Ramadhan Berkualitas

  • Bagikan
Umat Muslim membaca Al Quran saat hari pertama puasa Ramadhan di Masjid Agung Sudirman, Denpasar, Bali, Senin (6/5/2019). Pada hari pertama puasa, umat Muslim memanfaatkan waktu menunggu berbuka puasa dengan melakukan ibadah seperti tadarus atau membaca kitab suci Al Quran(ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)

BERSYUKURLAH kalau Anda diberi kesempatan menjadi tamu  ramadhan. Soalnya tak  semua orang bisa beribadah di bulan  agung ini. Alasannya mungkin saja karena sakit  permanen, atau juga karena kadar keimanan masih labil. Berterima kasihlah pada Allah SWT memberikan umur kesehatan dan tingkat keimanan  yang konstan dan terjaga sehingga kita bisa menikmati hadiah Allh ini semaksimal mungkin. 

Umur ramadhan cukup singat, hanya bilangan  30 atau 29 hari saja. Karena itu  kelola waktu ramadhan ini sebaik mungkin agar ramadhan bermakna. Sejatinya  setiap muslim pasti menginginkan agar Ramadhannya berkualitas, bukan sekedar tentang menahan lapar dan haus. Setiap muslim menginginkan agar Ramadhannya benar-benar menjadi wadah meraup pahala sebanyak-banyaknya di sisi Allah Ta’ala.

 Adalah sebuah kekeliruan  ketika sebagian orang begadang sepanjang malam pada bulan Ramadhan. Seseorang hendaknya membagi waktu malamnya untuk tidur, karena tidur malam tidak sama dengan tidur siang. Ada hamba yang kuat begadang – biasanya usai bertarwih menggelar majelis cerita – dalam mana  majelis tersebut didominasi oleh senda gurau, canda tawa, bahkan mereka terjerumus ke dalam ghibah dan namimah, perkataan dusta dan semacamnya. Semua ini tidak pantas bagi seorang Muslim pada seluruh waktunya apalagi pada bulan ini. Sungguh kerugian besar bila seorang hamba berbuat baik, kemudian ia rusak sendiri dengan kemaksiatan dan dosa.

Maka Ramadhan kita sejatinya adalah  waktu yang berkualitas. Implikasinya adalah dalam pengisian aktivitas ibadah  menjadi refleksi kreatif terhadap nilai setiap detik waktu yang dilewati oleh seseorang. Persoalannya acap kali seseorang bertindak mengabaikan arti penting waktu.

 Ramadhan berkualitas adalah bermuara pada motivasi sekaligus warning arti penting manajemen waktu. Paling tidak ada dua hal penting keterkaitan pemanfaatan waktu  di bulan Ramadhan: Pertama, maksimalisasi ibadah Ranadhan secara terstruktur, dan kedua, persiapan subtansial dalam menghadapi kisi kisi penting  ramadhan itu sendiri, seperti tadarus quran dan lain sebagainya. .

Menata wktu  ramadhan berkualitas haruslah melibatkan kelurga utuh,  Bapak, ibu dan anak sekaligus. Maka  peran ayah sebagai kepala keluarga sangat strategis untuk meningkatkan kualitas puasa mereka. Seorang ayah harus mampu menjadi tauladan bagi keluarganya di dalam menunaikan ibadah di bulan Ramadhan. Keteladanan itu bukan saja berbuat tetapi dapat mendeskripsikan semua ibadah yang ditunaikan di bulan Ramadhan dengan mengatur saat kapan untuk melakukan apa itu menjadi lebih penting menuju kualitas ibadah.

 Misalnya, harus dengan kreatif menyusun peruntukan waktu yang diperlukan untuk memenuhi ibadah sunat yang meliputi mentakhirkan makan sahur, iktiqaf di masjid, bersedekah, membaca Alquran, menyegerakan berbuka saat tiba waktunya, memperbanyak istighfar dan zikir kepada Allah dan lainnya.

Aktivitas itu dapat sejalan ditunaikan bersamaan dengan ibadah puasa yang dilakukan tentu saja dengan pengaturan waktu yang berkualitas di mana letak waktu dan sasaran ibadah terpadu, sehingga nilai ibadah pun menjadi maksimal. Seorang ayah harus hadir menjadi inspirasi bagi lainnya untuk memaksimalkan ibadah sehingga tidak ada yang terluput untuk dikerjakan.

Pun  peran seorang ibu menjadi penentu kreatif untuk mendorong suasana ibadah puasa dalam keluarga itu mencapai substansi ibadah yang maksimal dalam arti terpenuhi semua pesan ibadah dengan juga melaksanakan aktivitas keseharian di dalam memenuhi kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.

Kehadiran personalitas seorang ibu yang kreatif dalam mengelola kualitas ramadhan akan turut mewarnai atmosfir ibadah yang maksimal dari segala sudut kerja. Penyajian penganan berbuka dan atau santapan sahur time tentu akan menyajikan hidangan yang dapat menambah suasana keceriaan apa detik-detik berbuka.

Dengan demikian, nilai puasa di sisi Allah akan sangat bergantung pada kualitasnya. Semakin puasa berkualitas, semakin tinggi nilainya di sisi Allah. Sebaliknya, puasa yang kualitasnya sekedar menahan lapar dan haus, ia tidak bernilai apa-apa di sisiNya. Persis seperti sabda Nabi: Betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa baginya kecuali rasa lapar. (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah). Demikianlah tips ini semoga berfaedah dan selamat mencoba. Wallahul Mustaan. (H. Darlis Muhammad)

Silakan komentar Anda Disini….
  • Bagikan
Read previous post:
Miliki 4,18 Gram Sabu, Oknum ASN di Morowali Dibekuk Polisi

MOROWALI, Kabar Selebes - Kedapatan memiliki 4,18 gram narkoba jenis sabu, seorang oknum Aparatur Sipil...

Close