktu melaut yang lama. Dalam 3 hari misalnya, nelayan di Talise bisa mengumpulkan hingga 1,5 juta rupiah satu kali jual.

“Tergantung ikan, kayak ikan kembung (Katombo) kan dia punya musim, ketika musimnya tiba, sampai 6 bulan itu bahkan sampai 1 juta sehari,” ungkapnya.

Menurut Arham penyebab banyaknya pembeli walau musim pandemi ialah masyarakat di Kota Palu yang doyan makan ikan. Hal itu cukup dirasakan sebab tak jauh dari tempatnya melaut dia dibantu sang istri dan anak membuka warung makan.

Penjualan di tempat itu kata dia juga biasa dibantu oleh anaknya lewat aplikasi jualan online selama pandemi Covid-19. “Kan sudah canggih sekarang, tinggal di pencet selalu ramai pembeli,” katanya

Dengan berbagai upaya itu tak heran meski di tengah pandemi dia bersama 137 nelayan lainnya yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Kelurahan Talise masih bisa bertahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Meski begitu, Arham mengaku tetap memiliki permasalahan yang tak jarang membuat para nelayan merugi. Salah satunya ialah kerusakan perahu diakibatkan tumpukan batu atau tanggul pemecah ombak di teluk Palu pasca terjadinya tsunami 28 September 2018.

Beberapa perahu warga yang di sandarkan di bibir pantai rusak apabila terjadi badai karena bertabrakan dengan tumpukan batu di sepanjang bibir pantai.

“Kalau seandainya ada penangkar ombak biar badai bagaimana tetap di sini teduh,” katanya.  (ap/fma)

Laporan: Adi Pranata.

Silakan komentar Anda Disini....
(Visited 47 times, 1 visits today)