Keluh Kesah Pedagang Pakaian Muslimah Palu di Masa Pandemi Selama Ramadhan

  • Bagikan
Tampak kondisi tempat dagangan milik Masniah di Pasar Sentral Inpres Manonda Palu, Sulawesi Tengah, yang terlihat lengah dari aktifitas pembeli, Kamis (6/5/2021). (Foto : Alsih Marselina/KabarSelebes.id)

PALU, Kabari Selebes – Bulan suci Ramadhan hingga perayaan Idul Fitri merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu. Terlebih lagi bagi para pedagang sembako hingga pakaian.

Namun, berbeda dengan bulan suci Ramadhan dan perayaan Idul Fitri yang sudah dua tahun terakhir ini dirayakan dalam kondisi di masa pandemi Covid-19, yang harus dijalani dengan segala pembatasan. Menyusul adanya aturan pemerintah yang membatasi segala aktifitas masyarakat diluar rumah.

Kondisi itu, tentu berdampak terhadap pendapatan bagi para pedagang. Terkhusus pedagang pakaian muslimah di Pasar Sentral Inpres Manonda Palu, Sulawesi Tengah, yang mengalami penurunan pendapatan sangat drastis selama dua kali perayaan bulan suci Ramadhan hingga Idul Fitri sejak dua tahun terakhir di masa pandemi, karena adanya pembatasan aktifitas masyarakat untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Kepada KabarSelebes.id, Masniah yang merupakan pedagang hijab di Pasar Sentral Inpres Manonda Palu menceritakan keluh kesahnya selama perayaan bulan suci Ramadhan hingga Idul Fitri sejak dua tahun terakhir di masa pandemi Covid-19, yang menjadi momen untuk mengais rejeki.

Dia mengaku momen perayaan bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri tempat dagangannya selalu dibanjiri masyarakat yang ingin membeli pakaian Muslimah.

“Berbeda dengan dua tahun terakhir di masa pandemi Covid-19, tempat dagangan saya sepi dari pembeli. Makanya pendapatan saya menurun drastis,” keluh Masniah, Kamis (6/5/2021).

Dia mengatakan, kondisi itu tidak hanya dialaminya, namun para pedagang pakaian muslimah lainnya juga turut merasakan imbas dari hal tersebut.

Momen bulan suci Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri sebelum adanya Covid-19, tempat dagangannya sering kali dibanjiri pembeli hingga tiga kali lipat.

Wajar jika dirinya meraup pendapatan hingga Rp 20 juta sebelum adanya Covid-19.

“Tetapi dua tahun terakhir pada saat bulan suci Ramadhan dan menjelang Idul Fitri pendapatan saya menurun drastis hingga 60 persen, karena adanya Covid-19,” katanya.

Tak mau menyerah dengan kondisi saat ini, dirinya dan para pedagang pakaian muslimah lainnya tetap memilih untuk berjualan.

Bahkan, dirinya menambah stok barang dagangannya, agar tetap berdagang.

Dia menyebutkan, pakaian muslimah seperti hijab di tempat dagangannya dijual dengan harga bervariasi. Mulai dari harga Rp 70 ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung jenis dan motifnya.

“Meski di tengah situasi yang sulit, kami tetap memilih untuk berjualan dan menambah stok barang dagangan,” pungkasnya. (am/rlm)

Laporan : Alsih Marselina

Silakan komentar Anda Disini….
  • Bagikan