Siasat DLH Palu Atasi Mandeknya Anggaran Operasional Pengelolaan Sampah

oleh -
Alat berat beroperasi di Tempat Pembuangan Akhir, Kelurahan Kawatuna, Kota Palu, Sulawesi Tengah. (Ilustrasi: Adi Pranata/KabarSelebes.ID)

PALU, Kabar Selebes – Belum cairnya anggaran operasional pengelolaan sampah di awal tahun 2021 membikin Dinas Lingkungan Hidup kota Palu sedikit kewalahan. Terhitung sudah tiga kali DLH melakukan pinjaman dana secara mandiri menyiasati agar pengelolaan sampah tetap bisa berjalan.

Sekertaris DLH Palu, Firman menuturkan, mandeknya anggaran disebabkan oleh perubahan sistem keuangan di pemerintah pusat. “Kalau dulu kan pakai aplikasi SIMDA (Sistem Informasi Manajemen Daerah), sekarang secara nasional ada SIPKD (Sistem Informasi Pemerintahan Daerah),” katanya saat ditemui KabarSelebes.ID di kantornya, Senin (01/02/2021).

Dengan perubahan sistem itu, menurutnya hingga bulan kedua di tahun 2021 DLH Palu belum mengetahui secara pasti jumlah uang persediaan (UP) yang akan diberikan oleh pengelola keuangan di pemerintahan setempat.

Beruntung kata dia anggaran untuk biaya Bahan Bakar Minyak (BBM) kendaraan pengangkut sampah tahun 2020 lalu masih tersisa, sehingga bisa dialihkan untuk operasional di awal tahun 2021.

“Itulah yang kami pakai di awal tahun minggu pertama,” katanya. 

Akan tetapi lanjut dia, memasuki minggu kedua dana itu sudah tak lagi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan operasional, sehingga mau tidak mau harus melakukan pinjaman mandiri.

Bahkan, kordinator lapangan pengangkutan sampah DLH Palu, Muhsen, mengaku pekerja harus membeli BBM dengan dana milik pribadi agar tetap bisa bekerja.

“Alhamdulilah teman-teman punya insiatif sendiri untuk membeli BBM, tapi di satu sisi lagi BBM di pertamina itu kosong,” katanya.

Menurutnya, upaya itu terpaksa dilakukan oleh pekerja agar tetap bisa bekerja memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Belum lagi kata dia urusan sampah di perkotaan yang setiap harinya terus membludak.

Dua Minggu Bekerja Gunakan Dana Pinjaman

Jika dirinci dibutuhkan anggaran sebanyak 49 juta agar kendaraan operasional sampah tetap bisa bekerja selama dua minggu.

Firman merinci, anggaran itu antara lain digunakan untuk kesediaan BBM tiap armada per hari dengan total Rp 3,8 juta dengan jumlah unit ada sebanyak 39. Selanjutnya untuk alat berat yang beroperasi di tempat pembuangan akhir di kelurahan Kawatuna sebanyak Rp. 11,7 juta selama satu bulan.

Untuk memenuhi kebutuhan itu, pihak DLH telah melakukan pinjaman mandiri sebanyak tiga kali sebab mandeknya anggaran di awal tahun ini. Terakhir pinjaman dana sebanyak 20 juta untuk target operasional selama 4 hari.

“Jadi sudah dua minggu ini kami bekerja dengan mencari anggaran sendiri,” ujarnya.

Meski tetap bekerja dengan dana yang terbatas, pengangkutan sampah menjadi tidak efektif seperti hari biasanya. Firman bilang dalam beberapa hari belakangan pekerja pengangkut hanya fokus bekerja di wilayah yang volume sampahnya membludak.

Tak hanya sampah, untuk perawatan lingkungan lain di perkotaan kata dia juga masih terkendala sebab anggaran yang belum cair. Ia pun mengaku masih menunggu kepastian dari pemerintah kota dan juga provinsi terkait dana yang masih mandek.

“Yang jelas kalau kemampuan saya dengan pak kadis sudah tidak mampu mengambil di luar, artinya kita butuh duduk bersama dengan pemerintahan kota,” katanya. (ap)

Laporan: Adi Pranata

Silakan komentar Anda Disini....
(Visited 44 times, 1 visits today)