Dapur Umum ‘Warga Bantu Warga’, Cara Warga di Langaleso Merdeka dari Covid-19

  • Bagikan
Sejumlah ibu-ibu menyiapkan makanan untuk warga isoman di dapur umum di Dusun 1 Desa Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (16/08/2021). (Foto: Adi Pranata/KabarSelebes.id)

SIGI, Kabar Selebes – Tangan Siti Badriah (46) cekatan menanak nasi di sebuah dandang besar. Gelak tawa dan celotehan sesekali terdengar. Siang bolong di bulan kemerdekaan, ia bersama ibu rumah tangga lainnya sibuk memasak di sebuah rumah warga tepatnya di Dusun 1 Desa Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi.

“Ini hari ke empat kami menyiapkan makanan untuk warga Isoman (Isolasi Mandiri),” kata Siti, Senin (16/08/2021). 

Dapur umum dengan nama “Warga bantu Warga” itu diiniasi oleh warga bersama Babinkamtibmas, dan relawan “Sigi Mosijagai” (Sigi Saling Bantu). Warga bersepakat untuk mendirikan dapur umum akibat banyak warga di Desa yang itu terpapar Covid-19.

Sejak awal Agustus, sudah 40 warga di Langaleso yang terpapar virus asal tiongkok itu. Dua di antaranya bahkan harus meregang nyawa di rumah sakit. Puluhan warga terpapar virus diduga usai mengunjungi sebuah hajatan pesta pernikahan akhir Juli lalu. 

Irmawati Kepala Puskesmas Dolo mengatakan, banyak warga yang diketahui positif Covid-19 akibat swab massal yang dilakukan dua tahap beberapa pekan lalu. Ia sanksi kasus diketahui jika langkah itu tidak diambil. Alasannya, kata dia, banyak warga yang sakit menutup diri untuk memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat.

Yang benar saja, sebagian besar warga mengaku terpapar virus corona usai mengunjungi hajatan pesta pernikahan. Karena kondisi rumah sakit yang sudah kolaps, puluhan warga itu harus menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Kabar inilah yang membuat warga memutuskan untuk mendirikan dapur umum. Mereka membulatkan niat tulus mereka untuk membantu sesama meski dihantui rasa takut terpapar virus.

Dapur umum itu mulai beraktivitas sejak jam 06:00 Wita. Meski pagi buta, Siti bilang ia tak melupakan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Sebelum berangkat ia menyelesaikan pekerjaan rumahnya mulai menyiapkan makanan dan mengurus anak-anak. “Pagi-paginya kan biasa masak bubur saja,” ujar dia.

Siti bersama belasan ibu rumah tanggga berganti peran memasak untuk menghindari kerumunan. Lauk pauknya juga variatif. Terkadang kondisional sesuai dengan kesediaan bahan yang tersisa.

Dalam sehari dapur umum menyiapkan ratusan nasi bungkus. Untuk memenuhi kebutuhan itu tak sedikit bahan makanan yang dibutuhkan. Sehari hampir 30 Kg beras dihabiskan. Belum lagi kebutuhan memasak lainnya. Perlu biaya yang cukup agar asap dapur umum terus mengepul.  “Dalam tiga hari ini hanya biaya kami sendiri yang keluar,” ujar Siti Badriah.

Beruntung gerakan ‘Warga bantu Warga’ mendapat simpatik dari berbagai pihak. Maya Safira, relawan Sigi Mosijagai mengatakan, di hari ke empat satu persatu sumbangan akhirnya mulai masuk dari masyarakat lainnya. Mulai dari beras, sayur-sayuran, dan minyak goreng perlahan bantuan itu terus mengalir mengisi ketersediaan di dapur umum.

“Umpamanya ada warga di Desa Kotarindau mendonasikan sayur untuk dapur umum. Ada juga dari organisasi-organisasi maupun luar kabupaten Sigi itu juga sudah mulai mendonasikan,” kata dia.

Tak hanya ibu-ibu. Peran bapak-bapak juga tak kalah penting di Dapur umum itu. Adalah Aswadin, Babinkamtibmas bersama ketua RT 01, Desa Langaleso Hermanto yang punya mobilitas tinggi untuk mengantarkan paket makan untuk warga isoman tiga kali sehari.

Sejak berdiri hingga, Senin (16/08) dapur umum itu mendata ada 50 warga yang menjalani isolasi mandiri. Puluhan warga itu tak hanya dari Desa Langaleso. Makanan juga diantarkan untuk desa tetangga yang membutuhkan.

Terkait warga yang menjalani isolasi mandiri, Kepala Desa Langaleso Nurlin Haruna mengatakan, saat ini sudah ada lima orang yang dinyatakan sembuh. Ia juga sangat bersyukur warga setempat mau bergotong royong membantu sesama dengan mendirikan dapur umum. Terlebih kondisi ekonomi warga setempat yang lesu karena banyak yang tak bisa beraktivitas karena isoman.

Diketahui juga ini bukan pertama kalinya warga di Langaleso mendirikan dapur umum. Saat Gempa, Tsunami, Likuefaksi di Palu dua tahun lalu warga juga mendirikan dapur umum untuk membantu warga.

Bagi Siti Badriah sendiri menjadi sukarelawan untuk urusan kemanusiaan adalah suatu keharusan. Mengerjakan segala sesuatu, menurut dia, tak harus melulu soal mendapat imbalan. “Kalau jadi sukarelawan kan yang diambil bukan nama yang di depan ya, kita ambil akhiratnya aja,” tuturnya. (ap)

Laporan: Adi Pranata

Silakan komentar Anda Disini….
  • Bagikan