Di Momen Hari Kartini, Dwi Prihandini Luncurkan Buku “Kedukaan”

  • Bagikan
Direktur Clerry Cleffy Institute Dwi Prihandini

JAKARTA, Kabar Selebes – Tepat di hari Kartini 2021, Direktur Clerry Cleffy Institute Dwi Prihandini meluncurkan buku yang berjudul “Kedukaan” di Kunstkring, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (21/4/2021).

Buku ini menceritakan tentang pengalaman dirinya menghadapi kedukaan setelah suaminya Clerry Cleffy meninggal dunia pada tanggal 21 November 2015.

Dalam buku ini juga digambarkan bagaimana dirinya bisa bangkit dari keterpurukan, bisa berdaya dengan sumber daya yang dimiliki dan bisa berdampak pada orang di sekitarnya.

Menurut Dwi Prihandini proses penulisan buku ini memakan waktu lima tahun.

“Saya menulis buku ini dua minggu setelah CLERRY CLEFFY meninggal dunia. Sembari menjalani masa berduka dan sembari mengelilingi Maluku terkait pelayanan kemanusiaan,” ucap Dini usai meluncurkan buku “Kedukaan” yang dihadiri perwakilan Komnas Perempuan dan kerabat dekatnya.

Awalnya kata dia, dirinya berkeliling Maluku untuk menghibur hati. Namun, sepanjang pelayanannya Ia melihat kesenjangan yang terjadi di pelosok Maluku khususnya pada anak-anak disabilitas. Melihat hal itu, Ia kemudian bangkit dan membantu kelompok marjinal dan anak-anak disabilitas di Maluku.

Menurutnya, pelayanan CLERRY CLEFFY Institute sungguh tidak mudah. Persoalan demi persoalan mendera dirinya bertubi-tubi selama lima tahun ini.

“Saya punya pilihan untuk berhenti namun yang saya lakukan justru memacu diri saya untuk terus melayani Maluku dan menghasilkan karya-karya untuk Maluku,” ungkap Dwi Prihandini yang juga sebagai Direktur Shedini Anugerah Pelangi.

Hari demi hari berlalu, lanjut dia, bulan demi bulan usai, tahun demi tahun sirna. Perempuan yang juga menjabat sebagai Direktur Shedini Sparta Spektra ini banyak belajar dari Maluku tentang bagaimana mencintai Maluku sepenuh hati dan bagaimana melarungkan rasa duka mendalam menjadi sebuah nadir untuk bangkit berdaya dan berdampak.

Bagi Konsultan, asesor dan pengajar pengembangan sumber daya manusia ini, bangkit, berdaya dan berdampak bagi seseorang yang mengalami kehilangan, kedukaan, sungguh merupakan sebuah proses yang panjang.

“Saya melalui prosesnya, menyangkal, marah, menyesuaikan diri, sampai akhirnya nrimo atau menerima bahwa inilah hidup yang Tuhan berikan pada saya,” tukasnya.

Ia berharap kisah tentang kedukaan dan Maluku dapat menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan yang mengalami kedukaan agar mereka tetap dapat melanjutkan hidup menjadi perempuan yang memiliki kasih karena seyogyanya seorang perempuan merupakan sumber kasih dalam kehidupan.

Semangat dan kasih Raden Ajeng Kartini yang Ia petik bukan sekedar tentang kesetaraan melainkan juga semangat dan kasih bahwa perempuan dapat menjadi kekuatan bagi perempuan lainnya sehingga perempuan bisa bangkit dari keterpurukannya, berdaya dengan sumber daya yang dimilikinya, dan berdampak bagi sekelilingnya.

“Karya ini saya persembahkan bagi dua ciptaan Tuhan yaitu almarhum Clerry Cleffy dan anjing kesayangan Noah serta untuk siapapun yang mengalami kedukaan dan untuk perempuan-perempuan yang saat ini tengah berjuang bangkit dari keterpurukan. Maju Perempuan Perempuan Indonesia!,” tegasnya.(sl/abd)

Laporan : Sarifa Latowa

Silakan komentar Anda Disini….
  • Bagikan