Terkait Penanganan Pascabencana, Gubernur Rusdi : Jangan Menari Diatas Penderitaan Rakyat

  • Bagikan
Suasana rapat perdana Gubernur Sulteng, Rusdi Mastura dan Wakil Gubernur Sulteng, Ma’mun Amir bersama unsur Forkopimda di ruang kerja gubernur, Selasa 22/6/2021). (Foto : Dok Humas Gubernur Sulteng)

PALU, Kabar Selebes – Gubernur Sulteng, Rusdi Mastura merasa prihatin dengan penanganan bencana yang belum tertangani dengan serius.

“Saya minta janganlah kita menari nari di atas penderitaan rakyat,” kata Rusdi Mastura saat memimpin rapat perdana Forkopimda di ruang kerjanya, Selasa, (22/6/2021).

Pada kesempatan itu, Rusdi Mastura juga menegaskan, jika terjadi pelanggaran dalam penanganan proyek bencana agar diproses dengan baik.

“Saya mau jadi gubernur tujuan saya adalah bagaimana memulihkan dampak bencana yang terjadi,” ucapnya.

Dia mengatakan, Presiden Joko Widodo meminta agar penanganan pandemi covid-19 di Sulteng dilakukan secara cepat dan serius.

“Saya diberikan petunjuk langsung oleh bapak presiden untuk mempercepat penanganan Covid-19. Penanganan covid harus kita tangan dengan sangat serius,” katanya.

Dia juga menyampaikan bahwa seluruh permasalahan harus selesaikan dengan kebersamaan baik secara formal dan informal.

“Saya sangat bangga bahwa unsur Forkopimda semuanya sangat kompak untuk bersama – sama untuk membangun daerah ini,” ujarnya.

Pada kesempatan itu Gubernur Rusdi Mastura memberikan kesempatan kepada seluruh unsur Forkopimda untuk menyampaikan kondisi yang berkembang sesuai dengan fungsi masing – masing.

Dimulai dari Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Pol Abdul Rakhman Baso. Dia menyampaikan dari  segi keamanan Sulteng dalam kondisi yang kondusif.

Terkait dengan dukungan penanggulangan covid -19, Polda Sulteng terus melakukan pendisiplinan masyarakat dan mendukung program vaksinasi sesuai dengan target Nasional.

Kapolda juga menyampaikan untuk situasi di Kabupaten Poso, dari 13 Kecamatan ada lima kecamatan dalam kondisi tidak aman.

Dia menjelaskan, aksi teror yang dilakukan bukan permasalahan SARA atau agama, tetapi murni karena faktor Idiologi, tidak mengakui idiologi bangsa yang sah. Karena faktor dendam dan ketimpangan pembangunan.

Untuk menumpas kelompok teroris di Poso saat ini dibentuk Operasi Madago Raya.

Dia juga menyampaikan ada stigma yang berkembang di masyarakat bahwa seolah -olah kondisi Poso saat ini karena dipelihara.

“Saya tegaskan saya sebentar lagi akan pensiun tidak ada unsur pembiaran disana, tolong stigma ini agar dihentikan,” ucap Abdul Rakhman Baso. (nur/abd)

Kaporan : Nurlela

Silakan komentar Anda Disini….
  • Bagikan
Read previous post:
Lemhannas RI Bahas Isu Strategi Nasional di PT IMIP

MOROWALI, Kabar Selebes - Kawasan Industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mendapat kunjungan rombongan...

Close