Bandar Narkoba Sasar Masyarakat Pedesaan di Sulteng, Kok Bisa?

oleh -
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulteng, Brigjen Pol Monang Situmorang (Kiri), didampingi Kabag Umum Wati (Kanan), saat memberi keterangan pers akhir tahun di kantor BNNP Sulteng, Jalan Dewi Sartika, Kota Palu, Rabu, (30/12/2020).(Foto: Mohammad Arief/KabarSelebes.ID)

PALU, Kabar Selebes – Badan Narkotika Nasional Provinsi ( BNNP) Sulawesi Tengah menyatakan kini peredaran narkoba lebih cendrung merambah ke berbagai wilayah pedesaan tanpa batas.  Tak hayal, kondisi itu menyebabkan peredaran narkoba di wilayah Indonesia khususnya di Sulteng tak terbendung lagi dan dihadapkan pada situasi darurat narkoba.

Kepala BNN Sulteng, Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol) Monang Situmorang menyebutkan, bandar narkotika di Sulteng menyasar masyarakat pedesaan sebab mereka menganggap masyarakat di Desa belum paham dampak dari penyalahgunaan narkotika.

“Mereka belum mengetahui serta memahami dampak dari narkotika sehingga bandar narkoba Sulawesi tengah ini lebih cenderung menyasar masyarakat pedesaan,” katanya dalam konferensi pers akhir tahun di kantor BNNP Sulteng, Jalan Dewi Sartika, Kota Palu, Rabu, (30/12/2020).

Monang menuturkan Indonesia saat ini dihadapi situasi darurat narkoba bukan tanpa alasan. Hal itu diketahui berdasarkan data yang ada, kematian akibat penggunaan narkoba pada tahun 2019 tercatat sekitar 18 ribu orang.

Dia pun menyebut salah satu indikator darurat karena peredaran narkoba saat ini sudah masuk hingga ke pelosok Desa.

Dijelaskan data prevalensi di Sulawesi Tengah berdasarkan hasil survey Puslitdatin BNN RI tahun 2017 sebesar 1,70 %, dengan jumlah yang terpapar sebesar 36.594 jiwa.

Sedangkan hasil survey LIPI tahun 2019, data prevalensi meningkat menjadi 2,80 % dengan jumlah yang terpapar berjumlah 52.341 jiwa.

Berdasarkan peningkatan data itu ia menyebut Provinsi Sulteng saat ini berada di urutan Ke-4 dari 34 Provinsi di Indonesia dalam kasus narkoba terbanyak.

Olehnya kata Monang, pihak BNNP Sulteng akan melakukan tiga langkah strategi kebijakan dalam Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

Langkah pertama yakni pencegahan, dengan sosialisasi, penyuluhan dan pembentukan pegiat anti narkotika, di seluruh tingkat masyarakat.

Langkah kedua dengan rehabilitasi, dengan jumlah pemakai 52 ribu. Upaya rehabilitasi penting dilakukan agar tidak memunculkan korban yang lebih banyak.

Selanjutnya, langkah ketiga sebut Monang, dengan menggencarkan melakukan  pemberantasan. Dia bilang terkait hal ini perlu peran semua pihak elemen masyarakat dan bersinergi dalam pemberantasan penyalahguna narkotika.

Lebih jauh kata Monang, melalui sosialisasi ataupun penyuluhan tentunya  masyarakat nanti akan paham dan sudah mengerti dan tentang bahaya narkoba. Upaya itu diharapkan menyadarkan masyarakat secara perlahan akan bahaya narkona bahkan tidak akan mau mengkonsumsi barang haram tersebut.

Demikian, BNNP Sulawesi Tengah menegaskan akan terus mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut serta perang melawan narkoba.

“Kita tidak mau generasi muda kita hancur karena Narkoba. Mari perang melawan Narkoba dijadikan kewajiban kita semua,” imbuhnya. (maf/ap)

Laporan : Mohammad Arief

Silakan komentar Anda Disini....