Arkom dan Penyintas Tompe Donggala Mulai Bangun Huntap

  • Bagikan
Bupati Donggala meletakan batu pertama pembangunan Huntap relokasi mandiri Penyintas Tompe dampingan Arkom di Desa Balemtuma, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Sabtu (10/04/2021). (Foto: Adi Pranata/KabarSelebes.ID).

DONGGALA, Kabar Selebes – Relawan Arsitek Komunitas (Arkom Palu), yang berada di bawah naungan Yayasan Arsitek Indonesia (YAI) bersama masyarakat penyintas di Desa Tompe Donggala membentuk kelompok masyarakat sebagai Tim Pembangunan Kampung (TPK). Setelah melewati proses yang panjang pasca bencana 28 September 2018, penyintas bersama tim YAI akhirnya mulai membangun hunian tetap (Huntap).

Pembangunan hunian pejuang relokasi mandiri itu ditandai dengan upacara peletakan batu pertama Sabtu, (10/04/2021) di Desa Balemtuma, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala. Peletakan dilakukan langsung oleh Bupati Donggala, Kasman Lassa. 

Abdi Saputra, Tim Sosial (CO) relawan Arkom mengatakan ada 15 Keluarga memilih relokasi mandiri. Dia bilang proses menemukan lokasi yang cocok sebagai hunian dengan kriteria zona aman, aman dari banjir Rob, dekat dengan kegiatan ekonomi, dan terjangkau adalah sebuah perjuangan tersendiri.

Bukan tanpa sebab, sudah 12 kali kelompok relokasi mandiri mengalami kegagalan dalam upaya mendapatkan lokasi yang cocok. Walakin, berkat semangat, kesabaran, sikap yang konsisten, dan upaya yang dilakukan terus-menerus, akhirnya penyintas menemukan lokasi yang cocok dalam wilayah administrasi desa Balemtuma yang bersebelahan dengan desa Tompe.

“Pembangunan hunian tetap relokasi mandiri ini akan dibangun oleh para pemiliknya dengan teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA), yaitu struktur Rumah Tahan Gempa (RTG) dengan model bongkar pasang,” ujarnya.

Diketahui peristiwa bencana alam, gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Palu, Sigi dan Donggala (PASIGALA) masih menyisakan banyak pekerjaan rumah (PR), terutama di wilayah pesisir barat. Salah satu daerah yang terdampak adalah desa Tompe, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala.

Abdi bilang, ide baik pembentukan TPK segera disambut dan didukung oleh pemerintah desa Tompe. Upaya-upaya pemulihan segera dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan hingga akhirnya mulai membangun Huntap.

“TPK ini bertugas sebagai motor penggerak dalam mengorganisir warga untuk melakukan pendataan, perencanaan, pembangunan termasuk kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Spirit dan semangat ‘Mosinggani Mombangu Ngata’ bersama-sama kita membangun kampung menjadi semboyan dan penyemangat bekerja,” ujarnya.

–              ‘Home’ Bukan ‘House’

Senada, Direktur Arkom Indonesia, Yuli kusworo mengatakan semangat TPK itu terwujud berkat komitmen dari warga. Dengan total dana 50 juta untuk satu hunian, sebagian pekerjaan huntap dilakukan swadaya oleh kelompok masyarakat. Hal inilah yang menurut Yuli, membuat penyintas bisa membeli tanah relokasi mandiri karena tidak terlalu terbebani untuk membayar tukang.

“Dari 50 juta itu, kan 40 juta untuk material, 10 juta untuk ongkos tukang. Nah yang dipakai untuk beli tanah itu ngambil dari ongkos tukang,” katanya.

Arkom, lanjut dia, dalam hal ini hanya menjebatani penyintas yang tidak terbebani dengan skema pemerintah untuk relokasi mandiri. Terutama untuk masyarakat pesisir Tompe yang tidak bisa jauh dari tempat mata pencaharian.

Selain itu, dengan pendampingan yang intens sejak tahun 2019, Huntap yang akan segera berdiri ibarat ‘Home’ bagi penyintas. Masyarakat menurut Yuli lebih memiliki rasa memiliki huntap yang dibangun.

“Arkom merasa bahwa membangun rumah itu ibarat Home, bukan membangun house. Bukan benda mati. Membangun Home itu kan feel,” ujar Yuli.

–              Pemerintah Jamin Fasilitas

Bupati Donggala Kasman Lassa mengapresiasi penuh apa yang dilakukan penyintas Tompe bersama Arkom. Komitmen masyarakat berkat dampingan Arkom menurutnya patut untuk dijadikan contoh.

Kasman pun mengakui segala prasarana dan fasilitas di Huntap akan dilengkapi oleh pemerintah. “Sudah pasti kita siapkan (Fasilitas) karena di situ ada dana desa. Dana desa itu bisa digunakan untuk listrik bagi warga, termasuk pemerintah juga nanti mempersiapkan jalan,” katanya.

Ferdy, salah satu anggota kelompok Mosinggani desa Tompe berharap bisa bekerja sama dengan berbagai pihak agar proses membangun hunian segera selesai terutama infrastrukturnya. (ap)

Laporan: Adi Pranata

Silakan komentar Anda Disini….
  • Bagikan