Hasil Produksi Kedelai di Sulteng Capai 1,2 Ton

oleh -
Stok kedelai di salah satu pabrik pengolahan tahu di Kota Palu. (Foto : Rifaldi Kalbadjang/KabarSelebes.id)

PALU, Kabar Selebes – Pasca naiknya harga kedelai, hampir seluruh wilayah di Indonesia yang merasakan dampak, salah satunya Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

Apalagi, hasil produksi kedelai berdasarkan catatan Dinas Holtukultura dan Tanaman Pangan Sulteng baru mencapai 1,2 ton per hektare pada 2019.

“Di Sulteng, baru Kabupaten Banggai, Parigi Moutong, dan Poso yang menjadi lumbung penghasil terbesar kedelai. Pada tahun 2019, realisasi tanam kedelai di Sulteng mencapai 3.633 hektare dengan rata-rata hasil produksi 1,2 ton per hektare,” terang Kepala Dinas Hortikultura dan Tanaman Pangan Sulteng, Trie Iriany Lamakampali menyikapi naiknya harga kedelai, Kamis (7/1/2021).

Ia mengatakan, kurangnya stok kedelai sebabkan ketersedian dari benih kedelai.

Hal itu, kata dia, yang menjadi kendala utama bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng dalam upaya untuk menggenjot produksi kedelai.

“Kalaupun ada produksi di Sulteng, tetapi antara kebutuhan dan ketersediaan stok tidak seimbang. Artinya, masih lebih besar kebutuhan dari ketersediaan,” ungkapnya.

Kendala lainnya, kata dia, sebagian besar petani terkesan takut untuk menanam kedelai, karena harga jualnya saat panen.

Dalam beberapa musim, petani terpaksa harus merelakan hasil panen kedelai dijual dengan harga murah, karena banyaknya stok impor.

“Karena adanya impor dan harga yang murah, tentu hasil produksi petani kita akan terganggu harganya. Ini perlu menjadi perhatian pemerintah. Sekalipun ada impor harus diperhatikan hasil produksi petani kita,” ujarnya.

Ia berharap, naiknya harga kedelai saat ini bisa memacu semangat petani untuk kembali menanam kedelai.

Bahkan, pemerintah tetap akan memberikan bantuan dalam produksi kedelai.

Disebutkannya, bantuan pemerintah yang ditetapkan terdiri sarana produksi meliputi benih kedelai bersertifikat, pupuk hayati, rhizobium dan herbisida yang diberikan kepada kelompok tani atau Gapoktan.

“Produksi kedelai di Sulteng ditargetkan paling tidak harus mencapai 7.523 hektare dengan kontribusi dari Oktober, November, Desember 2020 sampai September tahun berjalan di 2021,” kata Trie.

Ia mengaku tetap optimis, karena dari target tersebut telah terealisasi produksi mencapai 2.294 hektare dalam tiga bulan terakhir pada 2020 lalu.

Optimisme itu, dikuatkan dengan adanya program Upsus Pajale (Padi, Jagung, dan Kedelai) yang dibiayai melalui APBN.

“Berkat Upsus Pajale, Sulteng pernah cukup lumayan produksi kedelai di tahun 2018, saat becana gempa. Intinya sekarang tinggal dari petani kita, ada atau tidak produksi,” tandasnya. (rkb/rlm/fma)

Laporan : Rifaldi Kalbadjang

Silakan komentar Anda Disini....
(Visited 36 times, 1 visits today)