Kisah Pilu Penyintas Bencana, Tiga Kali Bulan Puasa di Huntara

oleh -
Beberapa penyintas menunggu waktu berbuka puasa di Huntara Kelurahan Pengawu, Kota Palu.

PALU, Kabar Selebes – Siti Mardiah (41) duduk asik sembari membakar ayam potong bersama anaknya yang berusia 10 tahun di depan teras hunian sementara (Huntara) di Kelurahan Pengawu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu. Ayam pemberian tetangga kini siap jadi menu bersama keluarganya untuk berbuka puasa di hari ke 15.

“Alhamdulillah kebetulan tetangga tadi ada tahlilan jadi kami diberikan ayam,” kata perempuan kelahiran Ciamis Jawa Barat ini ditemui KabarSelebes.ID, Senin (22/04/2021).

Siti merupakan penyintas gempa Palu 28 september 2018. Sudah tiga kali bulan puasa dia bersama suami, Sulaono (43) beserta dua orang anaknya hidup di Huntara. Usai bencana gempa, tsunami, likuifaksi, tiga tahun lalu, bahkan sudah dua kali dia berpindah tempat tinggal.

Siti bercerita sebelumnya dia dua tahun tinggal di Huntara kelurahan Tavanjuka. Yang membikin dia harus pindah di tempat itu sebab tanah kontrakan Huntara telah habis. Pemilik tanah jauh hari, tepatnya sebelum tahun baru 2021 mengingatkan penyintas harus mencari tempat yang baru.

“Ada itu peringatan ditempel, sebelum tanggal 31 Desember 2020 Huntara ini harus dikosongkan,” kata Siti mencoba mengingat pengumuman yang tertempel di dinding Huntara sebelumnya.

Oleh sebab itu, mau tak mau Siti bersama kurang lebih 34 kk lainnya harus mencari tempat baru di awal Januari. Sampai akhirnya dibantu salah satu lembaga swadaya masyarakat dia bersama 7 KK yang bernasib sama pindah dari Huntara Tavanjuka ke Huntara Pengawu.

Siti agaknya kurang beruntung. Tak seperti penyintas lain yang telah mendapat bantuan berupa dana Stimulan dan Hunian tetap (Huntap). Dia bukannya tak mau berusaha, yang bikin dirinya tak mendapatkan bantuan itu ialah sebelum bencana terjadi, dia bersama suami hanya mengontrak rumah tak jauh dari pasar inpres jalan Cempedak, Kelurahan Balaroa.

Untuk menyambung hidup pasca bencana pun dia bercerita susahnya minta ampun. Suaminya hanya pekerja meubel dengan gaji pas-pasan. Sementara Siti hanya membuka kios kecil-kecilan di Huntara yang belakangan tutup sebab bulan puasa.

“Terus terang memang aku ndak punya rumah kasian, untuk sementara ini memang bakontrak nda ada uang,” tuturnya.

Stimulan merupakan dana yang disiapkan pemerintah bagi penyintas yang rumahnya rusak berat dan ringan. Begitu juga Huntap, diprioritaskan bagi penyintas yang rumahnya hancur akibat gempat. Siti tak ada opsi untuk memilih satu di antaranya. Dia hanya bisa pasrah menunggu kepastian dari pemerintah.

“Ini juga kasian habis lebaran ini kita disuruh pergi dari sini. Kita bingung mau ke mana. Ba kontrak kan nda mungkin nggak ada uang,” ucapnya lirih. (ap)

Laporan: Adi Pranata

Silakan komentar Anda Disini....