Abaikan Protokol Kesehatan, Warga Pengungsi Seruduk Rujab Wabup Mamuju Demi Bantuan Logistik

oleh -
Beberapa orang warga pengungsi tengah mengisi formulir sebagai syarat untuk mendapatkan bantuan logistik yang dibagikan di Rujab Wabup Mamuju, di Jalan Ahmad Kirang, Senin (18/1/2021) pagi. (Foto : Muhammad Arif/KabarSelebes.id)

MAMUJU, Kabar Selebes – Memasuki hari keempat pasca bencana alam yang terjadi di Majene dan Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Rumah Jabatan (Rujab) Wakil Bupati (Wabup) Kabupaten Mamuju di seruduk ratusan warga pengungsi.

Ratusan warga itu terpaksa harus berdesak- desakan dan mengabaikan protokol kesehatan demi mendapatkan bantuan logistik dan keperluan darurat pasca bencana.

Pantauan media ini, akibat kerumunan warga pengungsi yang bedesak-desakan di depan pintu gerbang Rujab Wabup Mamuju, yang terletak di Jalan Ahmad Kirang Kelurahan Binanga, Kecamatan Mamuju, mengakibatkan arus lalulintas terganggu hingga menimbulkan kemacetan.

Dari keterangan H. Irman (41) yang merupakan salah satu warga pengungsi kepada KabarSelebes.id, Senin (18/1/2021), kerumunan tersebut sudah terjadi sejak Sabtu (16/1/2021), untuk mendapatkan bantuan logistik berupa sembako, air mineral, terpal maupun kebutuhan bayi.

Hanya saja, Irman mengaku untuk mendapatkan bantuan logistik tersebut para pengungsi harus membawa Kartu Keluarga (KK) dan mengisi formulir yang telah disediakan petugas di tempat itu.

Ratusan warga pengungsi yang berdesak-desakan demi mendapatkan bantuan logistik tanpa memperhatikan protokol kesehatan di pintu gerbang Rujab Wabup Mamuju, di Jalan Ahmad Kirang, Senin (18/1/2021) pagi. (Foto : Muhammad Arif/KabarSelebes.id)

“Saya menunggu di depan sini sejak pukul 07.00 WITA hingga saat ini, namun belum ada satupun warga yang diberikan bantuan, karena harus mengisi formulir berdasarkan KK,” akunya.

Irman pun mengkeluhkan aturan yang diberlakukan untuk mendapatkan bantuan logistik tersebut.

Pasalnya, pemerintah sudah jelas mengetahui hampir seluruh warga terdampak bencana.

Ditambah lagi, kata dia, hampir sebagian besar pedagang kebutuhan sehari-hari masih tutup.

“Kalau begini terus bisa kacau, karena warga sudah kelaparan tetapi harus direpotkan lagi  mengisi formulir dan membawa KK,” keluhnya.

Marlia (39) salah satu pengungsi yang kini membangun tenda di Stadion Manakarra juga mengkeluhkan hal yang sama.

“Kami sudah kelaparan dan kekurangan air minum hampir dua hari ini. Masa harus begini. Nanti sudah ada warga yang mati kah, baru diperhatikan pemerintah dan bantuan itu di serahkan ke warga,” keluh Marlia dengan nada keras yang dari raut wajahnya terlihat menahan emosi.

Beda halnya dengan Sukmadi, salah seorang pengungsi di sekitaran wilayah Pambu, Mamuju.

Ia menuturkan, kerumunan dan desak-desakan ini semestinya tidak terjadi jika warga mau bersabar dan antrian mengikuti arahan dari petugas yang membagikan bantuan logistik.

“Jadi sudah disampaikan sejak hari Sabtu, jika ingin mengambil sembako harus dikordinir oleh ketua posko yang sudah dibentuk. Selanjutnya, ketua masing-masing posko mengisi Formulir yang telah disediakan berdasarkan KK setiap warga,” ujar Sukmadi. (maf/rlm/fma)

Laporan : Mohammad Arief

Silakan komentar Anda Disini....
(Visited 38 times, 1 visits today)