The Rainforest Alliance dan Pemkab Poso Gelar Lokakarya Regional

  • Bagikan
Penyerahan berkas dokumen MoU usai melakukan penandatanganan antara The Rainforest Alliance dan Dinas Pertanian Poso, Kamis (28/1/2021). (Foto : Istimewa)

POSO, Kabar Selebes – The Rainforest Alliance dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Poso melalui Dinas Pertanian menggelar lokakarya regional transformasi sektor kakao di Indonesia, Kamis (28/1/2021).

Kegiatan yang dilaksanakan di Kantor Dinas Pertanian Poso secara virtual itu, sebagai upaya membangun sinergitas dalam program pengembangan sektor pertanian khusus kakao bagi petani kecil.

Hadir pula Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Kasdi Subagyo selaku pemateri dalam kegiatan itu.

Selain itu, kegiatan tersebut, juga dihadiri langsung Kepala Dinas Pertanian Poso, Suratno bersama Senior Associate Cocoa The Rainforest Alliance, Mochammad Subkhi Hestiawan, Fabian Amir selaku Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Poso, Ketua Koperasi KSU Karya Bersama Pamona Selatan, dan perwakilan petani serta penyuluh.

Dalam kegiatan itu, dirangkaikan dengan penandatanganan MoU antara The Rainforest Alliance bersama Dinas Pertanian Poso dalam program Tractions Traksi, Transformasi Sektor Kakao di Indonesia melalui penambahan nilai bagi petani kecil.

Suratno mengaku sangat berterima kasih atas perhatian The Rainforest Alliance terhadap petani kakao di Pamona Selatan, yang telah mendukung penuh seluruh kegiatan, yang akan dilaksanakan melalui kegiatan proyek hingga 5 tahun mendatang.

Ketua Koperasi KSU Karya Bersama Pamona Selatan, Ridwan Binilang, mengungkapkan permasalahan pengembangan koperasi adalah akses permodalan.

Koperasi akan selalu melakukan perbaikan manajemen dan peningkatan produktivitas, kualitas serta layanan anggota, tetapi membutuhkan dukungan dalam mengakses permodalan.

Sehingga lebih banyak petani yang akan mendapatkan manfaat dari kegiatan koperasi.

Menurutnya, program yang akan difokuskan di Pamona Selatan sebagai sentra kakao di Kabupaten Poso, diharapkan terjadi proses tukar pengetahuan antar petani dan organisasi, sehingga dampak positifnya akan meluas.

Proses pengolahan fermentasi, kata dia, juga akan meningkatkan kesadaran petani akan nilai dari kakao yang dihasilkan dan dapat menciptakan lebih banyak alternatif pasar, yang akan memudahkan petani memilih praktek serta segmentasi sesuai.

“Tentunya potensi pendapatannya akan meningkat, karena akan lebih banyak panen yang bisa dijual. Kemudian meningkatkan keinginan petani untuk berinvestasi di kebun serta menerapkan praktek pertanian yang lebih produktif, tanggap iklim dan lestari terhadap lingkungan,” ucapnya.

The Rainforest Alliance adalah organisasi nirlaba internasional dan sudah ada di Indonesia selama lebih dari 16 tahun terdaftar sebagai PT Rainforest Alliance.

Organisasi ini telah membangun hubungan jangka panjang dengan organisasi masyarakat, LSM, universitas lokal, lembaga pemerintah, asosiasi industri dan perusahaan individu untuk membangun kapasitas serta menghasilkan pasar yang transparan maupun kompetitif.

Tidak hanya itu, organisasi tersebut, juga dapat membangun insentif kebijakan untuk pengelolaan berkelanjutan, peningkatan mata pencaharian, dan konservasi keanekaragaman hayati.

Pada 2011 lalu, The Rainforest Alliance dan LSM Kalimajari meluncurkan program percontohan yang berhasil membantu petani kecil di Jembrana, Bali, meningkatkan pendapatan mereka melalui produksi kakao fermentasi bernilai tinggi dan akses yang lebih baik ke pasar khusus. Proyek percontohan ini berhasil menggandakan pendapatan lebih dari 600 petani kecil dan mengurangi tingkat pengangguran di pedesaan.

Proyek TRAKSI mengadopsi keberhasilan program percontohan tersebut ketujuh daerah penghasil kakao lainnya di seluruh Indonesia. Tujuan utama proyek ini adalah membantu petani kecil meningkatkan hasil dan meningkatkan peluang pendapatan mereka melalui produksi serta perbaikan mutu biji kakao.

Proyek ini didanai oleh Kementerian Luar Negeri Belanda, bekerjasama dengan Netherlands Enterprise Agency (RVO) melalui Fasilitas SDG Partnership (SDGP), dan dukungan dana pendukung dari The Rainforest Alliance beserta para mitra dalam konsorsium, dengan periode intervensi proyek selama lima tahun. (rdn/rlm/fma)

Laporan : Ryan Darmawan

Silakan komentar Anda Disini….
  • Bagikan