Aktifitas Kegempaan Meningkat, Masyarakat Diminta Tidak Panik

  • Bagikan
Gedung Kantor Gubernur Sulawesi Barat yang roboh akibat gempa Magnitudo 6,2 beberapa waktu lalu. (Foto: Mohammad Arief/KabarSelebes.ID)

PALU, Kabar Selebes – Aktifitas kegempaan di beberapa wilayah Indonesia sejak awal Januari 2021 sedang mengalami peningkatan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta agar masyarakat untuk tetap waspada dan tidak panik.

Selama periode 1 hingga 22 Januari 2021 saja BMKG mencatat gempa dirasakan sebanyak 59 kali. Jumlah ini tergolong tinggi, dan hampir setiap hari terjadi gempa dirasakan. Bahkan pada 14 Januari 2021 lalu dalam sehari terjadi gempa dirasakan sebanyak 8 kali.

“Jika kita ingin mewaspadai titik-titik rawan bencana gempa dapat didasarkan pada kawasan yang diduga menjadi seismic gap, yaitu zona gempa potensial tetapi sudah sangat lama tidak terjadi gempa yang patut diwaspadai,” kata Deputi bidang Geofisika, Muhammad Sadly, Minggu (24/01/2021) .

Dia lebih lanjut mengungkapkan, kawasan seismic gap di zona sumber gempa megathrust yaitu berada di Kep Mentawai Sumbar, Selat Sunda, Selatan Bali, Sulawesi Utara, Laut Maluku, Utara Papua, dan Laut Banda.

Sementara untuk wilayah seismic gap di zona sumber gempa Sesar Aktif adalah Sesar Lembang (Jabar) dan Sesar Matano (Sulteng), Sesar Sorong (Papua Barat) dan Sesar Segmen Aceh.

“Sebaiknya selalu patut waspada untuk setiap sumber gempa yang ada karena gempa dapat terjadi kapan saja dan dapat terjadi tidak hanya di zona seismic gap saja, ” imbuhnya.

Selanjutnya, ia juga menyebut gempa di Majene dan Mamuju hasil monitoring BMKG hingga Sabtu 23 Januari 2021 pukul 11.00 WITA telah terjadi sebanyak 34 kali gempa susulan (sementara). Total gempa sejak gempa pembuka (14/1/2021) tercatat sebanyak 43 kali dengan gempa dirasakan sebanyak 7 kali.

Jika dicermati, aktivitas gempa di Majene produktivitas gempa susulannya sangat rendah dan cenderung jarang terjadi gempa susulan. Namun demikian masyarakat diimbau untuk tetap waspada.

“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada. BMKG tidak menginstruksikan agar pengungsi untuk kembali ke rumah masing-masing,” katanya.

Dia menuturkan, hasil analisis peluruhan menunjukkan bahwa diperkirakan gempa susulan akan berakhir sekitar 3-4 minggu pasca gempa utama (15/1/2021), dengan intensitas dan frekwensi yang semakin menurun.

Hasil perhitungan ini meskipun menggunakan formula dan metode yang sahih namun bukan menjadi hitungan yang pasti akan tetapi dapat digunakan sebagai gambaran estimasi kapan gempa susulan akan berakhir.

Berdasarkan beberapa hal tersebut di atas BMKG merekomendasikan agar masyarakat mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan dengan kekuatan signifikan seperti lazimnya pasca terjadi gempa kuat.

“BMKG akan tetap memonitor dan mengupdate perkembangan gempabumi tersebut. Masyarakat yang tempat tinggalnya sudah rusak atau rusak sebagian, diimbau untuk tidak menempati lagi karena jika terjadi gempa susulan signifikan dapat mengalami kerusakan yang lebih berat bahkan dapat roboh,” tambah Sadly.

Demikian, masyarakat diminta agar mewaspadai dengan kawasan perbukitan dengan tebing curam karena gempa susulan signifikan dapat memicu longsoran dan runtuhan batu. Apalagi saat ini musim hujan yang dapat memudahkan terjadinya proses longsoran karena kondisi tanah lereng perbukitan basah dan labil.

Terkhusus di pesisir Majene yang pernah terjadi tsunami pada tahun 1969, masyarakat yang bermukim di wilayah itu perlu waspada jika merasakan gempa kuat agar segera menjauh dari pantai tanpa menunggu peringatan dini tsunami dari BMKG.

Masyarakat juga diminta tidak percaya berita bohong (hoax) dan untuk tetap tenang tetapi waspada, serta mengikuti informasi yang bersumber dari lembaga resmi sepeti BMKG dan arahan dari BNBP/BPBD. (maf/ap/fma).

Laporan : Mohammad Arief.

Silakan komentar Anda Disini….
  • Bagikan