Selama Tahun 2020, Hanya 5 Instansi di Sulteng yang Responsif Terhadap Penyalahgunaan Narkotika

oleh -
Pemusnahan barang bukti narkoba oleh pihak Polda Sulteng pada tahun 2020. (Foto: Mohammad Arief/KabarSelebes.ID)

PALU, Kabar Selebes – Dari 47 instansi yang ada di Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tengah (Sulteng), hanya ada 5 instansi yang responsif terhadap penyalahgunaan narkotika.

Hal itu diketahui berdasarkan dari hasil pendataan, yang telah mendapatkan advokasi dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulteng.

“Pada tahun 2020 BNNP Sulteng telah memberikan layanan advokasi dengan target yang responsif dari 11 instansi adalah 4 instansi, dan diakhir evaluasi, didapatkan 5 instansi yang responsif, ” terang Kepala BNNP Sulteng, Brigadir Jenderal Polisi Monang Situmorang, Selasa (05/01/2021)  .

Menurut Monang, BNNP Sulteng terus mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berperan serta aktif mencegah penyalahgunaan narkoba.

Untuk itu, selain upaya pencegahan, pihaknya memberi pelatihan pengembangan kapasitas kepada masyarakat maupun intansi pemerintahan agar mampu menjadi penggiat-penggiat yang aktif di lingkungannya dalam mencegah peredaran gelap narkoba.

Dijelaskan pada bulan Januari hingga Desember tahun anggaran 2020, Instansi pemerintah yang mendapatkan pengembangan kapasitas adalah Instansi yang berada di wilayah ibu kota Provinsi berjumlah 30 orang terdiri atas 7 instansi pemerintah di lingkungan Provinsi Sulteng.

Pihaknya kata dia juga melakukan upaya bimbingan teknis kepada 14 instansi swasta atau badan usaha yang berjumlah 30 orang.

Sasaran lainnya yakni lingkungan Pendidikan. Dia bilang ada 30 orang dari 21 instansi pendidikan mendapatkan bimbingan teknis terkait pengembangan kapasitas P4GN.

“Tidak hanya itu, lingkungan masyarakat terutama parah tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan dan tokoh masyarakat juga mendapatkan peningkatan kapasitas P4GN. Jumlahnya adalah 30 orang dari 10 desa di kabupaten Sigi, ” terangnya.

Monang menambahkan, program pemberdayaan alternatif juga dilakukan pada wilayah rawan penyalahgunaan narkoba, seperti wilayah Kelurahan Tavanjuka dan Kelurahan Palupi di Kota Palu.

“Program pemberdayaan ini menyasar 15 orang dari kedua wilayah tersebut. Life-Skill yang diberikan adalah pelatihan pembuatan kerajinan lidi,” pungkasnya. (maf/ap/fma)

Laporan : Mohammad. Arief

Silakan komentar Anda Disini....